Cakrawala

Kenikmatan Mencintai Allah

Sebuah tayangan di YouTube yang menunjukkan bagaimana seekor induk ayam melindungi telur dan anak-anaknya cukup menyentuh. Ketika mengerami telur dan anak-anaknya, seekor ular datang menghampiri bermaksud memangsa anak dan telur ayam itu. Tanpa bangkit dari mengeram, induk ayam itu bertarung dengan ular yang ganas tersebut dengan mematuk ular yang juga melancarkan serangan bertubi-tubi. Gigihnya induk ayam itu bertahan dari patukan ular, akhirnya binatang melata itu meluncur menjauh dari induk ayam betina.

Episode di atas menunjukkan betapa para hewan dianugerahi insting  rasa cinta pada anak-anaknya, sehingga betapapun besar marabahaya yang datang ia hadang dengan mempertaruhkan nyawanya.

Rasa cinta adalah anugerah Ilahi yang diberikan kepada setiap makhluk Allah, termasuk manusia. Dengan rasa cinta seorang ayah bekerja keras menguras keringat untuk memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anaknya, tanpa merasa lelah. Saya melihat bagaimana para pekerja kasar atau buruh di pelabuhan mengangkut barang yang cukup berat di atas punggungnya. Semuanya itu demi mendapatkan kocek untuk membeli sembako bagi anak isterinya yang menunggu di rumah.

Dengan rasa cinta yang diletakkan di hati manusia oleh Allah hidup ini terasa nyaman dan damai. Dengan cinta manusia mau berkorban untuk orang lain, menolong dan meringankan beban orang yang mengalami kesusahan. Padahal, kalau ia berfikir secara egoistis dan ekonomi, pengorbanan itu secara materil merugikan dirinya.

Kita bisa bayangkan seandainya dalam hidup ini Yang Maha Kuasa tidak menanamkan rasa cinta ke dalam jiwa setiap insan maka kehidupan di bumi ini tidak akan henti dari kekacauan. Setiap orang hanya akan peduli dengan kepentingannya, dan secara arogan menunjukkan kekuatannya terhadap orang lain.

Namun, perlu pula disadari bahwa cinta yang membuat kehidupan ini menjadi nyaman bisa juga melahirkan kehancuran dalam hidup manusia. Cinta yang hanya terpusat kepada diri sendiri, keluarga dan kelompok akan melahirkan sifat tamak dan serakah. Dari sinilah lahir perilaku korupsi yang tujuannya untuk memperkaya diri sendiri, kelompok, partai atau golongan.

Cinta yang difokuskan untuk kepentingan diri sendiri adalah cinta yang sempit dan tidak mampu memancarkan kebahagiaan bagi orang lain. Cinta yang terbatas ini justru melahirkan konflik karena di luar diri kita ada juga orang lain yang punya teritori cinta yang harus dijaga. Jika dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan berbangsa yang tercipta adalah cinta yang fanatik ini maka yang terjadi adalah kehidupan yang penuh saling curiga, ketegangan dan permusuhan.

Melihat kenyataan itu maka diperlukan kekuatan yang mampu menembus cinta terbatas ini sehingga yang berkembang adalah cinta yang lebih luas. Yaitu yang bukan hanya bagi diri sendiri , tetapi juga mencintai orang lain, lingkungan dan makhluk  di luar manusia. Namun, selain itu semua cinta yang paling menentukan dalam hidup ini adalah cinta kepada Allah, kepada Yang Maha Kuasa yang telah menjadikan alam ini.

Cinta Allah lahirkan kebaikan

Kalau kita mencintai Allah karena Dia adalah pencipta kehidupan ini dan penjamin segala kebutuhan makhluk. Dan, manusia adalah ciptaan-Nya yang memiliki derajat tertinggi di bumi ini dengan berbagai kelebihan yang diberikan-Nya dibanding makhluk lain. Terutama, akal dan fikiran yang menjadikan manusia memiliki kecerdasan sehingga dapat mengolah alam ini menjadi bahan yang produktif bagi kehidupan manusia.

