Mutiara

Khalifah yang Bagai Yesus

ilustrasi mihrab masjid (foto : Gerhard Bogner/Pixabay)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Agama dapat terpelihara baik jika terdapat keadilan dan kebajikan  Jangan pula paksakan rakyat melakukan sesuatu  di luar kemampuan mereka.

Setelah Yesus, kalau ada orang lain yang mampu menghidupkan kembali orang mati, dia itulah orangnya.

Itu pernyataan Kaisar  Bizantium (Romawi Timur) ketika menerima kabar wafatnya Khalifah Umar ibn Abdil Aziz pada 719 M. Dikabarkan, ia susah menahan tangis atas kepergian kepala imperium tetangganya itu. Kaisar memang sangat menghormati Umar,  dan bahkan membandingkan pribadi sang Khalifah dengan Yesus Kristus. Dia mengatakan bahwa ia tidak terlalu heran melihat pertapa yang meninggalkan kesenangan duniawi agar hanya dapat menyembah Tuhan. “Tapi saya sungguh kagum menyaksikan seorang pemilik kesenangan duniawi yang tinggal meraih dari telapak kakinya, tapi ia malah menutup matanya rapat-rapat dan hidup secara asketis.”

Ketika Umar wafat dia memang tidak meninggalkan harta berlimpah yang mencukupi lebih tujuh turunanannya. Tetapi hanya 17 dinar. Itu pun dengan wasiat agar sebagiannya dibayarkan untuk sewa rumah tempatnya meninggal, dan sebagian lagi untuk membeli tanah tempatnya dimakamkan. Ia wafat pada usia 36 di Darus Siman, dekat Hims, Palestina sekarang.

Umar ibn Abdil Aziz atau yang sering disebut Umar II di Barat (Umar I adalah Umar ibn Al-Khattab, buyut-nya dari pihak ibu), selain dikenal kesalihannya juga masyhur lantaran hidupnya yang asketis,  zuhud  atawa sederhana. Khalifah ini menolak pelayanan VVIP, yang biasa dinikmati pembesar. Makanannya sebagaimana umumnya yang dimakan rakyat kebanyakan. Ia tidak membangun rumah pribadi, dan hanya membelanjakan dua dirham sehari. Seperti rakyat umumnya,  ia  tinggal di tempat pemukiman yang sederhana. Ia menyerahan Istana Khalifah untuk ditinggali keluarga Sulaiman ibn Abdil Malik, pendahulunya. Ia juga membubarkan 600 pengawal pribadi Khalifah. Sebelum jadi khalifah, assetnya bisa menghasilkan pendapatan 50.000 dinar per tahun. Tetapi segera setelah ia terpilih, ia menyuruh harta itu dilelang dan diserahkan ke kantor kas negara (Baitul Mal). Akibatnya pendapatan pribadinya merosot menjadi 200 dinar setahun.

Keluarga Kerajaan, yang biasa hidup bermewah-mewah atas biaya rakyat, sudah tentu tidak suka dengan kebijaksaaan Umar. Mereka protes keras atas pengembalian harta yang telah mereka kuasai kepada negara, atau kepada orang-orang yang berhak, yang dulu telah mereka rampas. Mereka juga protes atas tindakan Umar yang memecat anggota Dinasti Umayyah yang terbukti tidak becus sebagai aparatur pemerintahan. Mereka juga tidak segan-segan membunuh anggota puak mereka sendiri yang menyetujui kebijaksanaan Umar. Bahkan menghabisi Umar sendiri dengan menyewa orang lain.

Tapi Umar terus berupa menginsafkan Keluarga Umayyah yang waktu itu tengah mengalami kemerosotan moral yang hebat dengan pola hidup mereka yang serba “wah”.

Dalam satu suratnya yang dialamatkan kepada Gubernur Kufah, Irak, Umar mendesak para gubernur agar menghapus semua peraturan yang tidak adil. Ia menulis: “Anda harus mengetahui, agama dapat terpelihara baik bila terdapat keadilan dan kebajikan. Jangan anggap remeh segala dosa; jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat; jangan paksakan rakyat melakukan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. ambillah dari mereka apa yang mereka dapat berikan. Lakukanlah apa saja untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Memerintahlah dengan lemah lembut tanpa kekerasan. Jangan menerima hadiah pada hari-hari besar….’

Dengan begitu, Umar ingin menegakkan yang kita sebut sekarang dengan pemerintahan yang bersih da tata kelola yang baik.

Di lain waktu, Umar juga tampak kaget ketika beroleh kabar bahwa salah satu putranya membeli permata yang mahal sekali. Ia pun segera menulis surat: “Saya dengar kamu membeli sebutir permata seharga 1.000 dirham. Jika surat ini sampai, juallah cincin itu dan berilah makan 1.000 orang miskin. Lalu buatlah cincin seharga dua dirham dari besi Cina, lalu tulis di situ: “Allah mengasihi orang yang tahu harga dirinya yang sebenarnya.”

Di luar cerita semasa kekhalifhannya yang berlangsung singkat, Umar ibn Abdil Aziz semasa mejadi gubernur Madinah, bersama Khalifah Al-Walid, yang menambahkan mihrab,  cerukan pada dinding masjid, dalam struktur bangunan masjid yang meniru altar dalam arsitektur gereja. Dan Masjid Madinah adalah masjid pertama yang memiliki mihrab. Kita ketahui, struktur ini kemudian menjadi ciri umum di semua masjid. Sekarang, semua masjid  di dunia hampir dipastikan punya mihrab .

Adapun Al-Walid, dia juga yang kemudian memerintahkan sang gubernur untuk menghukum seseorang yang berujung fatal: tewas. Sebuah tindakan yang kemudian yang membuat Umar menyesal dan kemudian meletakkan jabatan. Meskipun hanya anak seorang gubernur, ia  kemudian diangkat menjadi khalifah berdasarkan wasiat. Itu pun pun hanya dijalaninya dalam tempo relatif singkat. Tapi cara dia memerintah yang hanya dua tahun setengah itu, ditambah kualitas kepemimpinan serta bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari, membuat Kaisar Bizantium  membandingkan pribadi Umar dengan Yesus Kristus, atau Isa Alaihis Salam. 

Sumber: Khawaja Jamil Ahmad, Hundred Great Muslim (1987);   Philip K. Hitti, History of Arabs (2002),             

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda