Panji Milenial

Generasi Milenial Harus ‘Melek’ Investasi

Written by Panji Masyarakat

Membahas generasi milenial memang tak ada habisnya. Generasi ini lahir antara tahun 1980 dan 2000, mendominasi penduduk. Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana Agus Herta Sumarto, 34% penduduk Indonesia adalah milenial. “Akan terus mendominasi sampai tahun 2035,” ujarnya pada acara Campus Talk Universitas Mercu Buana yang bertemakan “Generasi Milenial Cerdas Berinvestasi” di SMK Prima Unggul Ciledug, Tangerang, Rabu (26/03). 

Generasi milenial memiliki karakteristik unik. Mereka sangat dekat dengan teknologi karena hidup di era internet yang semakin meningkat. Tak heran jika generasi milenial sangat konsumtif karena pengaruh budaya digital. “Ada perubahan gaya hidup. Generasi sebelumnya mementingkan sandang, pangan dan papan, tapi saat ini generasi milenial mementingkan lifestyle seperti gadget, outfit, traveling dan kuliner,” kata Citra Laras Pertiwi, Sales Head PT Pengadaian. 

Kondisi tersebut berdampak negatif bagi generasi milenial di masa depan. Mereka terancam tidak memiliki rumah dan tabungan. Sehingga perlu menciptakan tren baru di kalangan generasi milenial yakni menabung. “Jadikan menabung sebagai gaya hidup,” ujar Citra. Generasi milenial akan semakin keren tak hanya berwajah ganteng, cantik, pintar, tapi juga ‘tajir selangit’, caranya dengan berinvestasi. 

Investasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan keuangan di masa yang akan datang. Dengan berinvestasi dalam jangka panjang, nilai uang akan menjadi lebih besar. 

Ada berbagai jenis investasi yaitu tabungan, deposito, properti, emas, saham, obligasi, reksadana, dan forex. Baik Citra maupun Agus menekankan pada anak muda untuk mengingat prinsip “High Risk, High Return” , semakin tinggi risiko investasi, semakin besar imbal hasil yang diperoleh. Generasi milenial juga perlu mempertimbangkan faktor lain seperti keamanan, risiko rendah, mudah dicairkan, adanya perlindungan dan keuntungannya harus jelas. 

Investasi bisa dilakukan saat generasi muda berusia 17 tahun, saat mereka sudah memiliki KTP. Meski begitu, bagi yang belum berusia 17 tahun masih berinvestasi emas, karena intrumen jenis ini tidak dibatasi oleh usia. “Emas asetnya nyata dan nilainya tahan terhadap inflasi,” tegas Citra. Emas mudah dibawa dan disimpan, dilindungi dan diakui di semua negara. 

Bagi muslim yang ingin berinvestasi namun terbebas dari riba, Agus mengatakan saat ini sudah banyak produk investasi syariah di Indonesia. Jadi tidak perlu khawatir. “Ada kok indeks saham yang memang kategorinya syariah,” tuturnya. 

Investasi Cerdas dengan Gadget

Berinvestasi di era internet sangat mudah. Metode investasi telah berubah dari pakai dekstop saat ini bisa menggunakan handphone. Berbagai perusahaan investasi memberikan kemudahan transaksi, contohnya pegadaian digital yang memberikan kemudahan bertransaksi dari pembukaan rekening, top-up beli, jual, transfer, cetak, hingga menggadaikan tabungan emas. Semua bisa dilakukan dalam genggaman dan tentunya aman. 

“Generasi milenial harus pandai memanfaatkan gadgetnya untuk investasi, melalui media sosial,” tutupnya. 

Sementara itu, Campus Talk part 19 ini merupakan kegiatan bulanan Universitas Mercu Buana dalam rangka mendorong sumbangsih perguruan tinggi swasta tersebut kepada masyarakat, khususnya generasi milenial. Acara berlangsung seru. Siswa-siswi SMKA Prima Unggul sangat antusias dan terbuka wawasannya dengan investasi. Mereka siap menjadi generasi milenial yang cerdas dan ‘melek’ investasi. (Hadi/Ysn)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda