Adab Rasul

Menjadi Ahli Hikmah

Written by B.Wiwoho

Masih ingatkah anda dengan dua peribahasa yang menggunakan satu nama hewan yang sama? Hewan itu adalah keledai. Yang pertama berbunyi, “Keledai saja tidak terperosok dua kali ke lubang yang sama.”  Sementara ada pula yang menyatakan, “Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali.” Sedangkan peribahasa kedua, “Bagaikan keledai memanggul buku-buku.”  Maukah kita disamakan dengan keledai?

Sahabatku, peribahasa pertama mengajarkan agar kita pandai mengambil hikmah dari suatu kesalahan, sehingga jangan sampai mengulangi berbuat salah. Padahal keledai yang bodoh saja tak mau mengulang kesalahannya. Mosok manusia sebodoh keledai.

Begitulah para ulama cerdik pandai zaman dulu, mengajarkan satu ilmu hikmah dari hadis Kanjeng Nabi riwayat Abu Hurairah  sebagai berikut:  “Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.” (Shahih Muslim).

Ternyata sejak dahulu kala, Baginda Rasul sudah wanti-wanti mengingatkan agar umatnya menguasai ilmu hikmah, belajar dari perjalanan hidup termasuk dari kesalahannya. Tetapi ada saja orang yang lebih bodoh dari keledai, jatuh berulangkali ke lubang yang sama, yang pada umumnya  justru karena merasa sudah pintar sehingga tak mau belajar. Padahal sesungguhnya bodoh bagai keledai. Naudzubillah.

Perihal yang kedua, berasal dari Surat Al-Jumu’ah ayat 5 yakni, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tiada memikulnya adalah ibarat keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Itulah seburuk-buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Yang dimaksud dengan “tiada memikulnya” pada ayat di atas adalah, tidak mengamalkan isi Taurat. Dalam ayat itu Allah juga mengibaratkan mereka bagai keledai membawa kitab-kitab yang tebal. Tentu saja keledai tidak mampu memahami apa yang tertulis di dalam buku-buku yang dipanggulnya.

Demikianlah, jangan sampai umat Islam meniru kebodohan keledai. Mengoleksi banyak buku tapi hanya untuk ujub dan riya, dipamerkan sebagai pajangan di lemari perpustakaan agar dikagumi orang. Atau dibaca, sampai hafal, namun juga tidak diamalkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Tak dapat memetik hikmahnya. Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari yang demikian itu.

Dalam bahasa Indonesia, kata hikmah mempunyai dua arti yaitu kebijaksanaan (dari Allah) dan kesaktian. Maka tidak mengherankan apabila masyarakat awam sering  menganggap, para mursyid tasawuf yang mengajarkan murid atau para saliknya mendalami ilmu hikmah, adalah orang-orang yang bijaksana lagi sakti, sehingga dipercaya doanya manjur atau mampu melihat masa depan, oleh sebab itu diminta doa dan nasihatnya.

Kata hikmah secara umum dipahami sebagai pengetahuan tentang berbagai akibat yang timbul dari sebuah perbuatan. Hikmah juga diartikan mengklarifikasi kebenaran dengan ilmu pengetahuan dan akal.

Prof.Dr.K.H.Muhibuddin Walay dalam buku Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf yang membahas ajaran ilmu hikmah “Al-Hikam” karya ulama Ibnu Athaillah Askandary menulis, hikam yaitu jamak dari hikmah, artinya ialah kalimat-kalimat yang di dalamnya terkandung ilmu yang bermanfaat. Secara umum para ulama berpendapat hikmah ialah materi ilmu yang bermanfaat, yang meliputi berbagai ilmu seperti fiqh, tauhid, tasawuf serta ilmu kehidupan lainnya. Dalam dunia tasawuf, ilmu hikmah mengupas bagaimana mensucikan diri dari sifat-sifat tercela,  menjaga ibadah dan semua  amal perbuatan supaya terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya seperti takabur-ujub –riya.

Di dalam Al-Qur’an, kata hikmah disebut 20 kali dan terdapat pada 19 ayat dalam 12 surat. Salah satu ayat yang sering  diajarkan untuk dihayati jika mengalami sesuatu masalah apalagi kesulitan  ialah, “Boleh jadi kalian mem­benci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian. ”( Al-Baqarah: 161). Sementara  itu  Surat Al Insyiraah  ayat 5 yang ditegaskan kembali oleh ayat 6, mengingatkan, “ beserta kesukaran ada kemudahan.”

Ayat dan surat tersebut luas, dalam maknanya serta besar hikmahnya, karena memberikan banyak hal antara lain menguatkan iman,  membesarkan hati, menanamkan kesabaran, mengambil pelajaran dan manfaat dari kesukaran yang kita alami, serta yakin dan percaya akan datangnya pertolongan serta kebaikan yang diberikan oleh Allah Yang Mahapenolong.

Semua itu mengajarkan kita agar hidup tenang, jangan stres dan frustasi, jangan pendendam dan jadilah orang yang pemaaf. Kerabat dekat penulis sekitar empat puluh tahun yang lalu, punya pengalaman buruk menarik. Ia belum lama menikah, diminta mengundurkan diri dari tempat bekerjanya, lantaran isterinya yang seagama dengan para bosnya beralih mengikutinya, menjadi mualaf memeluk Islam. Bagaimana reaksinya?

Ia menceritakan, terkejut dan pahit getir rasa batinnya. Bagaimana ia harus menghidupi rumahtangga barunya? Ini adalah pukulan hidup kedua yang diterimanya dalam tempo pendek. Pukulan pertama sudah diterima dari sebagian besar saudara isterinya yang juga tidak menyukai saudarinya menjadi muslim.

Namun, begitu ceritanya, kerabat penulis ini langsung teringat nasihat leluhurnya apabila tertimpa musibah, yakni memanjatkan doa “wolo-wolo kuwato”. Maksudnya adalah memohon kekuatan dari Gusti Allah, yang merupakan pengucapan yang tidak tepat dari kalimat “la haula wala quwwata illa billah atau tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah”. Dan segera pula ia menjawab, alhamdulillah, seraya disusul doa dalam hati semoga dianugerahi hikmah dan diberi ganti pekerjaan yang jauh lebih baik, yang berkah dan semuanya dijadikan sebagai bekal ibadah serta amal solehnya.

Di kemudian hari, kerabat penulis tersebut memang terbukti dianugerahi kehidupan yang jauh lebih baik. Jika dahulu dia adalah seorang Islam Jawa Abangan yang salatnya bolong-bolong, justru dengan itu menjadi tekun mendalami keislamannya, sementara itu secara tampak mata, kehidupan dunianya pun lebih baik dari sebagian besar rekan kerja dan mantan bosnya. Ia tidak dendam serta tetap menjalin silaturahmi, bahkan pernah membantunya. Subhanallah.

Maka wahai sahabatku, marilah kita senantiasa belajar memetik hikmah, sesuai petunjuk-Nya,  “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).

Allahumma shalli wa sallim ’ala Muhammad.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda