Pengalaman Religius

Rina Gunawan (4): Memaknai Ibadah

Siapa bilang menjalankan agama itu berat? Bagi Rina Gunawan, melaksanakan perintah agama itu tak ubahnya kewajiban orang untuk makan berapa kali dalam sehari. Bedanya, jika makan diingatkan orang lain, sedangkan untuk salat, misalnya, yang mengingatkan adalah diri sendiri. Lalu apa keharusan-keharusan sederhana yang mesti diajarkan pada anak usia dini? Bagian akhir dari empat tulisan tentang religiositas mendiang Rina Gunawan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Terus terang, aku berasal dari keluarga yang tidak terlalu ketat dalam soal agama. Misalnya harus menghukum jika tidak salat. Aku hanya belajar ngaji (Alquran). Itu pun hanya sampai kelas 5 SD. Mungkin juga karena banyaknya kegiatan yang aku ikuti, ditambah kurangnya niat dalam hati.

Nah. Makanya sekarang aku mencoba menelusurinya, kenapa bisa seperti itu. Mungkin saja ada kesalahan. Yang jelas aku akan mencari kelebihan-kelebihan baik dari orangtuaku maupun orangtua Teddy dalam cara mengajar anak.

Aku akan terapkan, dan kalau ada kekurangannya akan kita perbaiki. Termasuk dalam pendidikan. Anakku (Aqshal Ilham) saat ini (2002) baru berumur 2 tahun 4 bulan, dan masih di pre school. jadi kami belum memikirkan banget harus begini, harus begitu. Karena pada taraf usia balita itu  seorang anak sedang mencoba mengenal orangtuanya. Biarlah dia mengenal dia mengenal dulu ibu-bapaknya seperti apa.

Meski begitu, aku tidak pernah lupa untuk melantunkan selawat setiap malam saat anakku akan tidur. Sambil mengajarkan keharusan yang sederhana tentang budi pekerti, tentang perlunya mengucapkan salam jika pergi atau bertandang ke rumah orang, cium tangan, membaca doa setiap kali akan melakukan sesuatu. Dan aku pikir, setiap keluarga juga melakukan hal-hal yang seperti itu. Kami memang sudah merencanakan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah Islam  agar bisa lebih banyak belajar agama. Di samping itu, kami juga mendatangkan guru ngaji. Jadi, pelajaran agama benar-benar diberikan. Bukan dipaksakan.

Kalau kita bilang menjalankan agama itu berat, sepertinya kok tidak. Itu kan sebuah kewajiban. Sama halnya dengan kewajiban kita untuk makan, sehari berapa kali. Ya kira-kira seperti itulah. Kalau makan kan kita di-ingetin oleh pacar, orangtua, suami dst. Nah, untuk salat dan kegiatan ibadah lainnya, yang ngingetin ya diri sendiri.

Jadi, tergantung kembali kepada basic-nya. Jika pada saat usia kita masih dini sudah benar-benar dipersiapkan matang ke arah itu, kayaknya begitu gede akan menjadi suatu kebiasaan. Cuma, kalau basic-nya tidak dari kecil, ya susah. Aku juga merasa pada saat usia lambat laun menua, bertambah umur, tingkat keimanan rasanya lebih tebal dibanding dulu. Misalnya, puasa atau kegiatan-kegiatan ibadah ritual lainnya. Dengan puasa Senin-Kamis, seseorang mungkin dapat merasakan berkah untuk dirinya. Ya, jalankan saja. Menurutku suatu ibadah itu memang untuk diri sendiri dalam berhubungan dengan Allah.

Sejauh ini, aku ya seperti itu. Kalau kita puasa, jangan ngomong-ngomong kita lagi puasa; salat jangan digembar-gemborkan. Itu kan hubungan kita dengan Allah SWT. Jadi tidak perlu melebar ke samping, ke kiri ke kanan, atau ke belakang. Sama dengan kalau kita bersedekah kepada fakir-miskin, kalau bisa jangan sampai orang tahu. Apalagi dipublikasikan. Jangan deh.

Ditulis bersama Aam Masroni. Sumber: Majalah Panjimas, 02-15 Oktober 2002.

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda