Jejak Islam

Damaskus, Pusat Peradaban Islam Abad VII-VIII Masehi (3)

Dilihat dari sudut kebesaran,  Kota Damaskus, yang lebih kecil dibandingkan Jakarta dan bahkan Medan,  penuh dengan peninggalan budaya yang agung. Lebih dari 4.000 tahun di kota ini berkembang kebudayaan dan peradaban besar, mulai dari Kerajaan Assyria, Dinasti Sassanid (Yunani) sampai menjadi ibu kota Dinasti Umaiyah.

Di dalam sejarah Islam terdapat tiga buah ahalla (kerajaan atau imperium. Pertama, ahalla Umaiyah, dari tahun 661 M dengan naiknya Muawiyah menjadi raja pertama hingga 750 M ketika raja Umaiyah terusir  dari Damaskus. Kedua,  ahalla Abbasiyah dari 750 M sampai dengan 1258 M. Ahalla ini secara menyakitkan dihancurleburkan oleh bangsa Tartar di bawah Hulu Khan. Ketiga,  ahalla Fatimiyah yang menyaatakan dirinya keturunan Ali ibn Abi Thalib.

Prinsip ahalla adalah memberikan kestabilan politik walaupun dalam kenyataannya jarang sekali didapat. Kecakapan Muawiyah dalam pemerintahan sangat luar biasa. Dari Damaskus sebagai pusat kerajaan dibentuklah dari masyarakat muslim yang kacau menuju masyarakat muslim yang teratur. Tentaranya  terkenal yang paling berdisiplin dalam sejarah peperangan Islam. Ahli-ahli sejarah juga mengatakan, di dalam sejarah Islam, Muawiyah-lah yang pertama kali mendirikan balai-balai pendaftaran dan menaruh perhatian atas jawatan pos yang tidak lama kemudian berkembang menjadi suatu susunan teratur yang menghubungkan berbagai bagian negara. Kota Damaskus masih menyisakan kebesaran bekas Kerajaan Umaiyah (661-750 M). Salah satu bukti kebesarannya adalah masjid agung di Damaskus yang mereka sebut Masjid Umaiyah.

Ketika kami mengunjungi Masjid Umaiyah, meski agak kumuh karena kurangnya pemeliharaan, keagungan arsitektur dan dekorasi masjid ini masih tampak sangat megah.

Satu lagi objek wisata Damaskus yang dapat kita lihat adalah Museum Negara Republik Syiria. Di Museum ini dipamerkan karya budaya berupa koleksi-koleksi agung dari zaman Romawi, Yunani (Hellenistik), dan tentu saja koleksi Islam. Di museum ini  kita bisa melihat perkembangan peradaban Kota Damaskus karena disini kita bisa melihat artefak-artefak kuno peninggalan zaman Romawi, Yunani,  daan awal perkembangan Islam.

Kota Damaskus, sebagai kota metropolitan, tidaklah seramai Jakarta. Bahkan dibanding dengan Medan, Damaskus masih kurang ramai. Namun ketika saya ikut salat Jumat di Masjid Umaiyah, jamaahnya membludak sampai ke pelataran masjid, padahal masjidnya sendiri cukup luas.

Dilihat dari sudut kebesaran,  Kota Damaskus penuh dengan peninggalan budaya yang agung. Lebih dari 4.000 tahun di kota ini berkembang kebudayaan dan peradaban besar, mulai dari Kerajaan Assyria, Dinasti Sassanid (Yunani) sampai menjadi ibu kota Dinasti Umaiyah.

Suatu hal yang menarik, ketika saya berkeliling Kota, adalah harga barang-barang di sini relatif murah dibandingkan dengan harga barang-barang di Jakarta, terutama pakaian. Sebuah jas lengkap berbahan wol dapat kita peroleh dengan harga sekitar Rp 75.000. Kemeja yang bagus kalau dirupiahkan hanya sekitar Rp 15.000.

Barang-barang kerajinan yang terbuat dari alumunium dan logam dengan tulisan kaligrafi dapat diperoleh dengan harga yang relatif murah. Dengan uang Rp 10.000-20.000 kita akan memperoleh suvenir sebuah pahatan dari bahan alumunium yang diberi warna emas yang menggambarkan sudut Kota Damaskus, Masjid Umaiyah, kaligrafi, dan sebagainya.

Salah satu hal mengenaskan selama kami menghadiri seminar adalah pemeran kaligrafi Islam dan Arabes. Pesertanya adalah  negara-negara yang menghadiri seminar, di antaranya dari Afrika Selatan.

Bertemu Keturunan Syekh Yusuf Makassar

Ketika berdiskusi dengan peserta dari Afrika Selatan bernama Muhammad, yang juga ikut pameran, kami juga sempat mengobrol panjang lebar tentang Afrika Selatan pada abad ke-17-19 M. Muhammad yang kulit wajahnya tidak menunjukan ciri Melayu tapi lebih menunjukan ciri India Selatan itu mengaku dirinya keturunan Syekh Yusuf Makassar. Kok seperti India? Kata dia, karena nenek moyangnya yang Melayu itu kemudian menikah dengan keturunan India sehingga wajahnya setengah Melayu dan setengah India.

Saya katakan kepada dia, sebagai orang Indonesia yang mempelajari Sejarah Banten saya sangat mengagumi Syekh Yusuf karena beliau, bernama Sultan Ageng Tirtayasa, sangat gigih melawan Belanda. Ia ditawan dan dibuang Belanda, mula-mula ke Ceylon lalu ke CapeTown, Afrika Selatan. Di sana beliau mengajarkan agama Islam dan memiliki banyak murid serta keturunannya, di antaranya teman saya Muhammad itu.

Adapun jalannya seminar cukup lancar dan hangat. Tiga bahasa digunakan sebagai bahasa resmi dalam diskusi maupun presentasi makalah, yakni Bahasa Arab, Inggris, dan Prancis. Ketika saya mempresentasikan makalah berjudul Note on the Designs and Patterns in Calligraphy Based on Archaeological Objects (Catatan tentang Desain dan Dasar Kaligrafi Indonesia Berdasarkan Data Arkeologi) presentasi saya disampaikan dalam bahasa Inggris dan diskusi dilaksanakan dalam bahasa Arab, Inggris, dan Prancis dengan bantuan penerjemah yang disediakan oleh panitia.

Saya sangat terkesan dengan pameran Arabes yang diselenggarakan oleh panitia. Berbagai karya Islam yang bermutu tinggi dipamerkan, terutama dari tuan rumah yang sangat kaya akan karya-karya Arabes. Seminar ditutup pada 10 Januari 1997 oleh Presiden Republik Syiria Hafedz Al-Assad (kini sudah almarhum). Panitia ketika itu membisikan kepada saya agar seminar yang akan datang dapat diselenggarakan di Indonesia dengan alasan Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Saya menyatakan akan menyampaikan hal tersebut kepada pemerintah. Namun tahun 1998 terjadi krisis politik sehingga sampai sekarang (2002, red)  Indonesia tidak disebut-sebut lagi.

Penulis: Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (1939-2006).  Semasa hidupnya dikenal sebagai arkeolog, pakar kepurbakalaan Islam. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini pernah menjabat kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Sumber: Majalah Panjimas, 13-26 November 2002.  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda