Hamka

Yang Tidak Dilarang, Tapi Jangan Dianjurkan

Written by A.Suryana Sudrajat

Seorang guruku yang beristri lebih dari seorang, pernah memberi nasihat kepadaku waktu aku masih muda: “Cukuplah istrimu satu itu saja wahai Abdul Malik! aku telah beristri dua. Kesukarannya baru aku rasai setelah terjadi. Aku tidak bisa mundur lagi. Resiko ini akan aku pikul terus sampai salah seorang dari kami bertiga meninggal duna. Aku tidak akan menceraikan salah seorang antara mereka berdua, karena kesalahan mereka tdak ada. Anakku dengan mereka berdua banyak. Tetapi aku siang-malam menderita batin, karena ada satu hal yang tidak dapat aku pelihara. Yaitu keadilan hati. Bagi orang lain hal ini mudah saja. Kalau tidak senang kepada salah satu, cari saja sebab yang kecil, lalu lepaskan, maka terlepaslah diri dari beban berat. Kalau kejadian, kita telah meremuk-redamkan hati seorang ibu yang ditelantarkan. Janganlah beristri lebih dari satu hanya dijadikan semacam percobaan. Sebab kita berhadapan dengan seorang manusia, jenis perempuan. Hal ini menjadi sulit bagiku, karena aku adalah aku, karena aku adalah gurumu dan guru orang banyak. Aku lemah dalam hal ini, wahai Abdul Malik. aku ingin engkau bahagia. Aku ingin engkau jangan membuat kesulitan bagi dirimu.”

Abdul Malik yang menceritakan kisah itu tak lain adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang kita kenal Buya Hamka. Malik, demikian sebutan Hamka sebelum naik haji, tidak menyebut siapa sang guru. Hamka  sendiri, sebagaimana kita baca dalam memoarnya Kenang-kenangan Hidup, sesungguhnya punya pengalaman yang pahit ketika ayahnya menikah lagi, dan kemudian ibunya minta diceraikan. Padahal sebelum menikah dengan ibunya,  sang ayah, H. Abdul Karim Amrullah, sudah punya istri. Hamka pun berontak dan nyaris menjadi berandalan, atau bahkan sudah. Mungkin lantaran pengalamannya yang pahit dalam keluarganya itu, serta nasihat gurunya tadi, Hamka loyal untuk tetap beristri satu. Ia baru menikah setelah istri pertamanya, Siti Raham, meninggal dunia.

Menurut Hamka, di tanah air kita, banyak orang yang melakukan poligami sesuka hati. Tak hanya dari kalangan awam bahkan dari kalangan orang terpelajar. Maka tidak aneh, poligami pun menjadi “tempat lari bagi melepaskan nafsu.”

Hamka menegaskan, menghapuskan poligami jelas melanggar agama dan melanggar kenyataan dalam masyarakat. Oleh karena itu, yang penting, kata dia, tindakan yang diperlukan adalah menertibkan poligami sesuai dengan sumber hukum yaitu Allah dan Rasul-Nya. Yakni adil.

Menurut Hamka pula, selama orang masih beristri satu hidupnya lebih damai. “Kalau ada kekurangan, maaf-memaafkan. Tetapi kalau beristri dua, istri yang pertama tidak mau kurang dari istri yang kedua. Istri berdua bukan wajib, hanya boleh saja. Tetapi terlarang kalau tidak adil. Dia telah merasa bahwa dia tidak akan adil, dan anak-anaknya pun tidak akan sempurna didikannya.”  Padahal hidup berumah tangga, kata Hamka pula, bukanlah buat beristri berganti-ganti, tetapi buat mendidik anak. “Kebolehan berpoligami dalam Islam itu, tetaplah untuk pakaian orang-orang yang memiliki ruh besar dan hati kuat.”

Kini, tidak sedikit orang yang menganjurkan poligami, bahkan dengan mengiming-imingi kehidupan yang lebih sejahtera, dan jaminan surga bagi istri yang rela dimadu. Bahkan diseminarkan pula, dengan menghadirkan orang-orang yang konon sukses dalam mengelola isti empat. Dalam hal ini, relevan kiranya untuk kembali mendengar  pandangan Hamka tentang soal ini. Kata Buya, poligami jangan dianjur-anjurkan karena mudharat-nya lebih banyak dari manfaatnya. “Jangan hanya mengingat banyak perempuan tidak bersuami, kalau poligami dihentikan. Tetapi ingatlah bahwa anak-anak yang tidak berketentuan hilir-mudik hidupnya akibat poligami, akan lebih banyak daripada perempuan tidak bersuami.”

Jangan hanya karena kemampuan ekonomi, orang lantas berpikir untuk beristri lebih dari satu. Tetapi lupa kemampuan untuk berbuat adil. “Dia hanya ingat kepada kemampuan lalu beristri dua, tiga, dan empat. Salah sedikit ceraikan satu, tinggalkan dua, ganti lagi, cari pula janda muda ataupun perawan yang lain. Akhirnya tidak ada  kesempatan lagi untuk mengurus rumah tangganya, hidup, jiwa dan ibadahnya kepada Tuhan. Hanyalah mengurus giliran malam para istrinya, akhirnya anak-anaknya kocar-kacir.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda