Jejak Islam

Ekspresi Penghambaan Sultan kepada Allah

Bicara soal masjid, sama sekali bukan monumen penanda kekuasaan pemimpin sebuah negeri, di Aceh hanya  menjadikannya salah sebuah sentrum penghambaan kepala negara terhadap Khaliknya – betapa tapak kesungguhan mengabdi seorang hamba bahkan seorang sultan sekalipun. Masjid di Aceh hanyalah menjadikannya titik berangkat pengabdian kesalihan sosial. Kalau Sultan saja unjuk kesalihan sosial berbasis masjid, apalagi rakyatnya.

Seiring sejarah panjangnya, Masjid Raya Baiturrahman peranannya demikian masyhur, mengikuti kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam sejak ratusan tahun yang lalu. Masjid Raya Batiturrahman adalah monumen signifikan dari perkembangan Islam di Nusantara. Ia juga merupakan saksi bisu dari sejarah panjang tanah Aceh dan perjuangan rakyatnya, konon telah menjadi muslim sejak abad pertama Hijriyah.

Menurut A. Hasymy (1971), dalam sejarahnya, masjid ini pernah merupakan Jami’ah (universitas) yang mempunyai berbagai dar (fakultas). Merujuk sumber lainnya, Abdullah dalam Herwandi (2003) menulis: selain Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim dan Masjid Musyahadah juga berfungsi sebagai “universitas” dan Masjid Raya Baiturrahman merupakan perguruan tinggi yang paling terkenal diantara ketiganya. Dan dalam peta wisata kontemporer, Masjid Raya Baiturrahman dipersepsikan ‘belum sempurna ke Banda Aceh jika belum ke Masjid Raya Baiturrahman.’

Masih kata sumber sejarah, Masjid Raya Baiturrahman dibangun pada masa Sultan Alaiddin Mahmud Syah I pada tahun 691 H (1292 M). Tentang sejarahnya, masih ada silang pendapat soal masjid itu. Kata peneliti lainnya, berita tentang awal berdirinya Masjid Raya Baiturrahman tersebut sulit diterima karena pada masa sebelum abad ke 16, sesungguhnya sejarah Aceh sama sekali berada dalam kegelapan asal usul kesultanannya pun kabur dan simpang siur karena cerita dari mulut ke mulut yang berbeda-beda (Djajadiningrat, 1982/83). Sekelumit cerita tentang dihubungkannya pembangunan Masjid Raya Baiturrahman oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah I, cucu Sultan Johan Syah akan sulit dibuktikannya berdasarkan sejarah sebab kronik-kronik yang ada dan dapat dipercaya menyebutkan bahwa pada tahun 1511 M, Aceh masih merupakan daerah taklukan Pedir (Pidie) pada tahun 919 H (Djajadiningrat, 1982/83).

Sejak berkuasanya Ali Mughayat Syah sebagai Sultan Aceh Darussalam yang pertama, maka sejarah Aceh menjadi jelas dan dapat dirunut kepada sultan-sultan selanjutnya. Dalam riwayat Sultan-sultan Aceh Darussalam sejak Ali Mughayat Syah (1514-1529 M) sampai Sultan Ali Riayat Syah atau Sultan Muda (1604-1707 M), sebagaimana dikemukakan Bustanus Salatin (Lombard, 1986). Memang dalam sejumlah penelitian, tidak disebutkan ihwal Masjid Raya Baiturrahman, namun demikian berdirinya Kesultanan Aceh pasca jatuhnya Malaka (1511) dan dipersatukannya Pasai menjadi wilayah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1524 M. Realitas itu diikuti oleh beralihnya pusat perdagangan, politik, kebudayaan, dan dakwah yang berarti pula beralihnya para pedagang, kaum cerdik pandai, budayawan, dan ulama/da’i dari dalam dan luar kepulauan Nusantara ke Aceh (Iskandar, 1996).

Kepastian yang diberikan Bustanus Salatin mengenai Sultan Iskandar Muda sebagai sultan yang membangun Masjid Raya Baiturrahman, ia menyebutkan bahwa,

”…pada tatkala Hijrah seribu empat puluh lima tahun…ialah yang berbuat Masjid Baitu’r-Rahman dan beberapa masjid pada tiap-tiap manzil.  Dan ialah yang mengeraskan agama Islam dan menyuruhkan segala rakyat shalat lima waktu, dan puasa Ramadhan dan puasa Sunnah, dan menegahkan sekalian mereka itu minum arak dan berjudi. Dan ialah yang membaiatkan baitul maal, dan ‘ushur negeri Aceh Darussalam, dan cukai pecan. Dan ialah yang sangat murah kurnianya akan segala rakyatnya, dan mengaruniai sedekah dan segala fakir dan miskin pada tiap-tiap berangkat shalat Jum’at.” (Iskandar, 1966)

Bahan rujukan sekitar masa berkuasanya Iskandar Muda (1607-1636 M), berdekatan dengan publikasi kitab Bustanus Salatin-nya Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, itu memapar fakta logis bahwa Masjid Raya Baiturrahman eksis dalam masa itu lebih mendekati kebenaran dibandingkan informasi bahwa Masjid itu telah ada jauh sebelumnya (dan kurang sahih pula menyebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda hanya memperbaiki dan memperluas Masjid Baiturrahman).

Perubahan demi Perubahan

Bicara tentang Masjid Raya Baiturrahman harus mengacu pada paparan sejarah, khususnya sejarah Banda Aceh. Adalah Manuel Godinho de Eredia (sebagaimana dikemukakan Reid & Ito Takeshi dalam Archipel 57, terkesan Masjid Raya Baiturrahman berbentuk bangunan batu bergaya Moor dengan kubah bulat menjulang, mirip bangunan mongolis dan fantastis. Tetapi, berdasarkan sketsa yang dibuat Peter Mundy tahun 1637 (Reid, 1989), Masjid Raya Baiturrahman menunjukkan ia berwujud bangunan dari kayu, dengan atap bertingkat-tingkat seperti bangunan keagamaan lainnya di Nusantara (Lombard, 1986).

Dari sketsa Peter Mundy yang mengabadikan bentuk Masjid Raya Baiturrahman dan suasana sekitarnya ketika ia menghadiri arak-arakan pada tanggal 26 April 1637 tersebut, jelas terlihat bahwa Masjid Raya Baiturrahman berbentuk bujur sangkar, atapnya empat tingkat, dikelilingi tembok bertungkap, dan arkade-arkade yang rupanya menuju ke bagian dalam dengan bubungan yang langsung tanpa menara, lebih menyerupai meru Bali daripada masjid-masjid di Timur  Tengah dan negara-negara Islam lainnya. Kenyataan yang demikian sebagai ciri khas bangunan asli keagamaan di Nusantara, yang mengawali model masjid-masjid di Minangkabau sekarang (Reid, 1989). Ini merujuk masjid-masjid di Aceh kuno sebelum di daerah ini berganti bentuk mengikuti Masjid Raya Baiturrahman sekarang.

Mungkin saja bangunan Masjid Raya Baiturrahman dalam sketsa ini dari akhir abad ke-17 merupakan bangunan Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun pasca kebakaran hebat yang menghanguskan istana sultan bersama Masjid Raya Baiturrahman pada masa Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678).

Selanjutnya dalam peta-peta Aceh lainnya, seperti dalam peta Florence, menunjukkan bentuk bangunan Masjid Raya Baiturahman dengan atap bertingkat tiga bertahan sampai menjelang kebakarannya pada jam 8.00 hari Minggu 8 Safar 1290, ketika pasukan meriam Belanda menembakkan peluru api ke arahnya (Naskah Kuno tentang Pendaratan Tentara Belanda 1873, tanpa tahun). Bentuk Masjid Raya Baiturrahman yang seperti itulah yang kemudian diabadikan dalam bentuk maket – konon kini masih tersimpan di Museum Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Masjid Baiturrahman Aceh dalam peta Florence (1667)

Gambaran lebih jauh mengenai bentuk Masjid Raya Baiturrahman selain pemerian dari peta ke peta tersebut pada paparan sebelumnya, bisa disimak pemerian yang dipaparkan Hikayat Aceh yang mengungkapkan,

“…ada dalam negeri ini [Aceh] itu sebuah masjid terlalu besar dan terlalu tinggi kemuncaknya daripada perak yang diapit dengan cermin balur. Maka ada segala orang yang shalat dalamnya terlalu banyak. Maka pada penglihatan kami diperhamba yang mengatasi banyak orang shalat daripada dalam masjid itu hanya masjid yang dalam Haram Makkah hyang mulia itu jua, Maka masjid yang segala negeri yang lain tiada seperti dalam masjid itu, hanya kebaruan jua. Maka ada luas masjid itu seyogyanya mata memandang dan ada mimbarnya daripada mas dan kemuncak mimbar itu daripada suasa. Maka disebutlah orang pada puji-pujian di mulut orang banyak: “sayyidina as-sultan Perkasa ‘Alam Johan berdaulat sahibu’l-barrain wa’l Bahrain”, yakni tuan kami Sultan Perkasa Alam yang mengempukan dua darat dan dua laut, yakni darat dan laut masyrik maghrib.” (dalam Iskandar, 1986).

