Mutiara

Singa Karawang-Bekasi

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kiai Noer Ali mendambakan kampung surga di Ujungharapan, Bekasi, tempat kelahirannya. Pejuang kemerdekaan ini mendirikan Yayasan Attaqwa yang menaungi ratusan lembaga pendidikan yang tersebar di Bekasi dan Karawang.  

Setiap tahun, dari  tahun 1994, KH Noer Ali diajukan sebagai Pahlawan Nasional, dan baru tahun 2006 pemerintah mengabulkannya. Nama Noer Ali sendiri, bagi orang Betawi khususnya yang di Karawang-Bekasi, sudah tidak asing. Bahkan ada pemeo, “Jangan ngaku orang Bekasi kalau kagak kenal Kiai Noer Ali.” Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di sepanjang jalan inspeksi Kalimalang.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Kiai Noer Ali tidak bisa dipisahkan dari peran orang yang berjuluk “Singa Karawang-Bekasi” ini pada masa revolusi fisik. Pada November 1945 ia  membentuk Laskar Rakyat. Seluruh badal dan santrinya diperintahkan menghentikan proses belajar-mengajar untuk mendukung perjuangan. Ia kemudian mengeluarkan pernyataan “Wajib hukumnya berjuang melawan penjajah.” Dalam waktu singkat, Laskar Rakyat berhasil menghimpun sekitar 200 orang yang merupakan gabungan para santri dan pemuda sekitar Babelan, Tarumajaya, Cilincing, Muaragembong. Mereka dilatih mental oleh K.H. Noer Alie dan dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi dan Jatinegara.

Pada akhir tahun 1945, dibentuklah suatu kesatuan bersenjata yang berafiliasi kepada partai politik. Saat itu, Abu Ghozali sebagai Komandan Resimen Hizbullah Bekasi (badan pejuangan Partai Majelis Suro Muslimin Indonesia/Masjumi) menunjuk K.H. Noer Alie sebagai Komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi. Setelah Agresi Militer Pertama Belanda pada 1947,  K.H. Noer Alie mengadakan musyawarah darurat di Karawang. Hasilnya adalah akan mengirim Noer Alie bersama lima orang rekannya menemui Panglima Besar Jenderal Soedirman di Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, rombongan Noer Alie diterima oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohadjo karena Jenderal Soedirman tidak berada di tempat. Noer Alie diminta untuk melakukan perlawanan secara bergerilya. Ia kemudian mendirikan Hizbullah, Sabilillah pusat dengan nama Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) yang diketuai langsung olehnya.  Pada 10 Januari 1948, Mohammad Moe’min, Wakil Residen Jakarta dari pihak Republik Indonesia, mengangkat Noer Alie sebagai Koordinator (Pejabat Bupati) Kabupaten Jatinegara. Namun jabatan pemerintahan yang seharusnya dimulai pada 15 Januari 1948 tidak berlangsung lama, karena pada 17 Januari 1948 terjadi Perjanjian Renville yang mengharuskan tentara Indonesia di Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah dan Banten. Noer Alie memilih hijrah ke Banten dengan membawa 100 orang pasukan dari Kompi Syukur. Setelah perang kemerdekaan berakhir, KH Noer Ali kembali berkiprah di lapangan pendidikan, selain terlibat dalam partai politik Masyumi yang dipimpin oleh Mohammad Natsir.

Noer Ali lahir pada 15 Juni 1914. Sebelum menempuh pendidikan di Mekah ia antara lain belajar kepada Guru Ahmad Marzuki di Kelender. Setelah beberapa tahun belajar di  Mekah, pada tahun 1940 dia kembali ke kampung halamannya di Bekasi. Waktu itu suasana di Arabia tidak kondusif untuk belajar karena masyarakat sedang diiputi kecemasan menjelang Perang Dunia II

Tiba di kampung halaman,  mendirikan lembaga pendidikan, mula-mula sebuah pesantren kecil. Hampir semua lembaga pendidikan di wilayah Kecamatan Babelan dan sekitarnya berafilisi dengan Yaysan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3I)  yang dikelola oleh Noer Ali. Pada tahun 1986 yayasan ini berubah nama menjadi Yayasan Attaqwa. Sejak perubahan nama yayasan inilah pengelolaan yayasan yang semula bersifat tradisional perlahan-lahan berubah pada pengelolaan yang lebih modern. Pada tahun yang sama pengelolaan Yayasan Attaqwa dilimpahkan pada generasi penerusnya, di mana proses kaderisasi telah berlangsung dan masih berlangsung hingga saat ini.  Pada saat wafatnya pada tanggal 29 Januari 1992, Yayasan Attaqwa yang didirikan oleh Noer Alie telah memiliki lebih dari 150 cabang sekolah dengan lebih dari 30.000 murid dan tenaga pengajar yang tersebar di wilayah Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Kabupaten Karawang.

Yayasan Attaqwa juga memiliki lembaga pendidikan khusus bagi perempuan, yakni Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Hingga kini masih bertahan, bahkan terus berkembang. Pondok Pesantren Attaqwa Putri semula bernama Pesantren Albaqiyatussalihat, didirikan pada tahun 1964 dan diresmikan pada tahun 1965. Pondok ini terdiri dari Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Kemudian pada tahun 1986, didirikan juga Pesantren Tinggi Attaqwa Putri. Pondok ini memiliki struktur organisasi yang terpisah dari Pondok Pesantren Attaqwa Putra.

Sejak kecil, konon Noer Ali mencita-citakan tempat kelaharannya, Ujungharapan, Bekasi,  menjadi sebuah “kampung surga”. Yakni kampung yang anggota masyarakatnya mandiri secara ekonomi, dan secara agamis masyarakat bersandar kokoh kepada akidah, syariah dan akhlak.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda