Panji Milenial

Maraknya Kasus Perkawinan Anak, Bagaimana Nasib Indonesia?

PANJIMASYARAKAT – Melewati masa penataan era new normal, Indonesia berhadapan dengan peningkatan kasus pernikahan di bawah umur. 

“Memasuki periode 3/4 abad sejak merdeka, Indonesia masih menghadapi masalah yang menyangkut kesejahteraan kaum muda. Berbagai ancaman yang datang melibatkan pendidikan dan perkawinan usia dini,” ujar Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah 2016-2020, Dyah Puspitarini, S. Pd., M. Pd. pada acara sarasehan online bertajuk “Memandang Indonesia Setelah Satu Abad Kemerdekaan” yang diselenggarakan Panji Masyarakat dan Islamic Study Forum, Kamis (22/4/2021).

Di daerah tertentu seperti Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jakarta, jumlah pernikahan anak mengalami peningkatan. Selain keberadaan peran budaya, anggapan bahwa hubungan intimasi seperti pacaran harus diwujudkan langsung ke tahap pernikahan pun jadi sorot permasalahan.

Pernikahan di usia belia menimbulkan permasalahan baru yakni tingginya angka stunting di Indonesia. 

“Selain tidak meratanya pemerolehan pendidikan anak di berbagai daerah, ada masalah perkawinan yang mendorong peningkatan resiko stunting,” tutur Dyah.

Perkawinan di usia terlalu muda bisa menimbulkan stunting yang merupakan kondisi degradasi fisik dan mental pada anak. Kasus ini meningkat sejak pandemi, dari yang sebelumnya 28 persen menjadi 30 persen. Artinya, dari 10 anak yang lahir, tiga anak mengalami stunting.

“Permasalahan pada anak yang terjadi hari ini akan memiliki pengaruh besar pada Indonesia karena mereka adalah penerus generasi dan pemimpin di masa depan,” tegas Dyah pada forum webinar tersebut.

Selain perkawinan dini, negara ini pun berhadapan dengan tingginya kasus kekerasan pada anak dan perceraian. Dyah menyampaikan jika masalah ini terus dibiarkan pemerintah, bukan tidak mungkin korban kaum muda mengalami masalah di tahap tumbuh kembangnya.

Walau pandemi masih berlanjut hingga waktu yang tak dapat dipastikan, perubahan harus tetap berjalan. Perhatian dan pemberian solusi segera dari pemerintah merupakan harapan untuk Indonesia Satu Abad pada 2045 mendatang.

Dalam forum webinar yang dihadiri beberapa pembicara penting lain itu pun, Dyah menyampaikan closing statement-nya.

“Mau seperti apa bangsa Indonesia, itu tergantung dari kita, serta anak-anak dan para pemimpin kita. Jika kaum muda terjamin perkembangan dan kualitas pendidikannya oleh pemimpin adil yang mengayomi bangsa, Indonesia akan menjadi negara aman dan sejahtera.”

Editor: Yusnaeni

About the author

Tesya Imanisa

Tesya Imanisa merupakan content writer magang Panji Masyarakat batch 3. Saat ini ia tengah berkuliah di Universitas Gadjah Mada, jurusan Sastra Prancis.

Tinggalkan Komentar Anda