Masjid Baiturrahman Satu Kubah
Masjid Baiturrahman Tiga Kubah

Pada rujukan lainnya, ada pemerian seputar pelaksanaan ritual dalam hari-hari besar di Aceh. Ke tempat itulah Sultan datang dengan upacara besar untuk bershalat bersama rakyatnya (Lombard, 1986) pada tiap-tiap sehari sebelum puasa (megang puasa), malam 27 bulan Ramadhan (lailatulkadar), dan pada 10 Zulhijjah (hari raya haji atau Idul Adha) yang merupakan hari-hari besar masyarakat muslim di Aceh pada abad ke-17 (Reid, 1989).

Sultan datang dan shalat pada upacara besar, misalnhya sebagaimana digambarkan dalam Adat majelis hadirat Syah Alam, berangkat ke Masjid Baiturrahman dengan arak-arakan besar pada hari ke-10 bulan Zulhijjah untuk shalat Hari Raya Haji, di mana prosesi iring-iringanna yang paling khidmat dan digambarkan dengan terperinci sekali (barisan berkuda, gajah, dan pengawal pribadi). Setelah beshalat di masjid bersama Syaikh Syamsuddin, Sultan pergi ke tempat rajapaksi, tempat di mana hewan-hewan kurban telah diikat di bawah kemah; Sultan menghunjamkan belati emas ke leher hewan pertama dan begitu tetesan darah pertama, belati itu diserahkan kepada Syaikh Syamsuddin yang menghabiskan nyawa binatang tersebut. Hewan-hewan lain dikurbankan oleh Kadhi Malikul Adil dan pembantu-pembantunya, dan dagingnya kemudian dibawa ke istana untuk dibagi-bagikan kepada rakyat. Adapun Sultan, naik gajahnya kembali, lalu pulang dielu-elukan oleh rakyat yang berdesak-desakan hendak melihatnya. Sesampainya di istana, ia diterima oleh ibu, sementara wanita-wanita tua dari Dalam (istana) melembarinya dengan beras kuning bergenggam-genggam (Lombard, 1986)

Dibangun Kembali dan Berubah Bentuk

Bangunan pertama Masjid Raya Baiturrahman yang indah dan terbesar, dibangun oleh Sultan Islandar Muda pada tahun 1614 M, telah lenyap terbakar (Lombard, 1986) pada masa kekuasaan Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-78)ketika terjadi pergolakan antara kaum Wujudiyyah yang berfaham bahwa kerajaan yang dipimpin oleh perempuan tidak sah dan itu kerakhir pada kepanikan yang mengakibatkan istana dan Masjid musnah terbakar.

Dalam kebakaran tersebut tidak hanya istana dan masjid yang musnah, juga perpustakaan masjid yang memiliki berbagai kitab dalam jumlah sangat besar (A. Hasymy, dalam Puteh & Irham, 2002). Kemudian Masjid Raya Baiturrahman dibangun lagi, tidak jelas benar apakah setelah terbakar habis pada masa Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678) masjid itu langsung dibangun, ataukah pada masa Sultanah Inayah Syah Zakiyatuddin Syah (1678-1688) yang menggantikannya. Akan tetapi mengingat Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid utama dan berada di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam, tentulah pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan saat itu juga dan tidak mungkin kesultanan membiarkannya terbengkalai begitu lama sampai pada masa Sultanah berikutnya.

Pasar Kerbau di depan Masjid Baiturrahman

Bangunan Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun pasca kebakaran pada masa Sultanah Nurul Alam Baqiyatuddin Syah tersebut, terakhir dipugar secara luar biasa dengan gotong-royong masyarakat di bawah pimpinan Habib Abdudurrahman Az-Zahir, tokoh yang dikagumi dan disegani banyak orang (Hurgronje, 1996). Ia ini menjabat Mangkubumi Kesultanan Aceh Darussalam menjelang perang Belanda di Aceh (1873 M). Namun pada permulaan perang Belanda di Aceh tanggal 1873 Masjid Raya Baiturrahman sekali lahi musnah terbakar, disambar peluru Meriam pasukan Belanda dari Kampung Meuraksa. Keterangan dari kronik berbahasa campuran Melayu-Aceh menjelaskan,

…tatkala Hijratun Nabi  Sallalahu alaihi wa sallam seribu dua ratus tahun sikureung ploh pada tahun Dal pada duapuluh tiga hari bulan Muharram pada hari Sabtu pada poh jam jam pukul satu maka datang Belanda kepada Nanggroe Aceh. Maka Belanda [me]nanti pada laut teupat Pasi Meuraksa serta dengan kapal. Maka orang Aceh [menanti] pada tepi laut, pertama pada Kuta Makkah, dan kedua Kuta Bugis, dan ketiga pada Kuta Bak Me dan lainnya semuanya demikian jua. Maka jadi perang dengan orang Aceh pada delapan hari bulan Safar pada hari Alhad pada poh lapan jam, maka Belanda itu jipeumeuriam pada hari itu, maka tiada dapat tahan orang Islam, maka sampai Belanda itu ke darat, maka bertemu dengan orang Islam pada teupin laot ada orang tunong ada orang baroh, maka pada hari itu [perang] sangat besar, maka orang Islam ada mati pertama Teuku Imum Krak dan Teuku Ramassetia dan lain-lain ada syahid, maka hari itu talo orang Islam, maka orang Islam itu kembali kepada Masjid Raya, maka Belanda itu duduk [di] Kampung Meuraksa, maka jilalu u blang teuma jipermeuriam u Meuseujid Raya, maka orang Aceh duduk di sana geulawan prang dengan Belanda serta jipeumeuriam deungon boh periuk api tutong sare Meuseujid Raya, maka orang Aceh itu kembali dalam Kuta Batee serta rakyat dan huleebalang, maka Belanda itu [me]nanti pada Blang Padang… (Naskah Kuno Tentang Pendaratan Tentara Belanda 1873, tanpa tahun)

Peta Masjid Baiturrahman Aceh

Setelah kebakaran itu, lenyaplah wajah Masjid Raya Baiturrahman lama dan berganti dengan wajah baru ketika 6 tahun kemudian dalam rangka mengambil hati rakyat Aceh, Pemerintah Militer Belanda pada masa Gubernur Militer Jenderal Mayor K. van Der Hayden (1879-1881) membangun kembali dalam bentuk bangunan batu bergaya Moor diarsiteki De Bruen. Masjid Raya Baiturrahman saat pertama dibangun berkubah satu yang kemudian diperluas pada masa Gubernur Militer A.P.H. van Aken (antara 1935-1936) menjadi tiga kubah. Selanjutnya dalam masa kemerdekaan Indonesia, yaitu pada masa Gubernur A. Hasymy (antara 1958-1967) masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut diperluas lagi menjadi lima kubah. Terakhir, pada masa Gubernur Ibrahim Hasan (antara 1987-1993) Masjid Raya Baiturrahim diperluas lagi menjadi tujuh kubah.

——-

Rujukan

A. Hasymy, Sinar Darussalam, (1971), No. 36. Juli

Herwandi, Bungong Kalimah: Kaligrafi Ialam dalam Tasawuf Aceh (Abad 16-18), (2003), Padang: Andalas University Press,

Lombard, Denys, Kerajaan Atjeh, Jaman Iskandar Muda 1607-1636 (1986), Balai Pustaka, Jakarta

Reid, Anthony. Elephant and Water in The Feasting of Seventeent Century Aceh, (1989) dalam Journal of The Malaysian Bransh of The Royal Society (JMBRAS) Volume LXII Part II

Hurgronje, C. Snouk, Aceh: Rakyat dan Adat-istiadatnya (1996), terjemahan Sutan Maimoen, Jakarta: INIS.

Iskandar, Teuku, Nur’ud-din ar-Raniri: Bustanus-Salatin Bab II Fasal 13 (1966). Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

Iskandar, Teuku, Hikayat Aceh: Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda. (1986) Alihbahasa Aboe Bakar BSF. Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Negeri Aceh.

Iskandar, Teuku, Kesusastraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, (1996) Libra, Jakarta

Puteh, M. Djakfar & Irham, Mohammad, Masjid Raya Baiturrahman dalam Lintasan Sejarah Aceh (2002), dalam Buletin Wisata Aceh No. XXX/September-Desember. Banda Aceh: Dinas Pariwisata Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda