Beberapa waktu lalu, istilah “londo ireng” muncul lagi ke permukaan. Suatu istilah untuk menyindir orang Indonesia yang dianggap bekerja bagi kepentingan asing. Ucapan itu diarahkan kepada kalangan wartawan, pengamat, dan LSM—meski kemudian diklarifikasi bahwa yang dimaksud hanyalah “oknum”.
Hari kemarin, bangsa ini berpesta karena tim nasional menjuarai Piala ASEAN FIFA. Para pemain naturalisasi berwajah Eropa dipuja-puji. Namanya diteriakkan, fotonya dipasang, dan setiap sentuhan bolanya dijadikan bukti cinta tanah air. Tiba-tiba “londo” selama mampu mengoper bola tepat kepada kawan dan tidak mengoper kritik kepada pemerintah, ia bukan ancaman malah menjadi pahlawan..
Di sinilah nasionalisme kita tampak seperti petugas stadion: memeriksa kostum, bukan isi kepala. Orang berkulit sawo matang yang mengkritik kekuasaan dapat dicurigai sebagai antek asing; orang bermata biru yang mencetak gol segera diterima sebagai anak bangsa. Rupanya kadar keindonesiaan tidak lagi diukur dengan KTP, pengabdian, atau keberanian menjaga kepentingan publik, melainkan dengan papan skor.
Fredrik Barth dalam Ethnic Groups and Boundaries (1969) menjelaskan bahwa identitas kelompok dibentuk melalui batas antara “kita” dan “mereka”. Di Indonesia, batas itu rupanya terbuat dari karet. Bila seseorang membawa kritik, pagar kebangsaan ditinggikan. Bila membawa piala, pagar dibuka, karpet merah digelar, dan para pejabatpun, ikut berebut berswafoto.
Henri Tajfel dan John Turner melalui Social Identity Theory (1979) menerangkan kecenderungan kelompok membesarkan “kami” sambil mengecilkan “mereka”. Masalahnya, kata “kami” ini memiliki pintu putar. Pemain kelahiran luar negeri boleh masuk kalau membawa kemenangan; warga kelahiran dalam negeri didorong keluar ketika membawa pertanyaan. Identitas nasional akhirnya seperti seragam sewaan: dipakaikan kepada siapa yang berguna, lalu dicopot kalau dianggap mengganggu.
Naturalisasi pemain tentu sah dan dapat bermanfaat. Menjadi warga negara bukan soal warna kulit atau tempat lahir. Setelah mengucapkan sumpah dan memenuhi ketentuan hukum, mereka adalah orang Indonesia—titik. Masalahnya bukan pada para pemain, melainkan pada cara masyarakat dan elite memakai identitas secara pilih-pilih. Kewarganegaraan dirayakan ketika menghasilkan kemenangan, tetapi kebebasan warga untuk mengawasi kekuasaan justru diperlakukan seperti pemain lawan yang harus dijegal.
Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) menyebut bangsa sebagai komunitas yang dibayangkan. Celakanya, imajinasi kebangsaan kita terkadang bekerja seperti komentator sepak bola: pemain yang mencetak gol disebut “putra terbaik bangsa”, sedangkan orang yang bertanya keras dicurigai tidak nasionalis. Seakan-akan kaki lebih mudah diterima daripada pikiran.
Dari sudut pandang pascakolonial, Edward Said melalui Orientalism (1978) mengingatkan bagaimana warisan kolonial terus hidup dalam cara kita melihat diri sendiri dan pihak lain. Kita merasa sudah mengusir penjajah, tetapi bayangan “londo” masih mondar-mandir dalam kepala: kadang menjadi hantu untuk menakut-nakuti pengkritik, kadang menjadi jimat untuk memenangkan pertandingan. Mental kolonial rupanya tidak selalu memakai topi putih; ia bisa mengenakan jas pejabat, rompi komentator, bahkan syal suporter.
Pierre Bourdieu dalam Language and Symbolic Power (1991) menyebut bahasa sebagai bentuk kekuasaan simbolik. Sebutan “londo ireng” bukan sekadar kelakar, sebab penguasa memiliki kemampuan memberi cap dan menentukan siapa yang dianggap setia atau berkhianat.
Kemenangan tim nasional justru memberi pelajaran yang berlawanan. Yang membuat kesebelasan kuat bukan kemurnian darah, melainkan kerja sama, disiplin, dan tujuan bersama. Bola tidak pernah bertanya apakah kaki yang menendangnya berdarah Jawa, Sunda, Ambon, Papua, atau Eropa. Bola hanya tahu siapa yang bekerja dan siapa yang terlalu banyak berpidato.
Mungkin kita perlu akademi nasionalisme baru. Syarat kelulusannya sederhana: wartawan wajib mencetak satu gol agar pertanyaannya dianggap patriotik; pengamat harus mampu melakukan tendangan salto sebelum mengkritik anggaran; LSM mesti menang adu penalti supaya laporannya tidak dicurigai dibiayai asing.
Karena itu, sebaiknya kita tidak terlalu sibuk memilah siapa pribumi paling setia, siapa “londo ireng”, dan siapa “londo” pencetak gol. Lagi pula, cinta kepada Indonesia tidak selalu berbentuk sorak-sorai. Kadang-kadang ia hadir sebagai pertanyaan, koreksi, atau kritik yang agak pedas—seperti sambal: membuat dahi berkeringat tetapi justru menambah selera.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