Tuhan yang kita cintai itu juga memiliki sifat-sifat yang baik, seperti Rahman dan Rahim, pemberi ampun, penerima taubat dari makhluknya yang berdosa,  pemberi rezeki dan melindungi serta menolong manusia yang sedang menderita. Allah, juga adalah Tuhan yang maha kekal, abadi dan tidak berkesudahan.

Dengan kesempurnaan sifat-sifat yang dimiliki Allah maka tepat kalau Allah satu-satunya yang kita cintai dan beriman kepada-Nya. Sebab, mencintai seorang Pencipta adalah lebih mulia dari pada mencintai makhluk yang bersifat  pana.  Disamping itu mencintai Allah mendorong lahirnya sifat-sifat yang mulia pada manusia. Sebab, Allah hanya bisa menerima cinta dari orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang baik, tidak mungkin Allah mencintai manusia yang durjana.

Sebagai konsekuensi kecintaan manusia kepada Allah maka secara otomatis manusia akan mematuhi semua perintah Allah. Terutama, perintah-perintah yang wajib dikerjakan seperti ibadah-ibadah fardhu. Tidak sebatas itu, dorongan kecintaan yang mendalam kepada Allah menyebabkan manusia tidak merasa cukup dengan melaksanakan ibadah wajib semata, tetapi juga memiliki motivasi yang kuat mengerjakan amalan-amalan sunat. Disamping itu, manusia pun terdorong pula untuk berbuat kebaikan pada sesama, karena ini jalan pula baginya untuk menyatakan cintanya kepada Allah. Seperti seorang kekasih yang akan selalu berbuat dan menyenangkan hati kekasihnya dengan melakukan apa yang disenangi kekasihnya.

Jadi seorang yang mencintai Allah akan merasakan nikmat beribadah dan beramal. Inipun tentu terkait dengan keyakinannya bahwa hidup di dunia dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh bukanlah kenikmatan yang hakiki, hanya bersifat sementara dan cepat berlalu. Bahwa, suatu saat kenikmatan di dunia ini bisa saja lenyap atau lepas dari genggaman,, baik karena harta habis terpakai, kena musibah atau kematian yang dialami. Berbeda dengan orang yang meyakini adanya kebahagiaan ukhrowi, hidupnya punya tujuan,   ada terminal yang dituju yang diyakininya bahwa itulah kebahagiaan yang sesungguhnya, yang kekal tanpa akhir. Keyakinan ini memberikan kenikmatan baginya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia dan alam sekitarnya.

Karena manusia berada dalam kehidupan yang riil memang tidak mudah untuk menumbuhkan rasa cinta yang total kepada Allah. Manusia disamping diberikan akal dan dibimbing oleh wahyu yang disampaikan para Rasul kepada manusia, juga dilengkapi nafsu  atau syahwat yang cenderung pada kenikmatan lahiriah. Dan kenikmatan duniawi ini begitu kuat mempengaruhi jiwa manusia, seperti kecintaan pada harta, anak, orang tua, saudara, pangkat, jabatan dan lain sebagainya.

Inilah yang dengan tegas dipaparkan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 14. ,” Dijadikan indah ( pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak , kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang,. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali (surga)”.

Namun, Allah mengingatkan cinta yang total hendaknya ditujukan semata kepada Allah, sebab cinta pada kehidupan duniawi dan benda-benda yang terdapat di dalamnya tidak mampu memberikan kepuasan yang hakiki, bahkan dapat menghancurkan kehidupan manusia. Sebaliknya, cinta kepada Allah membawa manusia pada kebahagiaan yang sesungguhnya dan  bersifat abadi. Dan, itulah yang disebut kebahagiaan ukhrawi pada kehidupan akhirat nanti.

Disinilah manusia dituntut untuk mampu mengendalikan nafsunya sehingga mata batinnya dapat melihat kebahagiaan yang lebih hakiki, abadi dan kekal untuk selamanya. Dan, kebahagiaan itu bersumber dari perasaan cinta yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Allahu ‘alam bissawab.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda