Panji Milenial

Melihat Lebih Dekat Dampak Perubahan Iklim Dunia, Guru Besar UGM: Manusia Perlu Diedukasi

PANJI MASYARAKAT – Perubahan iklim merupakan problematika lama yang masih terus diupayakan dalam pencarian solusinya sampai saat ini. Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada bahkan meyakini bahwa perubahan iklim sudah ada sekitar tahun 70-an atau 80-an.

“Perubahan iklim sudah lama terjadi pada tahun 70-an atau 80-an,” ujarnya  saat menghadiri acara sarasehan online Panji Masyarakat dan Islamic Studies Forum yang bertajuk “Ngabuburit dan Dialog Menahan Laju Perubahan Iklim Bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ph.D”, Kamis (29/04/2021).

Prof. Baiquni mengingatkan manusia untuk mengubah pola pikir mereka, sehingga dapat dijadikan pedoman untuk menanggulangi dampak dari perubahan iklim dunia. Menurutnya, membangun mindset tidak harus dengan cara yang berbelit, cukup memuliakan sesama manusia dan melestarikan lingkungan hidup di sekitar kita, sudah mampu menolong keseimbangan iklim di bumi.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika perubahan iklim merupakan sebab akibat dari munculnya revolusi industri, dampak yang diberikan pun tak main-main. Contohnya saja kebakaran hutan yang hebat melanda Australia tahun lalu atau eksploitasi alam habis-habisan di Indonesia dimana tambang-tambangnya telah mengakibatkan polusi baik di darat maupun di laut.

Hal itu menjadi bukti nyata betapa lengahnya perilaku manusia sehingga perlu diedukasi lebih lanjut mengenai cara menjaga keseimbangan alam di bumi.

“Perlu pemahaman yang baik tentang dampak revolusi industri demi kebaikan masa depan bersama,” ucapnya.

Dosen Fakultas Geografi UGM itu juga menyoroti perilaku menusia yang suka mengonsumsi makan-makanan aneh dan berlebihan, sehingga memunculkan wabah penyakit mematikan yakni virus Covid-19.

Perilaku manusia yang tak semestinya itu disebabkan karena tidak diiringi dengan kesadaran menjaga alam, sehingga merusak serta mengubah iklim dunia.

 “Manusia pemakan segalanya “culinary extreme” yaitu pemakan binatang-binatang liar harus memiliki kesadaran cinta alam sebagai manifest di dunia,” pungkasnya.

Oleh karena itu, baik di tingkat desa maupun di tingkat kota masyarakat perlu menerapkan program kerja sama dalam membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup supaya tetap utuh dan lestari.

 “Kita sebagai masyarakat harus scaling up di tingkat desa, di tingkat komunitas sehingga semuanya dapat mengembangkan itu (kesadaran cinta alam),” kata Baiquni saat itu.

About the author

Chatrin Katarina

Chatrin Katarina merupakan content writer dan jurnalis magang batch 3 di Panji Masyarakat. Ia merupakan mahasiswi Universitas Gadjah Mada jurusan D4 Bahasa Inggris.

Tinggalkan Komentar Anda