Tasawuf

Langkah Keempat Untuk Menjadi Saleh

Written by A.Suryana Sudrajat

Menjaga organ tubuh dari kemaksiatan, kata Al-Ghazali, merupakan keharusan dalam puasa khusus. Bagaimana dengan tingkatan puasa sangat khusus, dan puasa level awam?

Dalam kitabnya Kifayah  al- Atqiya’ wa Minhaj al-Ashfiya’ (Kelengkapan Orang Takwa dan jalan Orang Suci), Syekh Abu Bakr (Sayyid Bakri al-Makki) ibn Muhammad Syatha ad-Dimyathi, menawarkan lima resep batin, yang kita kenal dengan Selawat Tamba (Selawat Obat) yang lima itu. Selawat ini mewejang jalan apa yang mesti ditempuh seseorang untuk mencapai derajat kesalihan.  Yakni membaca Quran berikut maknanya, salat malam, zikir, mengosongkan perut, alias puasa, serta  duduk melingkar di sekitar orang saleh.

Tiga yang pertama dimaksudkan untuk meneguhkan tujuan  ukhrawi, sedangkan dua yang terakhir merupakan penyangkalan atas tujuan-tujuan duniawi. Dalam tulisan terdahulu, kita sudah bahas baca Quran, zikir dan salat malam. Sekarang gilirannya mengosongkan perut, yang tentunya tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan tetapi di hari-hari lain yang disebut puasa-puasa sunah.     

 Pertama, puasa-puasa yang umumnya selalu dijalankan Rasulullah s.a.w. Atau puasa sunnah mu’akkad. Yakni (1) Puasa Senin dan Kamis, sebagaimana diriwayatkan Aisyah r.a. Nabi bersabda: “Semua amal akan ditampakkan (di hadapan Allah) pada hari Senin dan Kamis, dan aku lebih suka amalku ditampakkan ketika aku sedang berpuasa.” (H.r. Tirmidzi); (2) Puasa tiga hari pada hari-hari bulan purnama (Ayyamul biidh). Yakni, pada pertengahan bulan tanggal (qamariah) 13, 14 dan 15. Dari Abu Dzar, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang berpuasa tiga hari tiap bulan, hendaknya dia berpuasa tiga hari pada hari-hari purnama.” (H.r. An-Nasa’i). Berkata Abu Hurairah, “Aku diberi wasiat oleh kekasihku (Nabi s.a.w.) untuk melaksanakan tiga perkara. Yakni, puasa tiga hari tiap bulan, dua rakaat salat Dhuha, dan salat Witir sebelum tidur.” (H.r. Bukhari); (3) Puasa pada hari Asyura, tanggal 9 dan 10. Nabi melakukan puasa ini sebelum diwajibkannnya puasa Ramadhan. Ketika turun firman tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa saja yang ingin berpuasa pada hari itu (Asyura), berpuasalah. Dan barangsiapa ingin meninggalkannya, silahkan saja. (H.r.Bukhari); (4) Puasa Arafah, selain bagi orang yang sedang wukuf. “Puasa Arafah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lewat dan setahun berikutnya (dosa-dosa kecil).” (H.r. Ahmad); (5) Puasa enam hari pada bulan Syawal. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barang siapa puasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (H.r. Muslim).

Kedua, puasa yang pernah dijalankan Rasulullah tapi tidak diriwayatkan bahwa beliau selalu menjalankannya. Ini masuk kategori puasa mustahab. Misalnya, puasa tiga hari setiap bulan, dan puasa pada hari-hari Sabtu dan Ahad.

Ketiga, puasa pada hari apa saja, pokoknya di luar hari-hari yang dilarang untuk berpuasa. “Barangsiapa berpuasa sehari demi agama Allah semata, maka Allaj pasti akan menjauhkan pandangannya dari neraka, selama 70 musim gugur.” (H.r. Bukhari). Ini yang disebut puasa tathawwu. Tergolong di sini adalah puasa ala Nabi Daud a.s., puasa sehari dan berbuka sehari.

Menurut Imam Al-Ghazali, ada tiga tingkatan puasa: puasa umum, puasa kusus, dan puasa sangat khusus. Puasa umum adalah tercegahnya perut dan kemaluan dari memenuhi  syahwat. Sedangkan puasa khusus adalah tercegahnya pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan organ tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Adapun puasa sangat khusus adalah puasanya hati dari keinginan rendah, memikirkan duniawi, dan tercegah dari yang selain Allah. Puasa bisa batal oleh  hal-hal yang mestinya bisa dihindari. Rasululah s.a.w. bersabda, “Lima hal membatalkan puasa, yaitu dusta, gibah, hasutan, sumpah palsu dan pandangan dengan syahwat.” Menjaga organ tubuh dari kemaksiatan, kata Al-Ghazali, merupakan keharusan dalam puasa khusus.   

Dalam pada itu, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiga jenis orang yang doanya tidak ditolak Tuhan: imam yang adil, orang yang berpuasa, sampai berbuka, dan orang yang dizalimi. Akan diangkat doa itu oleh Allah di atas awan, pada hari kiamat, akan dibukakan baginya pintu langit, lalu Dia berkata, “Demi kemulian-Ku, akan Kutolong engkau, walaupun tidak sekarang.”

Betapa mustajabnya doa orang puasa. Juga imam (kepala negara) yang adil dan orang-orang yang teraniaya. Selain hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah itu, Abdullah ibn Umar juga pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagi orang yang berpuasa, ketika dia berbuka adalah saat doa yang mustajab.” Banyak ulama mengatakan, puasa merupakan sarana berlatih mengendalikan diri. Yakni dari jeratan nafsu perut,  keinginan melahap apa saja, dan nafsu faraj,  mengumbar selera rendah sehingga kemanusiaan kita menjadi merosot karena dua hal yang, di dalam masyarakat kontemporer, sering pula dihubungkan dengan uang dan kekuasaan. Karena itu puasa juga disebut latihan perang melawan hawa nafsu. “Hal yang kutakutkan dari umatku,” demikian sabda Nabi, “adalah pengumbaran hawa nafsu dan panjang lamunan. Mengumbar nafsu memalingkan manusia dari kebenaran (al-haqq), sedangkan melamun panjang membuat orang lupa kepada akhirat. Karena itu ketahuilah, melawan hawa nafsu adalah modal ibadat” (H.r. Hakim dan Dailami).

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda