Tasawuf

Kematian itu Menyenangkan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Lebih penting dari perpisahan dengan dunia dan segala tetek bengeknya, kematian adalah syarat pertemuan atau liqa  yang abadi itu.

“Betapa sedihnya. Betapa sedihnya.” Perempuan itu terus menatap.

“Alangkah senangnya,” kata yang ditatapi.

“Mengapa? Mengapa begitu, suamiku? Padahal aku sangat, sangat, sedih sekali?”

“Tidakkah kamu gembira, Sayang? Sebab aku akan bertemu para kekasih — Muhammad dan para tentaranya.”

Percakapan itu, kita tahu, berasal dari riwayat kematian Bilal ibn Rabah, muadzin seumur hidup Rasulullah, yang mantan budak itu.

Ditambah sebuah riwayat masyhur pula. Syahdan, menjelang wafat, Abdullah ibn  Al-Mubarak, yang tempo hari kita ceriterakan urung naik haji karena bekalnya diberikan untuk menolong keluarga  perempuan miskin) membuka kelopak matanya, kemudian tertawa sembari melantunkan kalam Ilahi “Limitsli haadza fal-ya’ malil ‘ aamiluun (Untuk yang seperti ini hendaklah orang-orang bekerja dan beramal).” (Q.S 37:61).

Ketika orang sekelilingnya bertanya, ada apa dia tertawa, jawabnya. “Memangnya tidak boleh?” Katanya lagi. “Perpisahan dengan yang paling kujauhi sudah dekat dan Dzat yang aku harapkan begitu dekat tiba lebih cepat.”

Bagaimana kematian bisa menjadi peristiwa yang begitu menyenangkan? Pada  Bilal, juga Ibn Al- Mubarak, tentu karena keyakinan akan pertemuan dengan Allah dan para kekasih-Nya. Lebih penting dari perpisahan dengan dunia dan segala tetek bengeknya, kematian adalah syarat pertemuan atau liqa  yang abadi itu. Jadi, tak ada yang harus diberati. Enteng-enteng saja. Kalaupun, mungkin, ada yang disesali, itu lantaran amal ibadah biasanya dirasakan masih terlalu sedikit. Ibarat kita merasa bisa membuat sesuatu menjadi lebih baik lagi, eh tahu-tahu waktunya sudah habis. Tapi itulah mereka, seperti yang difirmankan, “Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salamun ‘alaikum’, masuklah kamu ke surga itu disebabkan apa yang kamu kerjakan.” (Q. 16:32).

Demikianlah, dalam narasi di sekitar dunia sufi, yang muncul di saat kematian itu bukan cuma malaikat pencabut nyawa. Izrail masih diiringi dua malaikat rupawan, berpakaian necis, dan wangi (dibandingkan dengan Zabaniah yang buruk rupa itu). Kedua makhluk itu lantas membungkus ruh dengan kain sutra dari surga, yang kualitasnya sebanding dengan kualitas agama yang bersangkutan. Bukan kualitas ilmu. Lantas menerbangkannya angkasa, melewati umat manusia terdahulu, yang sedang beterbangan seperti belalang, hingga ke langit dunia. Selanjutnya urusan diserahkan pada Jibril. Malaikat inilah yang mengantarkannya memasuki lapis-lapis langit yang tujuh, yang juga dijaga para malaikat.

“Anda siapa?” kata suara di balik pintu.

“Saya Shalshayail,” jawab Jibril. “Saya bersama seseorang dengan sebutan-sebutan yang baik.”

Kalau begitu masuklah,” jawab mereka. “Pasti dia seorang hamba yang baik, yang akidahnya tak disangsikan.”

Di langit kedua, sang  tamu juga disambut, seraya disebut-sebut  telah menjaga salat dan kewajiban-kewajiban lainnya. Tiba di lapis berikut, dikatakan orang itu bisa menjaga hak-hak Allah di dalam hartanya dan tidak pernah tergantung sedikit pun pada harta.

Apa kata mereka ketika si fulan ini sampai di langit keempat? “Ia berpuasa, dan mampu menjaga puasanya dari berbagai perkataan buruk dan makanan haram.” Di langit selanjutnya, Fulan disebut  sudah berhaji, tanpa semangat pamer dan keinginan dipuji. Ketika sampai di langit keenam, diketahui ternyata orang itu banyak istighfar di waktu sahur, bersedekah tanpa setahu orang, dan menanggung kehidupan anak yatim. Di langit terakhir, terbukti Fulan seorang hamba yang salih dan berhati baik, selalu mengajak kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran, serta memuliakan orang miskin.

Fulan terus berjalan di antara kerumunan malaikat, yang berebut menyalaminya, dan membisikkan bahwa ia bakal masuk surga. Tibalah ia sekarang di Sidratul Muntaha. Tok, tok, Jibril mengetuk pintu, seraya menjawab pertanyaan yang sudah diulang-ulang. Di sini tamu Jibril mendapat pujian sebagai orang yang semata-mata mencari ridha Allah.

Lalu sebuah pintu lain terbuka. Alamak, orang itu ternyata harus mengarungi lautan api, menyeberangi lautan cahaya, menembus lautan kegelapan, melintasi samudera air, berjalan di hamparan salju, dan di laut dingin. Lama perjalanan untuk setiap lautan itu satu milenium, alias 1.000 tahun! Barulah setelah itu tabir Arasy yang terbuka. Lalu mendengar sebuah suara: “Jiwa siapakah yang kaubawa?”

Ini Fulan anak Fulan,” jawab Jibril.

Allah berfirman: “Dekatkan dia. Sebaik-baik hamba adalah engkau, wahai hamba-Ku.”

Nabi bersabda:  “Siapa ingin bertemu Allah, Allah pun ingin bertemu dia. Siapa yang enggan bertemu Dia, Tuhan pun enggan menemuinya.” Tidak berarti orang itu tidak akan mati.

Sumber:  imam Al-Qusyairi an-Naisaburi, Risalah al-Qusyairiyah (t.t.)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda