Adab Rasul

Jangan Sembarang Mengumbar Kata-Kata

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita sering dibombardir dengan berita-berita perang kata, mulai dari yang setengah sopan, kotor lagi jorok,  saling menghina, menghujat dan merendahkan pihak lain, bahkan mengisi  video lawan dengan suara palsu atau fake. Dan untuk yang terakhir ini pun sudah tersedia aplikasinya.

Perang kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan,  bisa dilakukan oleh siapa saja melawan siapa saja,  tak peduli siapa lawan siapa, sebanding atau tidak – baik dalam kedudukan sosial maupun keilmuannya. Lupa peribahasa menang jadi arang kalah jadi abu. Lupa jatidiri, kalah wirang menang orang kondang, kalah memalukan menang pun tak terkenal. Duh…duh.. ampun Gusti.

Dalam buku hadiah pernikahan anak kami Aditya Wiwoho dengan Devi Verdiani, “Mutiara Kehidupan Untuk Anak,” penerbit Bina Rena Pariwara – 2004, ada bab berjudul Nasihat Luqman, mengenai kisah dua anak manusia yang memperoleh hikmah luar biasa dari Allah Swt, sehingga disebut di dalam Al Qur’an.  Mereka adalah Khidir dan Luqman.

Melalui Khidir, para pengikut paham tarekat menyebut nabi, Allah menyadarkan Nabi Musa yang mengaku paling hebat, bahwa ada seorang hamba Allah yang ilmunya lebih tinggi dibanding Musa, yaitu Khidir tadi.

Sementara Luqman adalah hamba Allah yang memperoleh hikmah karena perbuatannya sesuai dengan pengetahuannya, sehingga ia terlepas dari bahaya kesesatan.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menceritakan sebuah riwayat tentang Luqman. Semula Luqman adalah khadam di rumah seorang kaya. Pada suatu hari orang kaya itu menyuruhnya menyembelih seekor kambing dan memilihkan dua bagian daging yang paling besar khasiatnya jika dimakan. Lalu oleh Luqman dipotongkan lidah dan hati, dimasak dan dihidangkannya.

Keesokan hari induk semang itu menyuruh memotong seekor lagi dan kembali meminta dua potong daging yang paling menjijikan. Lagi-lagi Luqman memasak serta menghidangkan lidah dan hati.

Melihat hal itu bertanyalah sang majikan, “Bagaimana engkau Luqman! Kemarin saya minta daging yang paling besar khasiatnya, lalu engkau bawakan daku lidah dan hati. Sekarang saya minta daging yang paling menjijikan, engkau bawakan lidah dan hati juga, apa maksudmu?”

Dengan senyum Luqman menjawab, memang lidah dan hati itulah bagian dari tubuh manusia yang paling besar khasiatnya, apabila orang pandai menjaganya. Tapi keduanya pula yang akan mencelakakan manusia bila ia tak dapat mengendalikannya. Hati dapat menimbulkan niat yang ikhlas dan dapat pula culas. Lidah bisa menuturkan kata-kata  nan penuh budi bahasa yang menyenangkan sesama manusia, namun dengan sebab lidah perang pun bisa terjadi. Naudzubillah.

Petuah di atas diajarkan Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa di abad ke 15/16 melalui sebuah tembang Gundul-Gundul Pacul, tembang jenaka yang penuh makna. (B.Wiwoho, Orang Jawa Mencari Gusti Allah, Penerbit IIMaN, 2020).

Tembang ini mengajarkan perihal nilai-nilai moral seorang pemimpin ideal, yaitu pemimpin tanpa mahkota – ibarat kepala gundul tanpa rambut. Pemimpin yang tak peduli dengan pesona dunia demi mengemban amanah bagi alam dan kehidupan rakyatnya, yang dilambangkan dengan pacul sebagai alat pertanian, serta kesejahteraan rakyat yang dilambangkan dengan bakul berisi nasi.

Pacul atau cangkul juga merupakan akronim dari “papat kang ucul”  atau empat hal yang lepas. Empat hal itu adalah kunci utama untuk mencapai derajat ketakwaan. Oleh sebab itu harus dikendalikan, tidak boleh lepas atau ucul. Ini sesuai ajaran Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin. Menurut beliau, guna mencapai maqam ketakwaan itu, kita harus menghayati serta mengamalkan beberapa hal, diantaranya memelihara dan mengendalikan: (1) mata; (2) telinga; (3) mulut dengan lidahnya; (4) hati; (5) perut; (6) anggota-anggota tubuh lainnya.

Dari enam hal tersebut yang paling  menentukan adalah lima yang pertama. Namun oleh sebagian ulama, mata dan telinga dianggap sebagai  satu kesatuan, terutama jika menyangkut kepemimpinan, sebagaimana QS.Al-Anfal:22, “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang yang melata pada sisi Allah orang yang pekak dan bisu (tentang kebenaran), mereka tidak mengerti.”  Jika mata dan telinga dihitung sebagai satu kesatuan pengertian, maka empat hal yang tidak boleh lepas liar tanpa kendali adalah; (1) mata dan telinga; (2) mulut dengan lidahnya; (3) perut; dan (4) hati.

Sudah menjadi pengetahuan umum sepanjang sejarah kehidupan, mulut dengan lidahnya adalah anggota tubuh yang paling binal lagi nakal. Ia paling banyak menimbulkan keonaran dan kerusakan, sampai-sampai ulama Malik bin Dinar berpesan, “Jika engkau melihat hatimu membatu, badanmu lemah, rezekimu terhalang, maka itu disebabkan oleh ucapanmu yang tidak keruan.”

Sahabatku, bagaimana kita menyikapi zaman yang penuh dengan perang kata-kata yang liar, nakal dan binal seperti sekarang ini? Marilah kita belajar dari nasihat orang-orang tua Jawa tempo dulu, agar dalam menjalani kehidupan senantiasa berpegang teguh pada mantera: “Tekenku Muhammad, payungku Allah,” tongkat pemandu perjalananku adalah Kanjeng Nabi Muhammad, sedangkan payung kehidupanku adalah Gusti Allah Yang MahaKuasa.

Bagaimana tongkat panduan Rasulullah saw. dalam hal itu? Beliau bersabda, “Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah memelihara lisan, “ (HR.Al Baihaqiy). Ayunan tongkat berikutnya adalah, “Kesejahteraan ada sepuluh bidang, sembilan pada diam, dan bidang kesepuluh pada pengasingan diri dari manusia,” (HR.Ad Dailamy).

Kemudian HR.Ahmad mengisahkan, Rasul bukan orang yang suka berkata keji dan berkata kotor, bukan orang yang suka beteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi mengampuni dan lapang dada.

Di era kesejagatan, di mana sebuah ucapan atau pun tulisan di media sosial dapat tersebar ke segenap pelosok dunia hanya dalam hitungan menit, bahkan detik, maka ijinkan penulis mengajak agar kita saling mengingatkan dan saling menjaga kata-kata. Salam takzim.

Masya Allah  Lā haula wa lā quwwata illā billāhi. Allahumma Sholli Wa Salim ‘Alaa Muhammad

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda