Panji Milenial

Memandang Satu Abad Kemerdekaan: Indonesia, Sudah Siapkah?

Written by Chatrin Katarina

PANJI MASYARAKAT – Menjelang 100 tahun kemerdekaan Indonesia, ternyata masih banyak yang harus diperhatikan. Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2016 -2020, Dyah Puspitarini, Sp.d., M.Pd. mengatakan ada tiga hal yang harus menjadi fokus utama Indonesia kini.

“Fenomena lost generation, pendidikan bagi anak, serta pemberdayaan perempuan di Indonesia. Tiga fokus utama tersebut menjadi sangat penting mengingat Indonesia yang masih harus terus berbenah dalam segala sistem dan sektor yang ada,” ungkapnya saat sarasehan online yang diselenggarakan Panji Masyarakat dan Islamic Studies Forum, Kamis (22/4/2021).

Dyah menjelaskan fenomena lost generation merupakan sekelompok individu yang mengalami kebingungan dan pesimis akan kehidupannya dimulai pada awal pasca Perang Dunia 1. Akhir-akhir ini, lost generation terasa muncul kembali setelah virus Covid-19 melanda tanah air. Masyarakat dipaksa untuk beradaptasi pada perubahan yang signifikan dan cepat. Belum lagi dampak pandemi yang begitu menyulitkan di beberapa aspek kehidupan.

“Kita memasuki era new normal di mana kita sebagai game changer harus beradaptasi terhadap perubahan yang ada,” ujar Dyah.

Faktor kedua yang menjadi sorotannya yaitu anak. Dyah berpendapat, selama pandemi mereka mau tidak mau harus menuntut ilmu lewat sistem yang tak pernah diduga sebelumnya. Sistem pendidikan jarak jauh atau biasa disebut sistem daring dikhawatirkan tidak mampu memberikan pelayanan yang berkualitas bagi anak bangsa.

“Pendidikan di Indonesia belum cukup baik bagi guru dan murid dikarenakan belum adanya pemerataan fasilitas untuk sekolah jarak jauh,” kata Dyah.

Di samping itu, pandemi yang belum nampak titik terangnya membuat Dyah prihatin sebab dampak sosial pun seperti pernikahan dini akan terus meningkat. Keterbatasan ekonomi orang tua sering menjadi alasan memaksa anaknya segera menikah. Pernikahan dini dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Kejadian seperti ini lazim terjadi terutama di daerah-daerah pedesaan Sulawesi, Sumatera, dan Yogyakarta.

Belum lagi dampak dari pernikahan dini setelah sang anak melahirkan. Anak dari orang tua yang menikah muda memungkinkan terkena penyakit stunting. Bahkan menurut studi dari UNICEF,  tiga dari 10 anak di Indonesia terkena penyakit jangka panjang ini. Selain itu, kemungkinan perceraian orang tua hasil pernikahan dini sulit dihindarkan.

“Angka perceraian yang terjadi akibat perkawinan dini di Indonesia sangat tinggi,” tuturnya.

Faktor terakhir yang menjadi perhatian Dyah agar Indonesia siap menyambut satu abad kemerdekaan ialah pemberdayaan perempuan. Seringkali perempuan dipandang sebelah mata. Padahal dengan adanya perempuan yang cerdas dan berdaya dapat menjadi aset yang mahal dalam kontribusi membangun negeri.

Dyah menambahkan, perempuan perlu diberikan akses dan kesempatan seluas-luasnya karena perempuan merupakan madrasah utama bagi anak-anak. Perempuan juga berhak menerima perlindungan hukum yang layak tanpa diskriminasi. Mereka berhak untuk menyuarakan suaranya sebagai rakyat dan seharusnya pintu terbuka lebar bagi perempuan dalam keterlibatannya di publik.

“Afirmasi hasil suara perempuan seharusnya tidak dinomorduakan,” pungkas Dyah saat itu.


Editor: Yusnaeni

About the author

Chatrin Katarina

Chatrin Katarina merupakan content writer dan jurnalis magang batch 3 di Panji Masyarakat. Ia merupakan mahasiswi Universitas Gadjah Mada jurusan D4 Bahasa Inggris.

Tinggalkan Komentar Anda