Pengalaman Religius

Khofifah Indar Parawansa (2): Wirid dan Zikir, Kunci Mengingat Allah

Written by Panji Masyarakat

Pada Pemilu 1992 Khofifah terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan Jawa Timur. Ia ditunjuk sebagai wakil ketua Komisi VIII yang membidangi Kesejahteraan Rakyat. Pada pemilu terakhir Orde Baru (1997) ia terpilih kembali, dan menjadi bintang pada Sidang Umum MPR RI 1997-1998, yang akhirnya memilih kembali Presiden Soeharto pada  11 Maret 1998. Setelah Soeharto mundur pada 21 Mei 1998 dan digantikan Wapres B.J. Habibie, Indonesia memasuki era baru dalam kehidupan politik. Banyak partai didirikan, dan di antara ratusan partai politik yang muncul saat itu salah satunya Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan Gus Dur dan sejumlah tokoh NU. Khofifah pun meninggalkan parlemen dan bergabung dengan PKB, dan menduduki posisi  ketua DPP, yang bertugas  memenangkan  pemilu. Berikut ini adalah kelanjutan dari cerita pengalaman religius Khofifah, menteri Sosial pada kabinet  Jokowi Jilid I  dan  kini menjadi gubernur Jawa Timur. Wawancara dengan Panji Masyarakat berlangsung pada Juli 1999, di rumah kontrakannya yang nyempil di sebuah gang sempit di bilangan Jakarta Timur.

Terus terang saya tidak punya bayangan bagaimana kerja para wakil rakyat, kecuali sepenggal syair lagu Iwan Fals, “Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat”. Meski sederhana, ternyata penggalan syair yang sarat makna ini sanggup membentuk kesadaran pada diri untuk sekuat tenaga mengabdikan diri bagi kepentingan rakyat. Allah berfirman: “Lakukanlah sesuai kemampuan apa yang bisa engkau lakukan.” Tekad saya hanya satu: bekerja sebaik mungkin sesuai kemampuan. Dan itulah ijtihad, seperti dikatakan Ibu Hj. Siti Zaenab,  guru saya di SMA. Dan meskipun padat masa persidangan, tak ada halangan bagi saya untuk menjalankan ibadah sebaik-baiknya.

Saat pertama kali memasuki Komisi VIII Bidang Kesejahteraan Rakyat, muncul keyakinan memang di bidang inilah saya mampu berbuat. Spesifikasi kemampuan tampak lebih memberikan manfaat guna menuntaskan persoalan. Saya memang tidak bisa menjadi seorang generalis. Pernah datang kepada saya seseorang yang hendak membicarakan masalah tanah, orang ini langsung saya antar ke komisi yang membidangi masalah tersebut.

Pertolongan Allah Itu Niscaya

Sejak kecil ibu saya telah menanamkan nilai-nilai agama kepada putra-putrinya. Bila sore hari tiba, Ibu menyuruh kami pergi mengaji. Jika menolak, beliau akan marah besar. : “Apa kamu sudah menjadi ustadzah? Kalau sudah jadi ustadzah, tidak mau mengaji, tidak apa-apa,”  katanya.

Ibu senantiasa pula mendorong kami agar memiliki amalan yang istiqamah, ajek alias rutin. “Khofifah, kalau kamu kuat mengaji, ya rajinlah mengaji. Kalau kuat bertahajud, lakukanlah tahajud. Jika kuat berpuasa Senin-Kamis, berpuasalah Senin-Kamis. Bila kuat membaca wirid, berwiridlah,“ pesan ibu saya dulu. Bila ternyata saya bisa melakukan semua amalan tadi, kata Ibu, “Lakukanlah semuanya.”

Tampaknya Ibu menggunakan filosofi batu. Kerasnya batu bisa ditembus tetesan-tetesan air secara terus menerus. Konsistensi beribadah akan mendekatkan orang kepada Allah, sang Pencipta. Pantaskah jika manusia saat ditimpa musibah bersegera minta pertolongan kepada Allah, sementara selama ini ia enggan beribadah? Lagi-lagi saya teringat petuah ibu, “Pertolongan Allah adalah keniscayaan bila manusia menjalin ikatan dengan-Nya.” Wirid dan zikir pun tidak pernah saya lupa. Bila pikiran selalu mengingat Allah, apa pun keinginan kita  insya Allah akan terkabulkan.

Penanaman sikap istiqamah ternyata membawa pengaruh bagi konsistensi sikap saya saat dewasa. Kalau ada masalah, saya mendalami persoalan itu tanpa tanggung-tanggung. Nyatanya berkat pengetahuan yang saya gali sepenuh hati, masalah tersebut bisa saya atasi.

Ada orang yang cepat bingung dan putus asa saat terbentur masalah. Tapi buat saya, tidak ada masalah yang membebani sepanjang ada kemampuan, pengetahuan, dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah.

Kini (Juli 1999, red), misalnya, saya bukan lagi anggota DPR (karena Khofifah memilih bergabung dengan PKB pada 1998, red). Mestinya timbul masalah, terutama menyangkut masalah keuangan. Tapi alhamdulillah, di tengah zaman krisis seperti ini, saya masih bisa bertahan. Ritme kehidupan pun tidak berubah, dan kesibukan politik tidak berkurang.   

Setiap selesai salat, sampai sekarang, saya tak pernah lupa mengucap syukur kepada Allah. Sejak kecil memang saya sudah diajar Ibu untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Berapa pun rezeki yang datang hari ini, kata Ibu, ucapkanlah “Alhamdulillah”. Sebab, Allah berfirman: “La-in  syakartum la-azidannakum wala-in kafartum inna adzabii la-syadiid (Sesungguhnya jika kamu  bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat), kepadamu, tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka azab-Ku sangat berat.”

Bersambung

Penulis: Elly Burhani Faizal (wartawan Majalah Panji Masyarakat, 1998-2001, kini bekerja di The Jakarta Post). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli 1999.         

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda