Adab Rasul

Bila Nabi Bercanda

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Siapa bilang Nabi Muhammad saw tidak bisa bercanda?

Tersebutlah seorang lelaki badui (pedalaman) bernama Zahir ibn Haram. Setiap masuk ke kota Madinah, dia selalu menyempatkan  singgah ke rumah Nabi sambil membawa hadiah.

Suatu hari ia datang ke mekah tanpa mampir ke rumah Nabi. Tapi Nabi mendapatinya kala beliau jalan-jalan di pasar. Zahir hendak menjual dagangannya. Beliau lalu mengendap-endap, lantas mendekatnya dari belakang. Tentu saja dia kaget, menoleh ke belakang, dan diciumnya tangan Nabi.

“Siapa mau membeli budak ini?” tanya Nabi bercanda.

“Wah, Baginda menjumpai saya ketika dagangan saya tidak laku, ya Radulullah.”

“Tapi di sisi Allah kamu orang beruntung,” jawab Nabi. “ Setiap penduduk kota pasti punya sahabat badui. Dan sahabat badui keluarga Muhammmad adalah Zahir ibn Haram.”
karena prilaku sufi harus menyerupai tindak tanduk rasulullah, kata imam al- ghazali, maka salah satu kaum sufi adalah mereka bersifat rileks, fleksibel(suhulah), berbaur di tengah masyarakat, menyesuaikan diri dengan akhlak dan tabiat mereka.

Didalam rumah tangga pun nabi suka bercanda. “Beliau orang yang paling murah senyum dan mudah tertawa,” kata aisyah ketika ditanya bagaimana prilaku suaminya didalam rumah. Nabi, kata aisyah pada kali lain, suka mengajak berlomba tebak-tebakan. Terkadang Aisyah yang menang, tapi pada kali lain beliau yang menang. “ sekarang ser satu-satu,” kata beliau.

Pernah Aisyah membawa bubur harirah (terbuat dari tepung dan susu) kepada Saudah. Ini adalah istri Nabi yang usianya paling tua.

“Makanlah,” kata Aisyah pada madunya itu. Ee, Saudah menolak.” “Makanlah,” kata Aisyah lagi. Saudah bergeming. Aisyah mulai naik darah. “Makanlah, atau kulumurkan bubur ini ke mukamu.” Saudah tetap bergeming.

Maka diambilnya sejumput bubur baru dilumurkan ke muka Saudah. Melihat tingkah istrinya yang masih belia ini Nabi tertawa. “Jangan diam saja, Saudah. Lumuri juga mukanya dengan bubur,” teriaknya. Mka diambilnya segenggam bubur baru dilumurkan ke muka Aisyah.

Tiba-tiba terdengar teriakan Umar ibn Khattab dari luar. “ Ya Abdullah. Ya Abdullah.” Buru-buru Nabi menyuruh kedua istrinya membersihkan muka mereka karena menduga Umar hendak masuk rumah beliau.

Berkata Aisyah, “Saya ini selalu segan kepada Umar, karena Nabi juga segan kepadanya.”

Tertawa itu sehat, kata ahli tasawuf, tertawa merupakan salah satu karakteristik manusia, yang membedakannya dengan binatang. Tapi tertawa harus ada alasanya, harus karena takjub.

Tertawa juga tidak boleh berlebihan. “Takutlah kamu akan tertawa yang terlalu banyak karena itu akan mematikan hati,” kata kaum sufi. Sampai-sampai Imam Abu Hanifah menjadikan tawa ngakak (terbahak-bahak) sebagai salah satu yang membatalkan wudhu.

Tapi, terlalu sedikit tertawa juga tidak sehat. Yang baik adalah tengah-tangah, I’tidal. Seperti sabda Nabi, “sebaik-baik perkara adalah tengah-tengahnya.”

Bercanda juga demikian. Sebaiknya sedang-sedang saja. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Namun alangkah sulitnya mencapai tingkat keseimbangan seperti itu. Itu hanya bisa dicapai, menurut Al-Ghazali, oleh kaum sufi yang sudah bisa mengendalikan dirinya, yang memahami betul bagaimana tabiatnya serta menguasai tabiatnya dengan kesempurnaan ilmu.

“Adapun aku,” kata Nabi “ maka aku bercanda pula. Hanya saja, aku tak pernah berkata kecuali yang benar.” Jadi, siapa bilang Nabi  tak mau bercanda?

Penulis: Hamid Ahmad (Sumber: Panji Masyarakat, 3 November 1999)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda