Mutiara

Dua Legenda Seni Baca Alquran

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Dua orang anak-beranak dikurniai suara merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Bahkan sang anak berhasil mencetak qari dan qariah kelas dunia.Tapi mengapa sang ayah dilarang menjadi imam salat.

Nama Syekh Tubagus Ma’mun di kalangan para pencinta seni baca Alquran memang tidak setenar putranya, KH Tubagus Sholeh Ma’mun, ulama Alquran, pendiri Pesantren Alquram yang banyak melahirkan qari dan qariah kelas dunia, dan pernah menjabat ketua umum Jam’iyatul Quro se-Indonesia pada tahun 1950-an.

Syekh Ma’mun diperkirakan lahir pada sekitar pertengahan abad ke-19 di Serang, Banten.     Semasa mudanya ia  belajar dan tinggal di Mekah. Dikisahkan, suatu ketiika ketika berziarah ke makam Nabi Muhammad s.a.w. di Madinah Tubagus Ma’mun terdorong untuk melakukan tirakat di depan makam Rasulullah selama 40 malam berturut-turut. Niat itu kemudian ia sampaikan kepada penjaga malam Nabi, yang dengan serta-merta tentu saja ditolak. Sebab siapa yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap makam Baginda Rasul? Namun setelah melalui proses dialog yang panjang, si penjaga pun  mengalah berhadapan dengan tekad yang kuat dari Tubagus Ma’mun. Akhirnya ia pun secara diam-diam dibolehkan oleh si penjaga, padahal penjagaan sangat ketat dan tidak sembarang orang diperbolehkan masuk. Atas izin penjaga maka, Ma’mun yang menyelinap di antara gulungan hambal masjid yang besar-besar. Ia melakukan tirakat hingga malam ke-40.

Diceritakan, pada malam terakhir, antara sadar dan tidak sadar  Tubagus Ma’mun mendapat isyarat dan pertanyaan dari Nabi Muhammad s.a.w. yang mendatangi, menyalami dan menanyakan apa yang diinginkannya. Ia  menjawab bahwa yang dia inginkan adalah bisa membaca Alquran dan ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Saat itu Ma’mun diberi Alquran kecil dan kayu siwak. Alquran ukuran mini ini kemudian ditelan sehingga seolah-olah Ma’mun mampu melihat kitab suci itu dengan jelas sesuai dengan keinginannya bagaikan  melihat ayat atau tulisan di depan matanya.

Sejak itulah  Ma’mun diberi kelebihan yang luar biasa,  selain terus belajar ilmu agama dan Alquran. Ia pun masyhur sebagai orang yang  fasih membaca Alquran dan piawai melagukannya. Karena itu ia disebut Syekh Quro. Dan jika ia  membaca Alquran banyak orang terkagum-kagum, menangis dan terlena. Sehingga, konon, pada zamannya, ia  tidak diperboehkan untuk menjadi imam salat, karena semua makmum selalu dibuatnya terlena dengan ayat-ayat Alquran yang dibacanya.

Nmanya menjadi tersohor di Timur Tengah setelah ia menjadi pembiacraan orang ramai di sana. Ini berawal dari keiketsertaanya dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat dunia di Mesir. Waktu itu Syekh Ma’mun menjadi peserta mewakili Mekah.  Setelah semua peserta dari pelbagai utusan membacakan Alquran, dewam juri menyatakan semua peserta harus belajar Alquran kembali kepada Syekh Ma’mun, yang keluar sebagai juara. Ia pun mendapat tawaran dari Raja untuk tinggal di Mesir dan menjamin kehidupan Syekh Ma’mun dengan memberikan fasilitas termasuk tinggal untuk mengajar ilmu agama dan membaca Alquran. Akan tetapi beliau tidak terlalu lama bermukim  di Mesir. Sebab ia lebih memilih untuk kembali ke Indonesia guna menyebarkan ilmunya di kampung halaman di Kaujon, Serang, Banten.

Dalam perjalannan pulang ke Tanah Air, ia mampir di tempat murid dan sahabatnya di sebuah negara. Di sana kebetulan sedang dilangsungkan pesta pernikahan dan mengndang qari terkenal. Sohibul haat memintanya untuk membacakan Alquran. Syekh Ma’mun menolak karena sudah ada qari yang diundang. Karena ia terus dipaksa, juga oleh beberapa orang, akhirnya ia bersedia dan meminta izin kepada hadirin dan ahli qira’ah yang diundang untuk membacakan Alquran. Ia hanya membaca beberapa ayat. Hadirin terpukau lantaran bacaannya lebih bagus ketimbang si ahli yang diundang.

Melihat situasi yang tak menguntungkan itu, qari itu pun mengeluarkan segala kemampuannya agar bacaannya lebih bagus dari lantunan ayat-ayat yang dikumadangkan Syekh Ma’mun. Setelah itu yang hadir kembali mendesak Syekh Ma’mun, dan hasilnya tetap lebih baik. Begitu seterusnya sampai berkali-kali diulang. Orang pun lalu mempertanyakan siapa dia sebenarnya. Syekh Ma’mun pun memohon dengan kerendahan untuk mengungkapkan jati diri sebenarnya. Tapi karena semua orang mendesak, termasuk qari yang diundang tadi, ia pun menyatakan bahwa dia Ma’mun dan sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Jawa. Maka gegerlah sekalian yang hadir, dan qari itu pun memohon maaf seraya minta kepada semua orang untuk berguru kepada Syekh Ma’mun.        

Begitulah, kapan pun dan di mana pun Syekh Ma’mun diundang untuk membaca Alquran atau menyampaikan ceramah ia selalu dielu-elukan masyarakat. Mereka rindu dengan suara Syekh Quro yang merdu.

Tidak diketahui kapan Syekh Ma’mun kembali ke Indonesia dan berapa lama ia tinggal setelah kepulangannya. Ia wafat pada 1926.  Syekh Ma’mun menikah dengan Nyai Salhah dan dikaruniai beberapa anak di antaranya Ratu Maryam, Tubagus Sholeh dan Tubagus Sihabuddin. Di antara mereka Tubagus Sholeh Ma’mun yang paling berbakat mengikuti jejak sang ayah.

Jejak Sang Anak

Setelah belajar di beberpa di pesantren, Sholeh Ma’mun meneruskan pelajarannya di Mekah, khususnya ilmu Alquran. Ia kembali ke Tanah Air karena di Saudi waktu itu terjadi kekcauan. KH Sholeh Ma’mun juga dikenal seorang hafidz, penghapal Alquran.

Pada masa mudanya Sholeh Ma’mun gemar main gambus. Suatu saat ia didatangi ayahnya dan ditanyai alat musik apa yang selalu dimainkannya itu. Sang anak menjawab, bahwa itu adalah gambus. Syekh Ma’mun kemudian mengatakan bahwa memainkan alat musik semacam itu haram. Menurut dia alat musik yang boleh dimainkan adalah rebana yang biasa dimainkan untuk mawalan, musik tradisional yang membawakan lagu-lagu kasidah.    

Sejak saat itu Ma’mun muda total meninggalkan alat musik gambus bahkan memberantas dan melarang siapa pun di sekitar tempatnya tinggal yang memainkan alat-alat musik tersebut. Bahkan jika diundang hajatan beliau pasti menanyakan apakah ada hiburannya atau tidak. Jika hiburannya orkes, wayang dan seni musik yang menurutnya dilarang agama, ia tidak akan mendatangi undangan tersebut

.

Berangkat dari keahlian dan kefasihannya membaca Alquran serta ilmu agama yang beliau miliki, Soleh Ma’mun mendirikan sebuah pesantren tradisional yang lazim dikenal sebagai pesantren rombeng karena fisik bangunannya amat bersahaja. Pesantren itu dikenal sebagai Pesantren Alquran.

Santri yang mondok di pesantren alquran shleh Ma’mun berasal dari berbagai daerah seperti Jambi, Lampung, Cirebon, Jawa, Palembang, dan sebagainya. Saking terkenalnya, banyak madrasah di Jawa mengirimkan lulusan terbaiknya ke Pesantren Alquran, termasuk dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), Pekalongan. Selain mengirimkan lulusannya ke pesantren tersebut, lembaga ini sekaligus memberikan sumbangan untuk pembangunan pesantren sehingga bangunan yang dimilikinya menjadi permanen, tidak rombeng lagi. Cara belajar dan mempelajari ilmu Alquran yang ditetapkan di Pesantren Alquran adalah harus berhadapan-hadapan dan bibir guru dan murid harus kelihatan.

Selain menjadi mengasuh pesantren, Soleh Ma’mun  memiliki jabatan di berbagai organisasi keagamaan, seperti: Ketua Umum Jam’iyatul Quro se-Indonesia, Rois yuriah NU Kabupaten Serang.

Adapun murid-muridnya atau alumni pesantrennya banyak yang menjadi sukses, seperti Prof Ibrahim Husen,  Rektor Perguruan Tinggi Ilmu-Ilmu Alquran (PTIQ), KH Tabrani, pendiri Pesantren Athobariyah, KH Idrus Turus, pendiri Pesantren Turus, Pandeglang, KH Kurtubi,  pendiri Pesantren Rodiatul Qoniin di Cipare (Serang), Tubagus Ahmad Hashuri Tohir, pendiri Pesantren Ath-Thairiyah, Serang. Selain itu, banyak juga lulusannya yang menjadi qari dan qariah nasional seperti Tubagus Wase Abbas, juara MTQ tingkat nasional (1963), Tubagus Abbas Soleh Ma’mun, juara MTQ di Makassar (1969), dan juara MTQ tingkat internasional di Kuala Lumpur, Malaysia; dan Ratu Humairoh, juara MTQ di Makassar (1969).

Popularitas KH Sholeh Ma’mun ulama Alquran terbesar dan terbaik se-Indonesia, mendapat perhatian Presiden Soekarno. Ia  pernah diundang ke Istana khusus untuk mendapat ucapan selamat dan terimakasih atas jasa-jasanya dalam pengembangan ilmu Alquran  di Indonesia. Soleh Ma’mun wafat pada 1963 dalam usia yang relatif muda, 40-an tahun. Saat ini Pesantren Alquran dipimpin oleh Tb Bay Mahdi Soleh Ma’mun, salah satu putranya. Putra-putrinya yang lain aalah Tubagus Anis Fuad, ketua NU Serang yang pernah menjadi anggota DPR RI, dan Tubagus Abbas Sholeh, anggota DPRD DKI Jakarta dam kemudian aktif di PKB. Juara MTQ tingkat Nasional ini mewarisi bakat ayahnya, dan berhasil melahirkan sejumlah qari terbaik Indonesia seperti Muamar ZA dan Nanang Qosim.    

Sumber: Abdul Malik dkk; Jejak Ulama Banten: Dari Syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati (2011)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda