Mutiara

Jangan Sampai Jadi Mukmin yang Letoy

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Mukmin  yang kuat lebih baik dan disukai Allah ‘azza wa jalla ketimbang mukmin yang lemah, walau pada kedua-duanya ada kebaikan. Dengan apakah untuk menjadi mukmin yang kuat?        

“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Umar ibn Al-Khaththab kepada sekelompok orang yang dilaluinya. Khalifah bertanya:

“Bertawakkal,” mereka menjawab.

“Bukan. Tetapi kalian sedang menggantungkan nasib kepada orang lain. Tawakkal sebenarnya adalah orang yang menaburkan benih di tanah, lalu menyerahkan keberuntungannya kepada Allah.”

Umar barangkali mendapati orang-orang itu bukan akan, sedang, atau habis bekerja. Tetapi menganggur.

Al-Manawi, dalam keterangannya atas hadis Ibn Umar, “Sesungguhnya Allah menyukai mukmin  yang bekerja” (hadis riwayat Hakim, Turmudzi, Baihaqi), mengatakan bahwa sabda ersebut mengecam manusia yang enggan bekerja, yang mengaku sufi padahal hanya sebagai dalih untuk tidak menggerakkan badan. Maka, kata dia, orang yang tidak memanfaatkan skill-nya sementara menggantungkan hidupnya pada orang, adalah manusia yang tidak berguna – kecuali membuat keruh air muka dan bikin mahal harga barang.

“Sesungguhnya siapa saja dari kalian membawa tali ke gunng, lalu menggendong seikat kayu di punggung, dan menjualnya, itu lebih baik baginya daripada minta-minta, baik diberi maupun ditolak.” (HR Bukhari).

Tetapi bekerja bukanlah asal bekerja – tanpa etos, karakter, atau sikap. Percayalah, hasilnya tidak bakal optimal.

Syahdan, ajaran agama yang berkait erat dengan soal etos kerja ini, menurut Nurchlosh Madjid (1992), adalah ihsan. Yakni perbuatan yang baik, dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Dalam uraiannya atas hadis, “Ber-ihsan-lah dalam menyembelih, dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya, dan menenenangkan binatang sembelihannya,” guru besar falsafah Islam dan pendiri Universitas Paramadina ini mengatakan, “Diterapkan kepada pekerjaan lain, ‘penajaman pisau untuk menyembelih” itu merupakan isyarat kepada efisiensi dan daya guna yang setingi-tingginya.” Selain ihsan, kata Cak Nur, ungkapan lain yang sering digunakn adalah itqan. Yaitu mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti, sehingga rapi, indah, tertib, dan bersesuaianantara satu bagian dengan bagian lainnya. Dengan kata lain, mediokritas, sikap setengah-setengah, bukanlah etos kerja seorang Muslim.

Itqan adalah mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan teliti, sehingga rapi, indah, tertib, dan bersesuaianantara satu bagian dengan bagian lainnya. Karena itu, mediokritas, sikap setengah-setengah, bukanlah etos kerja seorang Muslim

Kemudian, dengan bekerja dan beraktivitaslah mukmin menjadi kuat. Dan mukmin  yang kuat, seperti kata Nabi s.a.w., lebih baik dan disukai Allah ‘azza wa jalla ketimbang mukmin yang lemah, walau pada kedua-duanya ada kebaikan. Maka, tokoh gerakan salaf seperti Ibn Taimiyah mengategorikan Abu Dzarr al-Ghifari dan kawan-kawan asketisnya sebagai mukmin yang lemah. Sedangkan Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib dan Abdurrahman ibn Auf merupakan model mukmin yang kuat. Kata dia, orang-orang mukmin yang memenuhi syarat untuk menjadi khalifah Nabi seperti Utsman, Ali dan Abdurrahman ibn Auf lebih tinggi martabatnya, lebih afdhal, ketimbang Abu Dzar dan kawan-kawannya itu.

Ketika Ibn Auf yang kaya raya itu wafat, si saleh dan zahid Abu Dzarr mengatakan bahwa harta peninggalannya adalah kanz, harta simpanan yang haram, yang bakal disetrikakan kepada mantan kandidat khalifah itu di neraka. Utsman menolak pandangan tersebut. Sampai datang Ka’b yang sependapat dengan Khalifah, yang lalu dipukul oleh Abu Dzarr. Perseteruannya dengan Mu’awiyah di Syam juga menyangkut perkara di sekitar ini. Kata Ibn Taimiyah, Khulafaur Rasyidun, mayoritas sahabat dan tabi’un, berpendapat bahwa kanz yang dimaksud di dalam Alquran adalah harta yang tidak ditunaikan kewajibannya. Jadi, bukan jenis yang dimiliki Abdurrahman ibn Auf.

Tapi di manakah nilai kerja seseorang terletak?

Itu tergatung pada niat (komitmen) yang menjadi pendorong kerjanya. Sabda Nabi, “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu (sesuai) dengan berbagai niat yang ada, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat (berdasarkan) apa yang ia niatkan

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda