Tafsir

Ke Yerussalem, Kota Nabi-Nabi (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Mahasucilah Dia yang membuat hamba-Nya berjalan malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha, yang telah kami berkati sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kami. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (Q. 17:1).

Perjalanan Isra’  Rasulullah s.a.w.,  dari Mekah ke Baitil Maqdis (Al-Quds, Yerussalem), adalah perjalanan menggabungkan diri dengan induk. Sampai menjelang 620 M., saat dilakukakn hijrah yang bersejarah, Islam kenyataannya tetaplah satu “gejala lokal”, walaupun lokal yang besar. (Mekah, tempat agama ini disebarkan, adalah wakil dari satu wilayah kebudayaan yang luas, namun oleh letaknya yang relatif jauh dari peradaban, terlindung dari pandangan dunia). Dengan peristiwa Isra’, agama Muhammad s.a.w. yang “asing” ini mendatangi rumah besarnya yang sebenarnya, yakni Kemah Ibrahim, yang di dalamnya sudah lebih dulu berdiam agama-agama Yahudi dan Nasrani atau persisnya sisa-sisa peninggalan  ajaran Musa dan Isa ‘alaihimus salam.

Benar. Baitullah yang pertama kali terdapat di bumi adalah Ka’bah. “Adapun bait yang pertama diletakkan buat manusia adalah yang di Bakkah itu, yang mubarak dan menjadi petunjuk seluruh alam.” (Q. 3:96). Bakkah adalah nama kuno Mekah. Ibrahim sendiri yang membangun bait itu, bersama putranya, Isma’il, yakni meninggikan fondasi bangunan (Q. 2:127) dari reruntuhan bangunan lama yang menurut sebagian hadis (tak semuanya sahih) merupakan warisan Adam sendiri.

Tak ada seorang nabi dibangkitkan, tak ada peradaban apa pun kecuali syair-syair dan kehidupan keras padang pasir, wilayah yang secara kerohanian terpisah dari induknya, Kemah Ibrahim.  Sampai kemudian lahir Rasul terakhir pilihan Allah dari cabang keturunan Ibrahim yang terlupakan, yang sekarang kembali ke rumah induknya, ke tanah yang “sudah Kami berkati sekelilingnya”, untuk menjumpai semua saudaranya.”

Tetapi Ibrahim tidak tinggal di Mekah. Beliau pulang kembali ke negerinya di Kaldea, di utara, setiap usai mengunjungi Isma’il a.s. untuk beberapa keperluan (pembangunan Baitullah, misalnya, juga penyembelihan yang bersejarah itu). Sementara itu keturunan putra Ibrahim yang lain, Ishak a.s., menyebar di Timur Tengah Utara dan melahirkan banyak sekali raja dan nabi—hal yang sama sekali tidak terjadi dengan keturunan Isma’il. Selama lebih dari 10  abad Mekah dan sekitarnya praktis tenggelam. Tak ada seorang nabi dibangkitkan, tak ada peradaban apa pun kecuali syair-syair dan kehidupan keras padang pasir, wilayah yang secara kerohanian terpisah dari induknya, Kemah Ibrahim.

Sampai kemudian lahir Rasul terakhir pilihan Allah dari cabang keturunan Ibrahim yang terlupakan, yang, setelah dengan segala rintangan dan tangis membangun versi terakhir dari Agama yang Satu yang dahulu diajarkan bapak moyangnya itu, sekarang kembali ke rumah induknya, ke tanah yang “sudah Kami berkati sekelilingnya”, kata ayat di atas, untuk menjumpai semua saudaranya.

Itulah kiranya, arti peristiwa Isra’ dari segi ini. Dan itulah arti salat berjamaah yang dilakukan nabi kita itu dengan para nabi pendahulunnya, yang tentu saja semua sudah wafat, di Masjid Aqsa. Kenyataan bahwa beliaulah yang dimohon bertindak sebagai imam bisa juga tidak hanya menunjukkan bahwa beliaulah yang terbesar, tapi bahwa beliaulah yang semestinya, dan memang demikianlah sebenar-benarnya, dalam babakan kenabian yang akhir mewakili pengertian keibrahiman yang sejati.  “…. Agama moyang kalian, Ibrahim. Dialah yang menamai kamu orang muslimin, sejak dahulu maupun di sini, agar hendaknya Rasul menjadi saksi atas kalian, sedangkan kamu menjadi saksi atas manusia” (Q. 22:78) Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panjimas, 02-15 Oktober 2002   

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda