Mutiara

Ketika Kuda Arab Diganti Mobil Balap

Written by A.Suryana Sudrajat

An-Nadwi mengkritik para pemuda Arab yang loyo, terseret konsumerisme, yang sebagiannya karena pengaruh Barat. Bersama Sayyid Quthub, Abul A’la Al-Maududi,  ia menyebarkan semangat  jihad yang banyak memberikan inspirasi kepada gerakan Islam radikal.

Islam membangkitkan dalam jiwa mukmin perasaan harga diri tanpa kesombongan, rasa percaya diri tanpa kebanggaan, rasa tenteram tanpa sikap fatal. Islam menanamkan ke dalam jiwa rasa tanggung jawab membimbing insan di Timur dan di Barat, tanggung jawab memimpin bangsa-bangsa yang yang tersesat dan mengarahkannya kepada agama yang benar,  jalan yang lurus dan membebaskannya dari kegelapan menuju cahaya terang…….

Etos dan tanggung jawab kemanusiaan. Sayyid Quthub mengemasnya dalam kalimat-kalimat yang bergelora, dalam kata pengantar untuk buku sahabatnya. Abul Hasan Ali Al-Nadwi, Madza Khasiral  ‘Alam bi  Inhithathil Muslimin (Apa ruginya dunia dengan kemunduran kaum muslimin). Dalam terjemahan Indonesia buku ini diberi judul Islam Membangun Peradaban Dunia (1988)

Bersama Abul A’la Al-Maududi, pendiri Jamiat-i Islami dan Sayyid  Quthub, An-Nadwi adalah tiga serangkai yang pemikiran-pemikirannya banyak memberikan inspirasi bagi gerakan Islam radikal. Berbeda dengan  kaum pembaru seperti Muhammad Iqbal atau Muhammad Abduh, bagi mereka, Islam sudah menyediakan berbagai kelengkapan hidup sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi memungut budaya lain. Sikap ini biasanya dibarengi penolakan total terhadap Barat. Tindakan mengadopsi budaya Barat, seperti yang dilakukan kaum pembaru, menurut mereka justru akan memperlemah kedudukan muslimin sendiri.  

Karena itu, ketika An-Nadwi ditanya apa kejelekan Mesir, orang India keturunan Arab ini menyatakan, pakaian dan pergaulan yang bebas, gambar-gambar merangsang di majalah dan koran-koran, sikap sebagian ulama yang meremehkan hal-hal yang diharamkan, dan kecenderungan meniru-niru budaya Barat tanpa memikirkan akibatnya.

Menurut  An-Nadwi, terdorong oleh kebudayaan Barat serta sebab-sebab lain, orang-orang Arab  sekarang terbiasa hidup mewah, berpesta pora, tenggelam dalam konsumerisme, memandang rendah harta Allah untuk kepentingan memburu kelezatan, nafsu rendah, kebanggaan, dan pemborosan.  Kota-kota mereka menyuguhkan pemandangan yang bikin haru sekaligus malu: kaum gelandangan dan orang-orang miskin yang tinggal di rumah-rumah sempit dan gelap.

Begitu juga pemuda-pemudanya, yang kehilangan semangat kepahlawanan dan kesatriaan. Mereka mengganti kuda Arab dengan mobil balap. Meninggalkan olah raga seperti gulat, anggar, dan berlari ke game-game yang tidak bermanfaat. Al-Nadwi, yang semasa mudanya menyukai sepak bola, hoki, tenis, renang, berburu, mengutip surat Khalifah Umar ibn Khattab kepada para petugas di Persia (Iran):

“Hindarilah hidup bersenang-senang dan dandanan yang “wah” seperti orang Persia. Hiduplah bersama matahari, karena matahari itulah pemandian orang Arab. Biasakanlah hidup keras dengan makanan dan pakaian kasar, pertahankanlah watak tahan menderita, dengan penampilan sederhana, peliharalah dengan baik binatang tunggangan, lalu menyerbulah, lemparakan panah ke sasaran.”

Karena itu, menurut An-Nadwi, jembatan untuk mencapai kebahagiaan umat manusia adalah pengorbanan pemuda Arab. Mereka harus berani mempertaruhkan nyawa, harta, kedudukan, nasib, barang dagangan, dan pekerjaan. Jika mereka lebih senang kepada hawa nafsu dan keserakahan yang individualistis ketimbang kebahagiaan umat manusia dan kesejahteraan dunia, dunia akan tetap dalam kesesatan serta penderitaan.

Tidak aneh, jika Abul Hasan An-Nadwi memujikan perang sebagai bentuk jihad yang paling mulia. Tujuan jihad perang, kata dia, agar dunia ini tidak ada dua kekuatan yang sama yang saling berebut kuasa. Salah satu syarat harus dipenuhi kaum muslimin untuk berjihad adalah persiapan yang matang dan kekuatan yang penuh. Ibaratnya, kata An-Nadwi, mereka harus melawan besi dengan besi, menyongsong angin dengan segala daya dan dana, baik berupa ilmu perang, persenjataan, maupun perlengkapan lain. Dalam hal ini kita tidak boleh setengah-setengah atau tampil seadanya. “Dan siapkanlah untuk melawan mereka dengan segala kemampuanmu, berupa kekuatan pasukan dan angkatan berkuda, agar kalian bisa menggetarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (Q. 8:60)

Tiga serangkai, Quthub, Maududi, dan Nadwi, sudah tiada. Tapi pikiran-pikiran mereka bahkan mempengaruhi gerakan-gerakan Islam yang lebih radikal ketimbang Ikhwanul Muslimin atau Jamiat-i Islami. Misalnya Al-Jihad, At-Takfir wal Hijrah, Al-Jama’ah Al-Islamiyah, ketiga-tiganya di Mesir,  atau Hizbullah di Lebanon atau Hammas di Palestina. Sasaran mereka tidak hanya rezim setempat seperti Anwar Sadat (Mesir) dulu,  tapi juga Amerika dan Israel. Konon, anak-anak muda yang dipilih Hizbullah untuk dikorbankan sebagai syuhada dengan mengebom sasaran-sasaran mereka—-Amerika dan Israel—-adalah mereka yang belum menikah, tidak punya tanggung jawab keluarga, saleh tetapi bukan ulama.

Kemudian di awal abad ke-21 ini  berdentumlah gedung-gedung World Trade Center New York dan Pentagon di Washington DC, dihantam pesawat-pesawat raksasa. Juga tempat-tempat umum  di Eropa.  Ya, mereka ada di sana.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda