Panji Milenial

Pesantren Riset Ramadan: Trik Menulis di Media Massa Ala Prof Saratri

PANJI MASYARAKAT – Ada banyak alasan, mengapa orang menulis. Bagi Prof. Dr. Saratri Wilonoyudho, menulis adalah salah satu ekspresi untuk menunjukkan bahwa kita merupakan makhluk yang berpikir dan membaca, seperti perintah Allah Swt dalam Al-qur’an yaitu iqro (bacalah).

“Berpikir dan membaca adalah salah satu metode untuk mendinamiskan akal pikiran,” kata pakar Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Perkotaan yang sudah mempublikasikan banyak artikel dan opini di media-media Indonesia itu, Senin (26/4/2021) dalam acara Pesantren Riset Ramadan Kalam 1442 H/2021 M dengan topik “Academic Leadership”.

Dalam menulis, penting sekali menjaga konsistensi atau istikamah, khususnya bagi para pemula. Konsistensi dan istikamah akan menghasilkan tulisan yang semakin baik. Sebab, menulis merupakan kegiatan yang perlu diasah. Semakin tinggi jam terbangnya, semakin baik tulisannya.

Prof. Saratri kemudian membagikan tips mendapatkan ide tulisan. Pertama, banyak membaca. Ide secara tekstual dapat ditemukan dari membaca buku, jurnal, artikel atau beberapa tulisan lainnya. Kedua, asah kepekaan. Ide secara kontekstual dapat ditemukan dengan mengasah “radar hati” atau kepekaan. Semakin peka “radar” seseorang semakin peka juga seseorang membaca “radar alam”. Kepekaan tersebut bisa digunakan untuk mencari ide-ide tulisan.

“Menulislah tanpa berpikir, apa yang dirasakan ditulis terlebih dahulu tanpa memikirkan benar salah aturan kalimat,” begitu anjurannya. Cara ini bisa diimplementasikan melalui kegiatan sederhana seperti menulis buku harian.

Setelah menuangkan segala macam perasaan yang kita rasakan pada tulisan, kita bisa menambahkan literatur-literatur pendukung. Ini merupakan cara menulis di media massa yang sangat mudah.

Segala macam permasalahan yang muncul bisa kita jadikan suatu tulisan dengan angle yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ide dalam tulisan tidak akan ada habisnya. Contoh sederhananya adalah bantahan atau didukung atas sebuah hipotesis, masalah sehari-hari, ide untuk diuji, fenomena yang sedang terjadi, keresahan kita akan pelayanan publik. Gagasan-gagasan tersebut bisa kita gunakan untuk memulai membuat sebuah tulisan.

 Ia juga membagikan tips menulis di media massa. Caranya tentu sama, rajin membaca artikel. Kegiatan yang dilakukan secara berkala tersebut mengendap dalam pikiran kita dan tanpa sadar pula akan menuntun kita ke arah format sebagaimana diminta oleh media massa tersebut.

Ciri dasar tulisan pada media massa yang perlu dipahami adalah bahasanya mudah dimengerti dan tuntas; tidak menggunakan bahasa yang rumit; masalah yang ditulis harus aktual dan sedang dibicarakan.

“Mulai dari judul yang menarik, struktur kalimat, solusi yang diberikan tuntas merupakan poin yang harus dipahami pada menulis media massa” tambah prof lulusan UGM ini.

Diakhir pemaparan materi, Prof. Dr. Saratri Wilonoyudho mengungkapkanmengenai konsistensinya dalam menulis. “Jika tidak bisa dimuat di media massa saya biasa menulis untuk media sosial saya sendiri, bisa dari web, blog atau media sosial lainnya. Karena sifatnya yang bebas maka saya bisa leluasa untuk mengunggah tulisan yang tidak diterima oleh media-media massa. Platform media sosial yang bisa diakses siapa saja harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk memulai menulis,” tutupnya.

Editor: Yusnaeni

About the author

Dini Widya Larasati

Dini Widya Larasti merupakan content writer intern Panji Masyarakat batch 3. Saat ini ia tengah berkuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Gajayana Malang.

Tinggalkan Komentar Anda