Adab Rasul

Bagaimana Nabi Menjaga Marwah

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Muru’ah juga berkaitan dengan kesanggupan menahan hati dan menjaga diri. Apa bedanya. Ada juga nasihat Saidina Ali ibn Abi Thalib kepada putranya

Suatu malam, di Masjid Nabawi, Rasulullah s.a.w. , tampak bercakap-cakap dengan seorang wanita. Hanya berdua. Beliau baru selesai beri’tikaf. Tak berapa lama, melintas dua sahabat. Kedua laki-laki anak Madinah itu menjadi salah tingkah dan berusaha menghindar. Segera Nabi  memanggil mereka, dan memberitahu bahwa lawan bincangnya tidak lain istri beliau sendiri, Shafiah binti Huyai. Mereka terhenyak dan dengan tergugup berkata, “Subhanallah. Apakah  Bapak  masih meragukan kepercayaan kami, ya Rasulallah?”

“Bukan itu soalnya.”

“Kalau  begitu, kami mohon penjelasan.”

“Ketahuilah: setan mengalir di dalam tubuh anak manusia seperti darah bersikulasi di dalam daging. Aku khawatir setan memanahkan kejahatan ke hati kalian.”

Sekurang-kurangnya dua hal bisa kita petik. Pertama, bagaimana kita membersihkan hati dari pikiran kotor. Kedua perlunya kita menghindari tempat atau suasana yang bisa meragukan orang. Nabi dan Ibunda Shafiah berada di masjid. Bagaimana pula jika Anda, meski bukan seorang pembeli cinta, malam-malam keluyuran di rumah-rumah bordil, misalnya, atau di tempat-tempat penjajaran seks yang lain?

Kedua-duanya bertalian dengan yang dinamakan  marwah atau muruah (muru’ah) — harga diri, atau nilai-nilai kepatutan. Termasuk untuk hal-hal yang bahkan tidak tercela dalam pandangan syariat. Buya Hamka memberi misal dengan: kawin dengan anak perempuan dari saudara perempuan ibu, atau memotong anak ayam yang baru diturunkan induknya.  Hanya, yang pertama itu agaknya khas Hamka atau budaya Minangkabau.

Bentuk muru’ah lainnya berkaitan dengan kesanggupan menahan hati dan menjaga diri. Contoh untuk yang pertama, dan ini yang paling sulit, menahan lidah dari membicarakan aib orang. Ngerumpi  itu bisa diibaratkan dengan menyiapkan ketapel untuk menembakkan berbagai amal baik sendiri dengan batu-batu gunjingnya itu.

Seseorang mengatakan kepada Hasan Al-Bashri: “Si Anu menggunjing  Anda.” Hasan lalu mengirimkan kue kepada orang yang dikatakan menggunjingnya itu, disertai ucapan: “Aku mendengar  engkau sudah melimpahkan amal baikmu kepadaku.  Aku ingin membalas kebaikanmu.”

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: Seseorang laki-laki ikut duduk bersama Rasulullah. Kemudian bangkit, dan pamit pergi. Seorang yang hadir berkata, “Alangkah lemahnya orang itu.” Rasulullah memperingatkan:  “Engkau sudah memakan daging saudaramu begitu menggunjingnya.”

Firman Allah: “Wahai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan mencari-cari kesalahan orang, dan jangan sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudara yang mati? Tentu kamu tak hendak. Bertakwalah kepada Allah: Allah Maha Penerima Taubat lagi Penyayang.” ( Q.49:12).

Kesanggupan menahan diri bisa juga dijabarkan dalam sikap sabar menanggung cobaan dan sikap syukur menerima nikmat. Juga memberi maaf ketika ada kesempatan membalas dendam. Adapun yang dimaksudkan dengan menjaga diri adalah kesanggupan untuk tidak menggantungkan harapan pada orang lain. Belajar menganggap cukup apa yang ada, tahan susah dan derita. Pepatah Arab menyebutkan: seekor anjing kurap yang mencari makan sendiri lebih mulia ketimbang seekor singa besar di dalam kandang.

Tiga hal harus kita jaga dalam mencari rezeki. Pertama, perolehannya dari jalan halal. Rezeki yang haram tidak teguh uratnya, hasilnya pun tidak membawa kebaikan.

Kedua, melalui jalan yang tidak menjatuhkan derajat kemanusiaan. Misalnya, mengemis. Fungsi harta adalah memelihara kehormatan dan menebus kemuliaan, bukan menjatuhkannya dan mencari kehinaan.

Ketiga, menghargai harta tanpa  memandang jumlahnya. Penghasilan yang sedikit, yang dibelanjakan dengan baik, lebih berfaedah ketimbang penghasilan besar yang dikelola secara tidak becus. Kata orang-orang tua di kampung: biar sedikit bibit ditanam dan sedikit pula hutan dirambah, asalkan tanaman dijaga dan rumput disiangi, lebih baik dari ……dan seterusnya.

Berkenan dengan pengharapan yang berpusat pada diri sendiri, berikut nasihat Sayidina Ali ibn Abi Thalib r.a., kepada putranya, Hasan r.a., : “Anakku. Kalau kamu ingin tidak ada perantaraan antara kamu dan Allah, hendaklah sesuatu kau kerjakan sendiri. Jangan suka berada di bawah pengaruh orang. Kamu dilahirkan bukan dalam perbudakan. Barang yang sedikit, tetapi kamu terima dari Allah Ta’ala langsung dari cucuran keringatmu, lebih mulia daripada harta betumpuk-tumpuk yang kamu terima dari tangan orang.”

Sebagian hukama, orang bijak-bestari,  berkata, “Siapa yang suka menerima pemberian, ia suka menjual muru’ah.”

Benar, menadahkan tangan merupakan cela muru’ah. Tapi bukankah suatu waktu kita kepepet, sehingga memerlukan bantuan orang? Untuk itu lima hal harus dijaga agar marwah  Anda tak jatuh.

Pertama jangan mengucapkan kata-kata yang merendahkan diri ketika meminta. Permintaan belum tentu dikabulkan, harga diri sudah jatuh. Kedua, minta sekadar yang perlu. Jangan berlebih. Ketiga, jangan kecewa jika permintaan ditolak, dan sampaikan terima kasih jika diluluskan. Keempat, jangan meminta kepada orang yang kira-kira akan berat memberi.  Dan kelima, sadar bahwa bukan orang itu yang mungkin membantu Anda, melainkan Allah yang bisa menggerakkan hatinya. Dan itu pengertian  “Iyyaka nasta’in  (Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).” Amin.

Sumber:  Falsafah Hidup  (1994);  Imam Al-Qusyairi An-Naisaburi, Rishalah  al-Qusyairiyah.   

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda