Panji Milenial

Satu Tahun Pandemi, Guru Besar UGM: Covid-19 Ajang untuk Berpikir dan Bertafakur

Written by Umy Nasrukhah

PANJIMASYARAKAT Sudah satu tahun pandemi melanda Indonesia, namun kasusnya hingga saat ini belum berakhir juga. Bahkan data terakhir menunjukkan, kasusnya meningkat menjadi 1,37 juta orang. Sementara jumlah pasien yang meninggal akibat virus ini mencapai 37.154 orang.

Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Baiquni, M. A kemudian mengajak masyarakat untuk menjadikan momen satu tahun pandemi ini sebagai ajang berpikir dan bertafakur, bahwasanya tidak ada yang abadi di dunia ini.

“Ada yang muda sudah meninggal, ada yang sedang menjabat, atau ada yang sepuh juga meninggal. Tidak ada prediksi-prediksi yang mudah untuk ditentukan,” kata Prof. Baiquni pada acara seminar daring Panji Masyarakat “Satu Tahun Pandemi, Apa Kabar Indonesia?”, Sabtu (6/3/2021) sore.

Dengan begitu, lanjut Prof. Baiquni, masyarakat akan menghitung kembali, apakah bekal untuk kehidupan selanjutnya sudah cukup atau belum. Sehingga dalam setiap kesempatan, masyarakat akan terdorong untuk berbuat baik.

“Melalui pandemi Covid-19, kita diingatkan untuk memaknai hidup yang lebih spiritual. Saya yakin masyarakat akan lebih banyak mengambil hikmah dari pelajaran-pelajaran ini,” pungkasnya.

Kepala pusat studi pariwisata UGM ini menambahkan pandemi Covid-19 bukan hanya sekadar bencana, tetapi juga peringatan bagi manusia untuk bisa melakukan perubahan, salah satunya perilaku.

Semenjak pandemi, aktivitas bepergian masyarakat dengan menggunakan transportasi menjadi minim. Baik darat, laut maupun udara. Polusi pun menjadi berkurang dan memberikan pemulihan bagi ekosistem.

“Artinya, ini memberi kesempatan pada lingkungan hidup untuk memperbaiki dirinya dan virus kecil itu memberi peringatan pada manusia untuk mengurangi perilaku yang tidak perlu atau yang merusak lingkungan,” tuturnya.

Adanya pandemi COVID-19 ini juga, membuat industri-industri besar mulai surut dan jumlah permintaannya berkurang, sehingga secara tidak langsung memengaruhi perubahan pola jual beli atau perilaku konsumen.

Banyak orang yang tinggal di rumah saja. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk membeli produk-produk yang ada di sekitarnya dan setidaknya bisa mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan.

Selain terjadinya perubahan pola jual beli dan konsumsi masyarakat, pandemi COVID-19 juga secara tidak langsung menimbulkan adanya pola hemat. Sebab, pendapatan semua lini mengalami penurunan.

Bahkan, sektor pariwisata pun mengalami keterpurukan. Menurut data UNWTO (UN World Tourism Organization) pada Desember lalu, saat ini kita kembali ke-30 tahun silam dalam dunia pariwisata.

“Di sinilah kita mulai bersama-sama lagi, sehingga ada kesempatan UMKM untuk bangkit lagi,” ujarnya.

Prof. Baiquni meyakini pandemi COVID-19 ini juga membawa hikmah bagi bertumbuhnya kreativitas lokal yang memungkinkan adanya solusi-solusi kesehatan di tingkat masyarakat, baik melalui minuman, makanan, maupun treatment-treatment.

About the author

Umy Nasrukhah

Umy Nasrukhah adalah anggota magang Panji Masyarakat batch 2. Saat ini tengah berkuliah di Universitas Jember jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tinggalkan Komentar Anda