Tasawuf

Ahlu Kerah Berjamaah

Kerah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sedikitnya dipakai dalam dua definisi yang berbeda. Pertama, didefinisikan sebagai rodi. Sebagai kata dasar, kerah dalam definisi ini sebenarnya hampir tidak pernah terdengar dipakai oleh bahasa Indonesia; yang acap dipakai justru kata bentukannya seperti ‘mengerahkan’, ‘dikerahkan’ dan sebagainya.

Definisi kerah yang lain adalah leher baju, dan dalam bahasa Indonesia kata ini sering dipakai dalam bentuk kata dasarnya.

“Lantas maksud ahlu kerah itu apa?” tanya Lik Jum, seorang santri senior, “apakah tukang mengerahkan? Sehingga ahlu kerah berjamaah artinya golongan yang suka menyuruh orang untuk kerja rodi beramai-ramai gitu? Kalau ya, itu kan kerjaan partai politik. Atau ahlu kerah berjamaah itu artinya golongan yang suka kerja rodi bareng-bareng? Lha, kalau yang ini kan artinya golongan paling bahlul dalam sejarah”

Belum sempat saya menanggapi, santri lain sudah nyelonong berkomentar “Atau kerah disitu memang dipakai dalam arti leher baju? Kan ada istilah ‘kejahatan kerah putih’; jadi kalau ahlu kerah berjamaah artinya tukang korupsi berjamaah. Benar begitu?”

Sebenarnya ada definisi kerah yang ketiga, yaitu kerah yang dipakai dalam bahasa Jawa, yang artinya meleset jauh dari definisi-definisi yang dipakai bahasa Indonesia. Kerah adalah istilah Jawa untuk menyebut pertengkaran. Asu gedhe menang kerahe misalnya adalah ungkapan bahwa yang berkuasa selalu menang dalam pertengkaran.

Dalam bahasa Jawa, kata kerah memang paling sering dipakai untuk menyebut pertengkaran kucing atau anjing. Kita tahu, perkelahian antar atau inter anjing dan kucing kecuali ditandai dengan saling mencakar dan menggigit, juga selalu disertai suara lengkingan yang tinggi.

Nah, sekarang bayangkan: mendengar lengkingan kucing atau anjing kerah saja sudah cukup bikin sakit telinga; apalagi bila harus mendengar kerah menyangkut politik atau malah agama yang dilakukan secara beramai-ramai, dan kebisingan teriakan ancam-mengancamnya tiap saat muncul di beragam media; pasti mabuklah kita dibuatnya. Ibarat orang bertengkar pakai pengeras suara, seisi kampung jadi ikut-ikutan tegang dan tak bisa tidur karenanya. Bukan cuma terganggu, tapi bikin kepala pusing tujuh keliling.

Jadi, begitu secara ngawur saya mencoba menjelaskan: baik diartikan partai politik, korupsi berjamaah maupun pertengkaran politik atau antar-inter agama, yang jelas ketiganya akan selalu bikin susah orang saja; apalagi di negeri yang sudah bak belantara ini.

“Sekarang ini sepertinya orang sedang ramai-ramai kesurupan Bush-isme” celetuk kang Sam.

Gotha’an saya tiba-tiba senyap. Santri-santri yang kumpul saling pandang mendengar celetukan tersebut. Kang Sam adalah salah satu santri senior Mbah Sirra yang selama ini dikenal pendiam, tapi ya itu tadi, begitu omong sering membikin santri lainnya terkejut karena lompatan nalarnya yang tak terduga.

Gotha’an saya berukuran 3×3 meter, dihuni oleh 7 santri. Mbah Sirra memang hanya mengijinkan tujuh gotha’an berdiri di sekitar rumahnya, dan penghuni setiap gotha’an tidak boleh lebih dari 7 santri. Dengan lemari pakaian, tumpukan kitab dan gantungan baju yang berderet di langit-langit; gotha’an saya yang termasuk golongan paling luas pun terasa sempit. Apalagi bila para santri sedang asyik jagong seperti malam ini.

“Maksud sampeyan Bush-isme itu apa tho Kang? Mbok kalau omong yang jelas dan langsung to the point gitu lho…” protes Giman, santri lugu dari gunung menanggapi celetukkan kang Sam.

“Kalian ini memang bangsa pelupa kok. Coba ingat-ingat: dulu untuk memerangi apa yang secara sepihak mereka definisikan sebagai teroris, George W. Bush melempar ancaman ke semua pihak dengan ungkapan terkenalnya ‘bersama kami, atau melawan kami’, with us or against us. Dengan ungkapannya ini, Bush sedang memproklamirkan bahwa hanya ada satu kebenaran, yaitu kebenaran menurut versinya; dan siapapun menolak kebenaran tersebut langsung diposisikan sebagai lawan yang harus diperangi. Itu kan bentuk fasisme paling mengerikan, yang anehnya diamini oleh peradaban yang katanya modern ini!” jelas kang Sam.

“Nah sekarang coba amati: tanpa perlu membuat proklamasi seperti Bush, kelakuan kita sudah persis sama. Begitu ada orang atau kelompok yang dianggap tidak ‘bersama kami’, lantas ramai-ramai dibully, difitnah, dibunuh karakternya. Tak percaya? Lihat saja media sosial akhir-akhir ini; bahkan bukan cuma media sosial, tapi juga yang formal! Seperti Bush, orang-orang sekarang juga membuat garis batas imajiner, cuma istilahnya saja yang diganti; bukan lagi with us or against us tapi lovers dan haters. Luar biasanya, kerah ini bukan hanya diantara elite, tapi sudah ditularkan ke tingkat massa. Ini salah satu indikasi bahwa diam-diam kita sedang membangun peradaban fasis! Akal sehat mati, yang ada tinggal kuasa atas nama massa” Kang Sam mengatakan ini semua bukan dengan berapi-api, tapi dengan nada getir.

“Jangan lupa, ini memang bukan orde demokrasi, tapi orde demokerahsi; jadi yang namanya rakyat kecil seperti kita ini janganlah berharap banyak soal perbaikan nasib. Mendengar kucing kerah saja telinga sudah sakit, sekarang kita malah dipaksa mendengar teror kerah yang berlipat-lipat tingkat kebisingannya! Jadi, dari pada bermimpi tentang perbaikan nasib, mending kita mulai mencari tutup telinga yang tebal sajalah!”

Suasana gotha’an tiba-tiba hening. Dada kami serasa sedang diiris-iris sembilu.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda