Aktualita

Tayangan Pesantren Trans7 Berujung Aksi Demo dan Boikot

Hati-hati menayangkan kehidupan dan suasana di pesantren. Bila tidak cermat bakal mendapat sorotan tajam dari masyarakat.    Seperti yang dialami Trans 7 sebuah siaran televisi Indonesia yang belakangan ini didemo masyarakat dan diminta untuk diboikot siarannya.

Protes keras terhadap TV Trans 7 setelah menayangkan program Xpose Uncencored  pada 13 Oktober 2025 lalu menyoroti suasana pendidikan dan kehidupan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan kiyainya. Dalam video yang viral ada gambar dan narasi beritanya yang dinilai merendahkan pesantren. Misalnya, santrinya ketemu kiyai sambil ngesot, dan ternyata memberikan amplop. Kemudian narasi lainnya, kiyainya memiliki mobil mewah yang harganya miliaran. Kain sarungnya juga mahal hingga mencapai 400 ribuan hingga jutaan. Santrinya minum susu harus jongkok.

Selang setelah tayangan itu yang dinilai merendahkan citra pesantren muncul berbagai reaksi, baik dari kalangan pesantren, alumni pondok,  para tokoh masyarakat, dan anggota dewan. Muncul himbuan untuk memboikot acara Trans 7. Di Jakarta aksi unjuk rasa dipelopori kalangan Nahdlatul Ulama (NU) melalui Pengurus Wilayah (PWNU) DKI Jakarta dimana ratusan anggotanya menyambangi gedung Trans 7 di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan (15/10/2025) berunjukrasa.

Menurut KH Samsul Ma’arif, Ketua PW NU DKI Jakarta, ada lima tuntutan yang disampaikan. Pertama, mendesak Dewan Pers memberikan sanksi tegas kepada Trans 7. Kedua, meminta kepada Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, Dirut Trans Corp dan seluruh jajaran direksi meminta maaf dan melakukan pembenahan dalam produksi tayangan dan pemberitaan. Disamping itu juga melakukan klarifikasi pemberitaan. Ketiga, warga nahdliyin, alumni pondok pesantren, dan keluarga besar pondok se-Jabodetabek untuk memboikot Trans 7 bila tuntutan tidak dipenuhi. Keempat, menayangkan permohonan maaf selama tujuh hari di Trans 7 di jam tayang utama. Kelima, menjelaskan profil PH (Production House) yang memproduksi tayangan.

 Aksi unjuk rasa juga terjadi di Bondowoso, Jawa Timur. Kamis (16/10/2025). Unjuk rasa yang dilakukan para santri di Alun-alun Raden Bagus Assra dengan menggelar Istigosah dan mengajak boikot Trans 7. “ Apa yang ditayangkan Trans 7 bukan produk jurnalistik murni, karena mengandung unsur fitnah terhadap kiyai dan pesantren kami,” ujar Abduyl Halik, salah seorang korlap unjukrasa. Ia menambahkan, apa yang ditayangkan tersebut membuat para santri merasa geram, termasuk santri di Bondowoso, karena menilai  isinya jauh dari fakta.

Sementara itu pihak Trans7 telah menyampaikan permohonan maaf kepada khalayak setelah bertemu dengan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Jabodetabek Selasa (14/10/2025). “ Trans7 mengakui kelalaian walaupun materi itu konten dari PH, tetapi Trans7 tidak lepas tanggung jawab. Untuk itu kami menyampaikan permohonan maaf termasuk kepada keluarga Kiyai Haji Anwar Manshur, bersama isteri, pengasuh dan para alumni, dan  keluarga pesantren seluruh Indonesia ” ujar Andi Chairil , Direktur Produksi Trans7.

Trans7 juga telah menyampaikan permohonan maaf melalui instagram @officialtrans7, juga akan disampaikan melalui stasiun televisi Trans7, juga mengirimkan surat permohonan maaf kepada pengurus Pondok Pesantren Lirboyo, dan bertabayyun dengan pimpinan dan pengurus Pondok Pesantren Lirboyo.

Kemudian Trans7 juga telah menarik seluruh tayangan program” Xpose Uncensored” dari seluruh saluran penyiaran, baik siaran televisi, media sosial, maupun platform digital resmi Trans7.      

Sementara itu dalam pandangan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, tayangan tersebut berpotensi menimbulkan stigma terhadap pesantren. “ Liputan semacam itu tidak seharusnya dibangun dengan cara pandang yang pejoratif (meremehkan-red). Pesantren memiliki nilai dan filosofi yang khas , yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan model pendidikan barat,” jelasnya.

Ia menegaskan, pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan sekaligus insitusi sosial dan kultural. Pesantren berjasa telah melahirkan banyak tokoh besar bangsa ini. Banyak pemimpin nasional , pejabat dan cendekiawan lahir dari pesantren. Mereka membawa nilai-nilai keikhlasan , disiplin dan tanggung jawab yang menjadi karakter pendidikan pesantren,” paparnya.

Tholabi mengingatkan agar media berhati-hati dalam menampilkan pesantren di ruang publik. “Media memiliki tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan masyarakat , bukan menimbulkan salah paham,”tegasnya.

Adagium pers the bad news is the good news memang tidak selamanya tepat jadi acuan berita. Tadinya diharapkan menjaring banyak pemirsa, yang didapat justru  panen  hujatan dan didemo!

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button