Pengalaman Religius

Dewi Hughes (2): Ma, Hughes Mau Masuk Katolik

Written by Asih Arimurti

Pindah dari Kota Serang yang lingkungan keislamannya kental, Dewi Hughes masuk sekolah Katolik di Jakarta. Terkesan dengan suster dan pastor yang menjalani kehidupan yang suci dan sederhana, ia pun meminta izin ibunya masuk Katolik. Sampai kapan?

Akhirnya,  esoknya saya dibelikan mukena. Wah, senang sekali rasanya, bisa sama dengan teman-teman. Perbuatan saya dengan merobek gorden jendela itu kira-kira berjalan seminggu. Selama itu, untungnya, saya tidak merasa menderita atau pun tersiksa. Dorongan datang dari saudara sepupu saya yang juga islam, yang sering berkunjung ke rumah. Namanya Aa Iko. Kalau dia datang, Mama bilang, “Tuh Aa sudah datang.” Langsung deh saya bilang, “Aa sembahyang, yuk.” Aa lalu menemani saya salat.

Yang berbuat seperti itu  (di tengah keluarga) hanya saya sendiri. Kakak-kakak sudah besar, masing-masing sudah sekolah di SMP Kristen. Jadi, begitu pindah, mereka tinggal melanjutkan. Meski di Serang belum banyak sekolah Kristen. Sementara Ayah-Ibu, yang keduanya Hindu, memilih sembahyang di gereja. Untungnya mereka bukan penganut Hindu yang fanatik. Jadi, ketika melihat kenyataan bahwa di Serang tidak ada pura, mereka membiarkan anak-anaknya untuk memilih cara masing-masing dalam bersembahyang, Yang penting pesan mereka, “Kalian harus tetap sembahyang. Bagaimanapun caranya.” Jadi, terkadang aku pun ikut ke gereja, mengantar Ayah, Ibu dan Kakak. Pulangnya, aku jemput lagi mereka. kadang juga aku tunggu di luar di parkiran, selama mereka berdoa.

Masuk Katolik    

Waktu saya SMP, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Saat itu orang-orang di rumah sudah macam-macam agamanya. Kakak dan Ayah masuk Kristen, sedang kakak yang lain ada yang tetap Hindu bersama ibu. Saya kalau dihitung secara tidak sadar, adalah orang pertama yang sejak semula masuk Islam. Tapi, karena kita pindah ke Jakarta, dan saya lalu masuk ke SMP Katolik Slamet Riyadi, otomatis kehidupan keberagamaan saya berubah. Nah, di situlah saya menemukan proses belajar agama yang penuh kedamaian. Kristen itu bagus sekali. Mereka selalu mengajarkan tentang kasih, ‘kasih, dan kasih. Kalau Islam kan tidak. “Islam dong,  Islam”, begitu yang sering didengungkan. Padahal kelakuan sehari-harinya tidak ada kasih, jorok. Pokoknya Islam itu kumuh.

Nah, saya lalu jatuh cinta pada suster dan pastur. Saya melihat mereka itu sucinya luar biasa. Mereka mensucikan kehidupan mereka. Saya melihat, mereka juga termasuk orang-orang pilihan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi seperti mereka. Pikirku, “Ah, gue pingin jadi biarawati saja. Seru kayaknya. Hidupnya damai.” Dan memang, dari kecil saya punya satu keinginan, saya ingin hidup yang damai. Yang saya cari itu, damai, tenteram.

Kalau melihat di lingkungan gereja, mereka itu, para suster, hidupnya sederhana, tidak pernah memikirkan dunia, bersih. Lupa deh, sama perbuatan saya yang waktu di SD. Akhirnya, saya dibaptis. Apalagi waktu bilang pada Mama, “Ma, Hughes mau masuk Katolik.” Mama bilang, “Masuklah. Yang penting kamu menyembah Tuhan dan tidak berbuat aneh-aneh.” Ya, sudah, aku masuk. Alasanku, aku juga belum mengklaim diriku masuk Islam saat itu. Manajemennya belum jelas, dan dulu itu akibat dari lingkungan yang kemudian saya ikuti.

Dari perjalanan yang seperti itu, saya merasa bahwa saya diberi pilihan oleh Tuhan. Diberi pilihan supaya saya terlebih dahulu menjalani dari masing-masing agama, supaya saya bisa melihat perbedaan dan kelebihannya masing-masing. Kalau di Islam itu, “Kamu harus Islam, kalau tidak, masuk neraka”. Di Katolik, tidak seperti itu. Yang ada, “Jalani saja kehidupan dengan penuh kedamaian.” Itu lebih nyaman. Kalau sekarang, di Islam, yang mengajarkan seperti itu mungkin Aa Gym (KH. Abdullah Gymnastiar-red) atau Ari Ginanjar. Yang seperti itu yang lebih mudah masuk, dan masuknya seperti, syaak, kena sekali dalam kalbu. Keadaan seperti ini, saya jalani sampai tingkat pertama di bangku kuliah. 

Bersambung

Ditulis bersama Akmal Stanzah (almarhum). Sumber: Panjimas, 16-29 Oktober  2002    

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda