Hamka

Hamka Tentang Hamka (Bagian 11)

Written by Panji Masyarakat

Kaum ulama yang bersatu dalam PUSA yang dipimpin oleh Tengku M. Daud Beureuh, adalah sebuah jelmaan dari rasa kurang senang rakyat tertindas selama ini. Ulama adalah pemimpin rakyat jelata  yang selama ini tertindas. Sedangkan Muhammadiyah adalah jelmaan kaum hulubalang yang dibenci rakyat.

Memoar Hamka yang kami muat pada bagian 1-10 berkisah tentang masa kecilnya sampai dia memimpin Pedoman Masyarakat. Majalah yang terbit di Medan inilah yang antara lain mempertemukan Hamka dan Soekarno, tempat para pemimpin Islam seperti Haji Agus Salim menuangkan pemikirannya, dan menghubungkan Hamka dengan Wahid Hasyim dari angkatan muda NU. Pedoman Masyarakat (kelak melebur dengan Panji Islam dan menjadi Panji Masyarakat) terpaksa menghentikan penerbitannya, menyuul masuknya tentara pendudukan jepang di Indonesia. Berikut adalah kelanjutan biografi Hamka yang ditulisnya sendiri, yang kami nukil-nukilkan dari Kenang2-an Hidup (jilid III dan IV).       

Daud Beureuh (Ulama dan Kaum Hulubalang)

Sebelum kita lanjutkan cerita ini, lebih baik kita dengarkan lebih dahulu cerita Bung Haji (demikian Hamka menyebut dirinya) sendiri tentang pengalamannya seketika mulai pecah perang (Perang Dunia II, red).

Pada tanggal 7 Desmber 1941 saya dibawa oleh sahabatku Teuku Tjoet Hassan untuk mengadakan penerangan Muhamadiyah di Blang Jeuren, Aceh. Tujuh Desember pagi, diadakan rapat umum di panggung bioskop di Blang Jeuren, malamnya diadakan rapat pertemuan khususi. Saya telah tercenggang-cenggang saja mendengarkan pedih-pedihnya perkataan yang keluar dari mulut Teuku Tjoet Hassan. Dia menyindir-nyindir perkumpulan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang didirikan oleh Teungku M. Daud Beureuh dkk. di Aceh. Sudah sampai  merembet keluar dari apa yang layak dibicarakan dalam perserikatan Muhamadiyah. Telah membicarakan juga urusan politik, mempertahankan hulubalang-hulubalang di aceh, yang menurut Teuku Tjoet Hassan itu dituduh oleh PUSA pengkhianat bangsa.

Maka, mengertilah saya waktu itu, bahwa pertentangan kaum hulubalang dengan kaum ulama sangat mendalam. Kaum ulama yang bersatu dalam PUSA yang dipimpin oleh Tengku M. Daud Beureuh, adalah sebuah jelmaan dari rasa kurang senang rakyat tertindas selama ini. Ulama adalah pemimpin rakyat jelata  yang selama ini tertindas. Memang bertahun-tahun hubungan saya dengan Aceh amat baik, baik dengan kalangan hulubalang atau dengan ulama. Oleh sebab itu, dapatlah saya pahami sebab-sebab pertentangan itu dengan mendengar pendirian dan pandangan kedua pihak.

Ini semua dibiarkan saja rupanya oleh Belanda, atau Belanda sengaja melengahkan matanya daripada keadaan yang demikian. Dia tahu orang Aceh sangat benci kepada pemerintahan Belanda, yang di Aceh lebih terkenal dengan nama “kapeh”, logat aceh tentang kafir. Dia tidak mendekati  rakyat yang benci kepadanya, cukup diadu saja rakyat itu dengan uleebalang-nya sendiri.

Lalu timbullah dari rakyat jelata itu golongan pemuda, yang asalnya menuntut pelajaran keluar daerah aceh. Di tempat lain mereka melihat kebebasan dan kemajuan agama. Setelah mereka pulang, mereka mencoba membuat kompromi dengan raja-raja itu. Setengahnya berhasil setengahnya tidak. Tentu saja, keadaan itu tidak memuasakan, sebab penderitaan rakyat belum dapat diobati dengan demikian saja. Maka mereka dirikanlah PUSA. Ketuanya adalah seorang alim lagi, ahli bijaksana, ahli politik, (tipu Aceh, gerindam Barus), yang matanya sebagai mata burung rajawali, lekas mengerti ke mana tujuan perkataan orang, dan di dalam mata itu rupanya tersimpan maksud besar. Itulah Tengku Muhammad Daud Beureuh.

Kian lama kian terasa oleh uleebalang-uleebalang itu ke mana tujuan PUSA, yaitu membangkitkan kesadaran seluruh rakyat Aceh di bawah pimpinan ulama. Rakyat kian lama kian sadar akan nasib dan haknya. Dia sudah berani menuntut haknya dan menyadarkan kewajiban raja-raja. Tuan dapat kirakan sendiri bahwa bukanlah perkara kecil meninggalkan kedudukan yang empuk. Gerakan PUSA dipandang berbahaya.

Sejak Muhamadiyah masuk ke tanah Aceh, beberapa orang bangsa uleebalang telah menceburkan diri dengan ikhlas ke dalamnya. Yang amat terkemuka ialah Teuku M. Hassan yang waktu itu mrnjadi ambtennar t/b (pegawai tinggi yang diperbantukan) kantor gubernur Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Beliau ini memang seorang yang berdarah pahlawan, berhati jujur dan keras, matanya serupa mata Napoleon. Dia masuk (Muhamadiyah) di tahun 1928, seketika H. Fachrudin (pemimpin Muhamadiyah di Yogyakarta) di Aceh. Dia jadi konsul Muhamadiyah tahun 1930. Setelah dia berhenti dari ambtennar tinggi di pejabat gubernur Aceh, dan pulang ke negerinya dekat Sigli, dia digantikan oleh Teuku Tjoet Muhamad Hassan Meuraxa. Tetapi, Muhamadiyah tidaklah “lekat” ke dalam masyarakat Aceh sendiri. Perserikatan itu hanya dimasuki oleh anak Minangkabau yang tinggal di Aceh, sejak dari Kuala Simpang sampai ke Takengon. Kecuali Aceh Barat, sebab disana jiwa penduduknya memang sudah dekat ke Minangkabau juga. Bertahun-tahun lamanya Muhamadiyah sebagai minyak dengan air dengan masyarakat Aceh asli.

Tetapi, sejak timbul pertentangan dengan PUSA ini, rupanya Teuku Tjoet telah mempergunakan perserikatan Muhamadiyah untuk politik yaitu mempertahankan kedudukan uleebalang.

“Bila bertemu denggan teman-teman di kalangan PUSA, yang selama ini  perhubungan baik, mreka melihat saya dengan mata kebencian. Sebab saya orang Muhamadiyah, mereka sangka  tentu saja saya membela uleebalang.. Mereka tidak dapat meperbedakan lagi di antara orang Muhamadiyah di luar Aceh dengan Muhamadiyah yang digunakan namanya oleh Teuku Tjoet Hassan.”

Pada satu kali konferensi Muhamadiyah diadakan di Meuredu. Perjalanan konferensi, yang saya sendiri pun turut hadir, diselenggarakan dengan kekuatan hulubalang di sana. Nampak jelas bahwa Muhamadiyah ketika itu menjadi alat di tangan kaum bangsawan. Tentu saja pihak PUSA, dan itu adalah rakyat, mengadakan pula konferensi demikian di dekat tempat itu juga. Dan tentu saja lebih ramai. Pada tanggal 7 desember 1941 itu, di samping kegentingan internasional, sudah amat jelas pula kegentingan di antara rakyat (jelmaannya ialah PUSA) dengan hulubalang (jelmaannya ialah Muhamadiyah). Saya sendiri bila bertemu denggan teman-teman di kalangan PUSA, yang selama ini ada perhubungan baik, telah melihat saya dengan mata kebencian. Sebab saya orang Muhamadiyah, pada sangka mereka tentu saja membela uleebalang.. Mereka tidak dapat meperbedakan lagi di antara orang Muhamadiyah di luar Aceh dengan Muhamadiyah yang digunakan namanya oleh Teuku Tjoet Hassan.

“Bagaimanakah akhirnya nanti?” tanya saya dalam hati. Pagi-pagi tanggal 8 Desember, dengan menumpang bus, saya kembali ke Medan. Kira-kira pukul 9 pagi, saya sampai di Kuala Simpang. Di sana istirahat hendak minum pagi. Tiba-tiba baru saja turun dari bus, seorang teman anggota Muhamadiyah di Kuala Simpang mendekat dan berkata dengan muka agak gugup: “Engku Haji! Orang telah perang! Tentara Jepang telah membom Pelabuhan Mutiara  kepunyaan Amerika semalam! Pagi ini serdadu-serdadu Belanda sudah ribut bersiap!”

“Sudah perang! sudah perang!”

Sampai di Medan kelihatanlah kegugupan dan kecemasan segala muka pucat dan semua orang memperkatakan, “Perang! Perang!” Belanda telah turut berperang, orang di mana-mana ribut, rusuh, takut, cemas. Dan mulailah bersegara:  Pindah! Pindah!

Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda