Tasawuf

Dari Kisah-kisah Pertobatan (Bagian 4)

Written by Panji Masyarakat

Orang yang telah bertobat senantiasa meningkatkan amal kebajikannya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Upaya peningkatan amal dari yang baik kepadayang lebih baik itulah yang disebut inabah. Peringkat di atasnya adalah aubah.

Taubah, Inabah, dan Aubah

Ketika kita mulai menjejakkan kaki di jalan kehidupan, di hadadapan kita terdapat sejulah jalan, yang bisa-bisa kita terjebak di jalan sesat. Ketika kita nyasar di jalan sesat, kita tidak boleh mengikutinya lebih jauh lagi. Kita harus kembali ke pangkal, menuju jalan yang lempang. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan, suatu kali Nabi s.a.w. sedang bersama beberapa sahabat. Beliau menggores-gores tanah dengan tongkat beliau, membuat garis lurus dan sejumlah garis di kiri-kanan garis itu, sembari menunjukkan garis-garis itu dengan jari telunjuknya: ‘Ini jalan lurus, dan sebelah-menyebelahnya jalan-jalan setan.” Beliau membaca ayat:  “Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yng lurus, maka ikutilah, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (lain) yang menyebabkan kamu bercerai-berai dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan-Nya kepadamu supaya kamu bertakwa (Q. 6:153).

Menurut Abu Ali ad-Daqaq (w. 405-412 H) – sebagai dikutip murid dan menantunya, Al-Qusyairi – tobat merupakan langkah awal menuju Ilahi, dan terdiri atas tiga peringkat, yaitu (1) taubah, (2) inabah, dan (3) aubah. Taubah adalah upaya kembali kepada Allah. Setelah itu, orang yang telah bertobat senantiasa meningkatkan amal kebajikannya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Upaya peningkatan amal dari yang baik kepadayang lebih baik itulah yang disebut inabah. Jadi, inabah bukan bertobat dari dosa, tetapi bertobat dari kekurangan-kekurangan dalam kebajikan menuju yang lebih sempurna.

Dikatakan pula oleh Ad-Daqaq, taubah adalah sifat orang beriman, sementara inabah sifat para wali dan orang-orang yang dekat kepada Allah (muqarrabin). Dalam hal ini dia merujuk firman Allah: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supata kamu beruntung.” (Q. 24:31). Menurutnya, ayat ini memberi peunjuk bahwa orang yang bertobat adalah mukmin.atau, bertobat adalah sifat mukmin.

“Aubah ialah bila orang bertobat kepada Allah bukan atas motovasi dosa atau pahala, seperti pada taubah dan inabah, tetapi semata-mata karena ingin dekat dengan-Nya dan senantiasa ingin bersama-Nya.”

Sedangkan tentang inabah, antara lain ditunjukkan oleh ayat: “Dan orang-orang yang menjauhi menyembah thagut dan kembali (inabah) kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita iti kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik. Mereka itulah yang telah diberi Allah petunjuk.” (q. 39: 17-18). Dalam ayat ini terlihat bahwa sifat orang yang inabah (munib) ialah memilih yang terbaik dari yang diperintahkan oleh Allah, sehingga dia memperoleh hidayah Allah dan dekat dengan-Nya.

Peringkat tertinggi dalam pertobatan,  yang disebut aubah, ialah bila orang bertobat kepada Allah bukan atas motovasi dosa atau pahala, seperti pada taubah dan inabah, tetapi semata-mata karena ingin dekat dengan-Nya dan senantiasa ingin bersama-Nya. Jadi, yang dilakukan oleh para ta’ib (orang yang bertobat) pada peringkat ini bukan lagi lari dari dosa untuk meraih kesucian, tetapi lari dari kelalaian terhadap Allah untuk senantiasa ingat kepada-Nya. Kondisi seperti inilah yang dikatakan Dzunnun al-Mishri (w. 246 H/861 M), “Orang awam bertobat dari dosa, sedangkan orang khawwash (istimewa) bertobat dari kelalaian (kepada Allah).”

Ketika sampai kepada peringkat itu, yang dikehendaki dengan tobat, kata Abul Husain an-Nuri (w. 295 H/908 M), bukan lagi masalah yang menyangkut dosa dan pahala, tetapi masalah kelalaian oleh kesibukan kepada selain Allah. Tobat yang demikianlah yang dilakukan para nabi dan rasul. Allah SWT memuji Nabi Dawud a.s.,  ketika dia sedang menyaksikan kuda-kuda yang bagus ia senantiasa ingat kepada Allah SWT, sebagai diungkapkan Alquran: “Dan Kami telah mengaruniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orag yang aubah (awwab). Ingatlah ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang waktu berhenti dan cepat waktu berlari, pada sore hari, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan kepada barang yng baik, karena ingat kepada Tuhanku’.” (Q. 38:30-31).***

Penulis:  Prof. Dr. Yunasril Ali, M.A.,  dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sumber: Panjimas, 13-25 Desember 2002

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka