Perang Israel dan kelompok perlawanan pembela Palestina Hamas, Hizbullah dan lainnya tampaknya sulit diprediksi kapan akan berakhir. Bahkan perang ini telah memicu pula pertikaian antara Israel dan Iran. Hingga kedua negara ini telah saling serang pada 1 Oktober 2024 dan 26 Oktober 2024 lalu. Pada Selasa (1 /10/2024) Iran menembakkan 200 rudal balistik ke Tel Aviv. Selang 25 hari kemudian, pada Sabtu (26/10/2024) Israel menyerang Teheran, ibu kota Iran, dengan menggunakan pesawat udara. Iran pun kini mengancang-ancang untuk melakukan pembalasaan pada zionis Israel. Keduanya berkilah untuk saling mempertahankan diri atau defensif.
Perang akut di Timur Tengah ini tampaknya telah menimbulkan krisis kemanusiaan. Ribuan manusia yang mati dan terluka akibat perang yang menghancurkan, tapi tidak ada upaya untuk segera menghentikan perang yang menimbulkan kesengsaraan manusia ini. Mereka tidak lagi tergugah dan tersentuh hatinya melihat kematian massal rakyat sipil, kota-kota dan bangunan yang hancur, serta rakyat hidup menderita tidak punya tempat tinggal, mereka terluka parah dan kelaparan yang menyedihkan. Namun, tidak ada yang mampu untuk menghentikan mesin perang. Kalaupun ada yang berusaha menghentikan hanya sebatas kata-kata, baik berupa himbauan maupun kutukan.
Di Lebanon, sejak penjajah Israel melancarkan operasi darat yang diselingi serangan udara dan roket pada 1 Oktober 2024 lalu telah menyebabkan 2000 orang tewas. Negara yang dipimpin Benyamin Netanyahu yang oleh Mahkamah Internasional dituduh melakukan genosida di Gaza ini bukan hanya menyerang Hizbullah, tapi pasukan perdamaian UNIFIL pun dihantamnya, bahkan sempat melukai utusan tentara perdamaian dari Indonesia.
Kekejaman perang ini tampak hanya dalam selang tiga hari serangan udara Israel di Lebanon , dari tanggal 23 September 2024 hingga 26 September 2024 telah menewaskan 800 orang. Sebuah pembunuhan yang luar biasa sadis.
Perang terkadang tidak memperdulikan siapa lawan dan korbannya. Sejak perang Hamas-Israel 7 Oktober 2023 lalu hingga kini telah 42.847 orang tewas di jalur Gaza. Bukan hanya milisi yang jadi korban, tetapi juga rakyat sipil, perempuan dan anak-anak.
Koordinator PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Tor Wennesland, yang sempat menyaksikan kehancuran perang di Gaza, mengatakan, “Pemandangan kehancuran dan penderitaan masyarakat di Gaza sangat menyayat hati, perlu tindakan untuk meringankan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.”
Koordinator Senior Kemanusiaan dan Rekonstruksi PBB untuk Gaza, Sigrid Kaag, juga punya kesan yang sama. Ia melihat serangan Israel di Gaza telah menyebabkan penderitaan.
“Warga sipil Palestina di Gaza telah terjerumus ke dalam jurang penderitaan. Rumah mereka hancur, kehidupan mereka berubah. Sistem kesehatan di Gaza telah runtuh, sekolah-sekolah jadi puing. Di Gaza tidak ada tempat yang aman,” ujarnya.
Kelaparan salah satu yang mengancam di Gaza saat ini. Program Pangan Dunia (WPP) telah mengeluarkan peringatan akan adanya ancaman kelaparan di Gaza. WFP mengingatkan, satu juta orang berisiko kehilangan dukungan vital jika aliran bantuan tidak dilanjutkan.
“Saat musim dingin tiba, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Kelaparan masih merajalela dan ancaman bencana kelaparan masih ada,” kata WFP.
Bantuan yang memasuki jalur Gaza telah menurun drastis dalam beberapa bulan, yang memaksa WFP menghentikan distribusi paket makanan pada bulan Oktober ini.
Pemandangan yang menyedihkan sering terlihat di Gaza, warga berdesak-desakan berebut makanan. Sebuah video di Gaza Selatan memperlihatkan ribuan orang mengantri berebut makanan hanya untuk mendapatkan sepotong roti.
Bahkan, banyak kaum ibu di Gaza terpaksa harus menjual perhiasan emasnya hanya untuk membeli makanan. Samia Ahmad, seorang perempuan di Gaza, terpaksa menjual perhiasaan emas yang diwarisi dari orang tuanya hanya untuk membeli makanan. Harga emas itupun di Gaza jatuh hanrganya menjadi murah. Ia menjualnya di Kota Khan Younis, Gaza Selatan, tempatnya mengungsi. Sebelumnya ia tinggal di Ghaza City, Gaza Utara.
“Cincin itu adalah warisan ibu saya yang telah meninggal. Saya tidak pernah berfikir untuk menjualnya, tetapi anak-anak saya kelaparan, saya membutuhkan uang untuk membelikan mereka makanan. Kenangan tidak bisa menyelamatkan kami dari kematian dan kelaparan,” ujar Samia sedih.
Samia bercerita, suaminya tidak bisa membantu karena kaki kanannya terputus ketika zionIs Israel menyerang pasar Khan Younis yang mengenai kakinya ketika ia berada di pasar tersebut. Ia kehilangan tulang punggung penopang perekonomian keluarganya.
Hal yang sama dilakukan Alia Amin, ibu tujuh orang anak yang terpaksa menjual perhiasan emasnya untuk membeli makanan. Alia Amin berasal dari desa Deir al-Balah. Keluarga ini tinggal di Al-Mawasi, daerah pesisir barat kota Rafah. Suaminya tewas ketika penjajah Israel melakukan serangan udara di kota Rafah.
“Kami harus melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk bertahan hidup. Saya baru saja menjual perhiasan emas saya yang terakhir untuk membeli tenda, dan saya tidak tahu lagi bagaimana mengatasi keadaan bila uang hasil penjual perhiasan saya ini habis,” ucapnya, dengan nada cemas.
Peperangan juga menyebabkan terjadinya pengungsian. Karena pemukiman rakyat diancam untuk diserang. Ini adalah penderitaan lain dari terjadinya peperangan. Di Lebanon diberitakan sekitar 430.000 warga harus meninggalkan kampung halamannya mengungsi ke Suriah ketika konflik Israel-Hisbullah meningkat.
“Seperlima dari populasi Lebanon telah mengungsi. Sebanyak 430.000 orang telah menyeberang ke Suriah, 30 persen warga Lebanon, dan 70 persen warga Suriah,” jelas UNHCR, Badan Pengungsi PBB.
Sementara itu melihat kekejaman perang di kawasan Timur Tengah ini Hamas telah mengeluarkan pernyataan yang intinya menuntut pertanggungan jawab para pemimpin negara-negara Islam. Hamas menyatakan tidak cukup hanya sekedar pernyataan mengutuk atau mengecam tindakan keji dan kejam tentara pendudukan Israel di Gaza.
Hamas menyatakan bosan dengan kutukan dan kecaman negara-negara Islam tersebut, dan menyerukan para pemimpin Arab dan Islam menegakkan tanggung jawab atas perang genocida oleh zionis Israel di Gaza.
“Para pemimpin negara-negara Arab dan Islam untuk menegakkan tanggung jawab mereka, dan tidak hanya menyetujui dengan pernyataan kutukan. Seharusnya mengambil tindakan untuk menghentikan perang genocida dan pembersihan etnis yang dialami rakyat kami,” sebut Hamas.
Begitulah akibat perang yang membuat manusia menderita dan merasakaan kepedihan, bagaimana mungkin negara yang begitu banyak di dunia ini tidak mampu menghentikan perang yang hanya dilakukan beberapa negara yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, yang tidak mau patuh untuk menghentikan perbuatan yang mengerikan kemanusiaan ini. Akankah pemusnahan manusia dan penderitaan manusia ini akan terus berlangsung tanpa ada tanda-tanda perang akan berhenti?