Cakrawala

Konsep Masyarakat Marhamah

Written by Arfendi Arif

Masyarakat secara psikologis  merupakan kumpulan orang dengan berbagai kepentingan, pemikiran dan keinginan.  Sedangkan secara sosiologis masyarakat terdiri dari berbagai suku, status sosial, ekonomi dan pendidikan. Kemudian masyarakat juga memiliki beragam orientasi politik, agama maupun ideologi.

Semua perbedaan tersebut akan mempengaruhi perilaku manusia. Perilaku tersebut bisa bercorak positif dan negatif,  namun perbedaan tersebut kebanyakan bersifat negatif dalam arti mengundang konflik baik yang bersifat laten maupun konflik nyata dalam bentuk tindak kekerasan.

Untuk menekan konflik yang disebabkan berbagai faktor tersebut diperlukan  konsep untuk mengatasinya. Konsep tersebut sejatinya yang mampu menekankan terciptanya rasa kasih sayang sesama manusia. Hanya dengan kasih sayang dan rasa saling mengasihi maka problem kemanusiaan bisa diselesaikan. Dan rasa kasih sayang itu semuanya dilampiri semangat Tauhid, yakni motivasi itu dilakukan dengan niat karena Allah semata.

Salah satu konsep masyarakat saling menyayangi ini  dikemukakan dalam al-Quran surat al-Balad ayat 17 yang disebut masyarakat Marhamah. Bunyi lengkap dari ayat tersebut adalah, ” Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”.

Untuk memahami  konsep masyarakat Marhamah perlu dibaca ayat 13-16 surat al-Balad. Dari keterangan ayat ini bisa dipahami bahwa masyarakat Marhamah adalah mereka yang memerdekakan budak, memberikan makan pada saat musim kelaparan, dan membantu anak yatim, kerabat dan orang miskin serta fakir.

Dari keterangan ayat  ini jelas bahwa masyarakat Marhamah bertumpu pada kekuatan saling membantu, mereka yang kuat secara ekonomi membantu yang miskin untuk meringankan beban hidup mereka. Bukan hanya itu, tetapi juga saling menasehati, saling berpesan untuk  tabah dan sabar dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan. Bila dihubungkan dengan surat al-Hujurat ayat 10 dikatakan bahwa “Orang beriman itu bersaudara”. Itu artinya, rasa kasih sayang itu mestinya sangat kuat. Dalam versi al-Qur’an masyarakat Marhamah atau saling menyayangi ini termasuk golongan kanan yang dijamin masuk surga.

Bila di review ke dalam sejarah banyak kita temui contoh penerapan masyarakat Marhamah, baik yang terjadi di masa Rasulullah, era khulafaur rasyidin, maupun masa dinasti pemerintahan Islam. Contoh yang spektakuler dan nyata bisa kita lihat ketika terjadi peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan para sahabat  dari Makkah ke Madinah pada tahun pertama Hijrah, bertepatan tahun 622 Masehi.

Para sahabat dan pengikut Nabi yang hijrah dari Makkah ke Madinah hampir semua dalam keadaan miskin. Mereka yang disebut kaum Muhajirin ini meninggalkan kampung kelahirannya dengan semua harta yang dimilikinya dan meninggalkan keluarga dan sanak saudaranya.   Sehingga ketika mereka tinggal di Madinah mereka dalam keadaan serba kekurangan.

Penduduk Madinah yang disebut kaum Anshar (penolong) adalah masyarakat yang sudah meyakini kebenaran dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Karena itu kepedulian mereka sangat tinggi kepada Nabi dan sahabat yang hijrah ke Madinah. Untuk mempererat persaudaraan itu maka Nabi Muhammad Saw menyatukan beberapa sahabat Muhajirin dengan Anshar secara berpasangan. Abu Bakar, misalnya, dipersaudarakan  dengan Haritsah bin Zaid,  Ja’far bin Abu Thalib dipersaudarakan dengan Mu’adz bin Jabal, dan Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan ‘Itbah bin Malik. Demikian seterusnya.

Dengan demikian, maka kaum Muhajirin yang bertahun-tahun terpisah dengan sanak saudara dan kampung halamannya, merasa tentram dan aman menjalankan syariat agamanya. Di tempat  yang baru itu, sebagian dari mereka ada yang hidup berniaga, dan ada pula yang bertani seperti Abu Bakar, Utsman dan Ali, mengerjakan tanah kaum Anshar. Dengan ikatan yang teguh ini, dapatlah Nabi Muhammad  Saw mengikat setiap pengikut Islam yang terdiri dari bermacam-macam suku dan kabilah itu, ke dalam satu ikatan masyarakat Islam yang kuat, dengan semangat bekerja bergotong royong, senasib sepenanggungan,seperasaan,sesakit, sesenang dengan persaudaraan Islam. Sebagian orang Arab yang menyatakan masuk Islam dalam keadaan miskin disediakan tempat tinggal di bangunan mesjid yang kemudian dikenal dengan nama Ashhab Suffa. Keperluan hidup mereka dipikul bersama di antara Muhajirin dan Anshar yang telah berkecukupan (Lihat, dalam Al-Qur’an dan Terjemahannya , Departemen Agama Republik Indonesia, CV Jaya Sakti, Surabaya, Juli 1989, hal 72-73).

Di dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 9 diceritakan betapa orang Anshar amat mencintai orang Muhajirin. Mereka lebih mengutamakan keperluan orang Muhajirin ketimbang bagi dirinya sendiri. Al-Quran menjelaskan. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman  (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan kepentingan orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan” (al-Hasyr ayat 9).

Ayat di atas turun berkaitan dengan peristiwa warga Anshar yang menjamu dan menghormati orang Muhajirin. Sekalipun warga Anshar ini orang miskin, namun mereka berkorban untuk sahabat yang berhijrah.

Dikisahkan seseorang mendatangi Rasullah dalam keadaan lapar.  Nabi kemudian mengutus seseorang kepada istrinya untuk menyediakan makanan.Tapi istri Nabi mengatakan, ”  Kami tidak mempunyai apapun, kecuali air,”  Nabi kemudian berkata. “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini,”. Salah seorang Anshar menjawab.” Saya yaa Rasulullah”.

Lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah isterinya. Ia berkata, ” Muliakanlah tamu Rasulullah saw “, . Istrinya menjawab,”Kami tidak memiliki apapun, kecuali jatah makanan untuk anak-anak”. Orang Anshar itu berkata ,” Siapkanlah makananmu itu ,nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak anak kalau mereka minta makan malam. “

Wanita itupun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami isteri inipun seakan  sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.

Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasul. Rasul bersabda ,” Malam ini Allah tertawa dan takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayatnya, yang artinya mereka mengutamakan orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Inilah asbabunnuzul surat al-Hasyr ayat 9.

Khalifah ur- Rasyidin kedua, Ali bin Abi Thalib mempunyai pengalaman yang sama dan menjadi sebab turunnya ayat al-Qur’an. Ceritanya sebagai berikut, Sayidina Ali kehabisan makanan sehingga keluarganya menderita kelaparan. Untuk itu Ali pergi ke rumah seorang Yahudi mengambil benang untuk ditenun oleh isterinya Fatimah (putri Nabi Muhammad).

Upah menenun itu dibelanjakan dan diperoleh tiga mangkuk gandum, satu  mangkuk gandum diolah menjadi tepung untuk dimakan. Ketika Saiyidina Ali hendak makan datang seorang miskin yang meminta-minta, lalu ia beri satu mangkuk. Pada hari kedua datang pula seorang anak yatim diberi pula satu mangkuk, dan pada hari ketiga datang lagi seorang yang baru keluar dari tahanan meminta makanan, lalu Sayidina Ali memberinya pula satu mangkuk, karena habis akhirnya Sayidina Ali dan keluarganya hanya minum air untuk menahan lapar.

Dari peristiwa yang terjadi dalam keluarga Ali ini turunlah ayat yang memuji amal perbuatan keluarga Ali tersebut. ” Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”( surat 76 al-Ihsan ayat 8).

Menjadi jelas bahwa konsep masyarakat Marhamah menciptakan suasana rukun dan damai. Tidak ada konflik kelas antara kaum the haves dan have not, kerukunan terjalin di antara masyarakat sendiri, semua ini bukan karena kebijakan pemerintah, tetapi pengaruh dari Iman yang kuat kepada Allah yang menilai tinggi amal kebajikan atau perbuatan shaleh. Dengan begitu dalam masyarakat yang berjalan konsep Marhamah kerja pemerintah menjadi ringan.

Sebenarnya kalau ditelaah lebih dalam masyarakat Marhamah ini dibangun oleh Islam melalui konsep zakat. Zakat itu pada prinsipnya bukan semata pembebanan hukum bagi orang yang mampu, tapi juga  untuk membangun hubungan kasih sayang di antara manusia. Yaitu antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya dengan kekayaan dan kedermawanannya membantu orang miskin, sedangkan orang miskin tidak timbul rasa cemburu dan benci pada orang kaya, sebaliknya ia ikut menjaga harta milik orang kaya. Karena itu tepat apa yang dikatakan al-Quran surat at- Taubah ayat 11 bahwa orang yang membayar zakat itu adalah saudara saudaramu.

Untuk Indonesia konsep masyarakat Marhamah ini perlu menjadi perhatian karena di negara kita tingkat ketimpangan sosial cukup tinggi. Kekayaan masih berpusat di kalangan tertentu. Menurut seorang pakar, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 50,3 persen kekayaan bangsa ini. Sisanya 50 persen lagi diperebutkan 99 persen penduduk.  Ironisnya lagi, 74 persen tanah dikuasai hanya oleh 0,2 persen penduduk (Lihat,Prof Dr. Hafid Abbas, Ensiklopedi Pemikiran Yusril Ihza Mahendra, Pro Deleader, Jakarta, 2016, hal XV).

Ketimpangan ini jika tidak ada antisipasi bisa menjadi bom waktu yang  setiap saat siap meledak. Karena itu jika ajaran Islam dengan menciptakan masyarakat Marhamah diupayakan dibangun dalam kehidupan, maka ketimpangan ekonomi  tidak akan berefek negatif seperti kecemburuan sosial dan saling membenci. Sebab, yang kaya akan mengayomi yang miskin dan yang miskin akan  menjaga harta  si kaya. Sebuah kehidupan yang rukun akan berjalan di tengah masyarakat

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024