Cakrawala

Politik Keawaman

Celetukan Donald Trump tentang kemungkinan injeksi disinfektan ke orang yang terinfeksi virus corona tentu saja membuat banyak orang terbelalak. Celetukan ini muncul saat breifing harian bersama Bill Bryan, kepala divisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, pada Kamis (23/4).

Awalnya, dalam briefing tersebut Bill Bryan menjelaskan bahwa virus corona tidak tahan hidup dalam suhu hangat dan lembab, dan paling cepat mati di bawah sinar matahari. Pernyataan ini kemudian disambar Trump dengan penuh percaya diri: apakah cahaya tersebut bisa dimasukkan ke dalam tubuh?

Dari poin inilah dia kemudian mengembangkan imajinasinya. Kecuali meminta para ahli meneliti kemungkinan ‘memasukkan’ cahaya ke dalam tubuh, lebih jauh dia juga meminta mereka juga meneliti kemungkinan menyuntikkan disinfektan dalam kadar tertentu untuk membersihkan paru-paru. Imajinasi ini muncul karena sepengetahuannya disinfektan, sama seperti cahaya, terbukti bisa melenyapkan virus bahkan dengan lebih cepat, hanya dalam semenit. Tentu yang dimaksud adalah ketika virus berada di luar tubuh manusia.

Lompatan imajinasi Trump ini langsung membuat para ahli, termasuk ahli paru-paru dan kebijakan kesehatan publik Dr. Vin Gupta, mencak-mencak. Mereka menganggap pernyataan tersebut tidak pantas diucapkan presiden; karena memasukkan disinfektan ke dalam tubuh hanyalah cara untuk bunuh diri.

Ini bukan pernyataan ‘aneh’ pertama yang diucapkan Donald Trump. Sebelumnya ia juga ngotot menggembar-gemborkan hydroxychloroquine sebagai obat mujarab yang akan mengubah permainan; game changer katanya. Kengototan ini muncul justru setelah Anthony S. Fauci, direktur NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases), juga dalam kesempatan breifing bersama dengannya, mengungkapkan bahwa belum ada obat yang terbukti manjur untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi Covid-19.

Tak akan ada yang menyanggah kenyataan bahwa Donald Trump, sebagai pribadi, pastilah awam tentang seluk beluk teknis kesehatan. Persoalan muncul, karena ketika bicara di depan publik posisinya adalah sebagai presiden, yang diandaikan memiliki akses yang sangat luas terhadap beragam informasi; sehingga apa yang diucapkannya pun diharapkan sudah tersaring melewati diskusi dan pertimbangan matang dari para pembantunya.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa pernyataan-pernyataan Trump ini, seperti juga banyak pernyataannya yang lain, hanya anomali yang muncul sebagai akibat dari kebingungan dan kegagapan pemerintahannya menghadapi wabah corona virus. Bisa jadi demikian, tapi sebenarnya ada sisi lain yang lebih menarik dan patut dicermati, yaitu pola komunikasi publik para politisi yang selama ini mengusung populisme; dimana Trump dianggap sebagai salah satunya. Banyak pihak menuding mereka cenderung bersikap anti atau setidaknya menyepelekan sains dalam menangani pandemi tersebut.

Atau, kalau kita balik nalarnya, wabah corona virus kali ini sebenarnya bisa kita pakai sebagai cermin yang dengan telanjang mempertunjukkan salah satu sifat asli populisme, yaitu kecenderungannya untuk memanfaatkan, kalau tidak bisa disebut memanipulasi, keawaman publik. Tak mengherankan bila sains, atau pertimbangan ahli, sejak awal cenderung diabaikan; karena sasaran utama mereka bukanlah akurasi, tapi pemuasan cara pandang dan cara berpikir awam yang selalu merupakan kelompok terbesar masyarakat.

Mengingat fakta tersebut, sangat sulit dipercaya bahwa pernyataan-pernyataan Trump sepenuhnya bersifat dadakan, tanpa ada perencanaan sama sekali. Lebih-lebih menghadapi pemilihan presiden Amerika pada November depan. Keawaman yang dipertontonkan Trump selama ini, lebih-lebih terkait pandemi Covid-19; meski tetap tidak menutup kemungkinan munculnya improvisasi di sana-sini, hampir bisa dipastikan telah dirancang dengan matang oleh para pembantu dan tim kampanye kepresidenannya.

Harus diingat, meski ide Trump untuk menyuntikkan disinfektan dianggap konyol dan menyebabkan breifeng hariannya terpaksa dihentikan sementara; tapi pada dasarnya ide tersebut juga banyak diimajinasikan awam sebagai solusi instan bagi Covid-19. Kecuali di Amerika; di Eropa dan Rusia jauh sebelumnya juga sempat beredar rumor dengan basis nalar yang sama, yakni bahwa Vodka bisa mencegah Covid-19. Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, bahkan pernah secara resmi menganjurkan rakyat untuk meminumnya.

Begitu juga kengototan Trump tentang hydroxychloroquine sebagai game changer; sasarannya jelas: menebar harapan. Kecuali kenyataan resep tersebut semula juga diyakini sebagian kalangan medis; tapi pertimbangan utamanya adalah: tanpa harapan pengobatan akan melahirkan kepanikan. Nalar inilah yang disambar Trump. Bagi awam, adanya harapan pengobatan, apa pun bentuknya, jelas lebih menentramkan dari pada sama sekali tak ada alternatif penyembuhan.

Nalar yang sama juga dipakai Trump untuk menabrak protokol kesehatan tentang pandemi. Ia meminta wilayah yang melakukan karantina untuk membuka diri. Alur berpikir keawamannya jelas: kecuali  membuat jemu banyak orang yang terpaksa harus diam di rumah, bagi warga kelas menengah bawah karantina wilayah juga membuat pusing karena secara langsung mengancam pendapatannya.

Pada tingkat tertentu, kalau memakai perbandingan sederhana, watak dasar populisme sebenarnya memang bisa dilihat sebagai sekadar pemindahan atau pengangkutan nalar industri, hiburan utamanya, ke wilayah politik. Dalam industri hiburan, pemenuhan apa yang disebut sebagai selera publik adalah ideologi utama yang sangat diagungkan. Atas nama selera publik, pertimbangan mutu bisa begitu saja diabaikan. Dan celakanya, apa yang disebut sebagai selera publik pun pada gilirannya ternyata bisa dikondisikan dan dimanipulasi juga.

Dan maaf, kalau boleh ‘liar’ berimajinasi awam juga, mungkin pada satu sisi kita bisa membandingkan populisme dengan program televisi Bukan Empat Mata misalnya. Dalam acara tersebut, Tukul sebagai pembawa acara benar-benar diposisikan sebagai awam, apalagi disempurnakan dengan modal wajah yang disebutnya sendiri sebagai wajah ndeso. Dengan bantuan tim kreatif yang solid, terbukti prinsip keawaman yang diusung acara tersebut pernah sangat populer dan bertahan lama. Kalau boleh ‘nakal’, rasanya apa ditunjukkan Donald Trump, setidaknya dalam breifing-breifing terkait Covid-19, secara prinsip pada dasarnya nyaris tak berbeda dengan tampilan Tukul di Bukan Empat Mata juga.

Masalahnya, ketika berhadapan dengan masalah nyata, seperti ancaman pandemi kali ini; memobilisasi apalagi memanipulasi nalar awam justru potensial menjadi blunder. Meski dibalut dengan narasi-narasi teori konpsirasi, tudingan fake news dls; bila masalah utamanya tak tertangani dengan baik; pada akhirnya masyarakat toh tetap akan langsung berhadapan dengan ancaman dan dengan demikian mau tak mau akan lebih berpegang pada fakta medis yang tentu lebih saintifik. Dalam kondisi semacam ini, ‘pertunjukkan’ keawaman justru bisa menjadi senjata makan tuan karena tak akan diminati masyarakat lagi.

Kalau semua ini benar, dan tak ada pertunjukan kegilaan baru yang lebih ‘gila’ lagi, seperti perang misalnya; bisa jadi kasus pandemi Covid-19 ini akan menjadi lonceng awal kematian politik populisme. Dan dalam hal ini Trump tidak sendirian.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda