Pengalaman Religius

Ebiet G. Ade: Ustad Kok Tidak Puasa (1)

Written by Panji Masyarakat

Bila masih mungkin kita menorehkkan batin
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abad
…………
Yang terbaik hanyalah segera bersujud
Mumpung kita masih diberi waktu

Penyanyi dan pencipta lagu Ebiet G. Ade tidak pernah digolongkan pembawa lagu-lagu religi atau keislaman. Tapi tak dipungkiri, dalam berkarya,  salah satu legenda musik pop Indonesia ini berangkat dari nlai-nilai keislaman yang kental. Ini tak lepas dari pengalaman spiritualnya.   

Ada sebuah peristiwa buruk  yang begitu membekas di benakku dan cukup mempengaruhi pandangan keagamaanku selanjutnya. Peristiwa itu terjadi di kampung, dulu ketika aku masih kecil.

Aku lahir dan tumbuh  di lingkungan muslim yang taat. Dekat masjid , di lingkungan kauman Desa Wonodadi, Banyumas, Jawa Tengah. Karena itu aku terbiasa menjalankan ibadah seperti salat berjamaah, dan tentu saja ngaji, baca Alquran. Ayah mendidik kami, anak-anaknya, dengan keras agar tahu agama. Sehabis sekolah negeri di pagi hari, aku harus sekolah lagi di madrasah. Begitulah usia sekolh dasar aku lewatkan di desaku itu.

Dengan lingkungan seperti itu, seharusnya aku tumbuh dengan keyakinan agama yang ajeg. Tapi agama memang bukan hanya masalah ritual. Terlebih dalam usia anak-anak seperti itu, aku belum punya cukup kemampuan untuk menghayati setiap ritual yang aku laksanakan. Aku menjalankan semua itu hanya sebagai kewajiban, yang bisa menimbulkan marah orangtua jika ditinggalkan.

Sebenarnya keadaan seperti itu baik-baik saja. Sebab penghayatan keagamaan akan tumbuh sejalan dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kita memang mengalami tahap-tahap itu dalam hidup. Tapi, sayangnya, di masa-masa seperti itu aku justru mendapatakan suatu peristiwa yang tidak baik bagi pertumbuhan sikap beragamaku selanjutnya.

Siang itu, suatu hari pada bulan Ramadan, aku dan seorang teman sedang berjalan-jalan di pasar. Bagi anak-anak seusia kami, melihat-lihat kesibukan pasar di bulan puasa memang mendatangkan kesasyikan tersendiri. Bisanya, tanpa terasa waktu  terus berjalan dan kami baru sadar untuk segera pulang ketika saat berbuka sudah dekat.

Namun, sore itu kami mengalami hal yang berbeda. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kami sepakat untuk membatalkan puasa. Setan berhasil menggoda kami, mungkin, karena kami memang sangat haus dan lapar, puasa sekadar melaksanakan kewajiban, ditambah lagi rasa aman karena jauh dari rumah. Setelah celingak-celinguk, lihat kanan-kiri, khawatir ada tetanga yang mengenal kami,  kami pun menyelinap masuk ke sebuah warung, yang juga buka sembunyi-sembunyi.

Belum sempat memesan makanan, kami terbengong-bengong melihat seorang tamu yang sedang lahap menyantap makanan. Tamu itu juga kaget melihat kehadiran kami. Dia segera membayar makanan dan tergesa-gesa keluar. Tamu itu adalah ustad terkemuka di kampung kami, yang khutbah dan ceramah-ceramahnya sangat menarik. Kemarin, dalam kesempatan salat tarawih di masjid, dia bahkan menguraikan ancaman neraka bagi orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadan. Kami terhern-heran , ustad kok tidak puasa? Bersambung

Penulis: Muzakkir Husain, wartawan Majalah Panji Masyarakat (1997-2001). Sumber: Panji Masyarakat, 16 September 1998.           

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda