Muzakarah

Surga dan Kekalnya Neraka

Written by Panji Masyarakat

Saudara Rudi, seorang mahasiswa dari Bandung, bertanya ihwal surga, neraka, dan mereka yang kekal di dalamnya (khalidina fiha). Ia, dalam suratnya, mengutip beberapa ayat Al-Quran. Dia ingin memperoleh kejelasan mengenai apa yang dimaksud sebenarnya dari ayat-ayat, yang sepentas lalu, saling bertentangan. Berikut ayat-ayat tersebut:

Pertama, surah Az-Zalzalah: 7-8, yang menyebutkan bahwa amal manusia akan dihisab; mereka akan melihat (balasan) dari setiap amal—yang baik ataupun yang buruk— walaupun sekecil biji dzarrah. Kedua, AlQari’ah: 6-9 yang menyatakan bahwa amal manusia akan ditimbang. Orang yang berat timbangan amal kebaikannya akan hidup dalam kesenangan, yang ringan akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah. Ketiga, dalam surah Al-Bayyinah: 6 dan surah An- Nisa: 138, Allah berfirman bahwa orang-orang musyrik dan munafik akan kekal di dalam neraka. Terakhir, surah Az- Zukhruf ayat 74 menyebutkan semua orang yang berdosa akan kekal di dalamnya.

Berkenaan dengan ayat-ayat ini, Saudara Rudi mengaju­kan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Apakah benar setiap orang yang berdosa akan dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya? Dapatkan kata al-mujrimin dalam surah Az-Zukhruf: 74 diartikan: kafir, musyrik atau munafik? Kalau benar setiap orang yang berdosa akan kekal di dalam neraka jahanam, apa perlunya diadakan hisab dan mizan, karena menurut pengetahuan Saudara Rudi, yang ma’shum (terjaga dari dosa) hanyalah rasul-rasul dan nabi-nabi dan orang pilihan Allah.

Kalau sama berat timbangan kebaikan dan kejahatan seseorang, di manakah ia akan ditempatkan? Apakah benar ada azab dan nikmat kubur?

Jawaban Tim Muzakarah Panji

Masalah yang Saudara tanyakan adalah masalah as-sam’iyat, masalah yang kita dengar, belum pernah kita lihat. Itu adalah masalah gaib, yang wajib kita yakini. Ini masuk bidang iman. Iman kepada yang gaib merupakan pokok utama beragama. Dan hanya Islam yang memberitakan alam gaib dengan benar. Sebab, agama Islam datang dari Yang Mahagaib. Daerah gaib berada di luar jangkauan otak manusia. Oleh sebab itu, pembahasannya pun menyentuh iman, tak berkait dengan rasio.

Isi ayat-ayat Al-Quran yang Saudara ungkapkan di atas wajib kita terima dengan hati imani. Tidak perlu dipikirkan, bahkan tidak akan dapat terpikirkan secara rinci, bagaimana proses cara penghisaban dan penim­bangan amal perbuatan manusia. Yang pasti, setiap amal akan dibalas. Amal baik dibalas baik. Amal buruk dibalas buruk. Katakanlah itu sorga atau neraka. Tapi baiklah, mari kita rinci pertanyaan-pertanyaan saudara berikut jawabannya:

Pertama, Apakah setiap orang yang berdosa masuk neraka dan kekal di dalamnya? Terlebih dahulu kita harus mengerti apa dosa itu. Dosa (dalam bahasa Arab istmun, dzanbun, jurmun, jarimah, khathiah) adalah setiap perbuatan yang tidak dibenarkan. (Al-Munjid:3). Dilihat dari pengertian bahasa, jurmun atau jarimah tampaknya merupakan pelanggaran (dosa) yang lebih besar, jarimah bukan sekadar melanggar peraturan tetapi melawan hukum Allah. Dosa besar dalam hadits Rasul disebut “al- kabair”.

Isi Al-Quran pada garis besarnya terdiri atas: akidah, syariah dan akhlak. Dengan demikian, pelanggaran pun terbagai atas tiga macam: pelanggaran akidah seperti kufur, munafik, dan semacamnya; syariah, seperti tidak salat, tidak puasa, tidak berzakat, tidak berhaji, memberontak terhadap pemerintah Islam yang sah (bughat), berzina, mencuri, membunuh, minum khamar dan sebagainya; dan pelanggaran norma akhlak, seperti melawan orang tua, congkak (takabur), tamak, hasud, dan sebagainya.

Setiap terjerumus ke dalam perbuatan dosa, orang dianjurkan oleh agama untuk isti’fa (mohon maaf), istigfar (mohon ampunan) dan bertobat secara sungguh- sungguh (taubah nashuha). Ini berarti yang bersangkutan mesti menyadari telah berbuat kesalahan, timbul penyesalan, mohon ampun kepada Allah serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Hal-hal ini kemudian disusul dengan berbuat kebajikan. Allah dalam surah An- Nur: 31 berfirman, “Dan taubatlah kalian kepada Allah semuanya wahai orang-orang yang beriman agar kalian memperoleh kebahagiaan.”

Dengan penjelasan di atas, yakinlah kita bahwa tidaklah setiap orang yang berdosa itu dimasukkan dan kekal ke dalam neraka.

Kedua, mengenai pengertian “al mujrimuun”, kami sependapat dengan Saudara, yakni bisa saja kata itu diartikan kafir, musyrik, atau munafik. Pokoknya, seseorang yang telah melakukan kesalahan/dosa besar. Al-mujrimin dalam arti bahasa ialah orang yang melakukan jarimah (kesalahan besar).

Ketiga, kami juga sependapat dengan Saudara bahwa memang para rasul dan nabi adalah “ma’shum” artinya: terpelihara atau terhindar dari perbuatan dosa.

Keempat, untuk pertanyaan Saudara yang keempat, di mana ditempatkan di akhirat kelak, mereka yang sama berat dosa dan pahalanya, dapatlah kami terangkan bahwa menurut sebagian besar ahli tafsir, mereka itu ditempatkan di al-a’raf. Apa pula ini? Penjelasan mengenai ini dapat kita baca dalam surah Al-A’raf: 46, “Dan di antara keduanya ada dinding dan di atas benteng itu (al-a’raf) ada beberapa lelaki. Mereka mengenal setiap orang (yang lewat di situ), karena masing-masing ada tandanya.”

Kepada mereka yang akan menjadi penghuni sorga, para penghuni al-a’raf itu berseru, “Selamat sejahtera atas kalian!” (Al-A’raf: 46), sedangkan jika mereka melihat orang-orang yang akan menuju neraka, maka mereka berseru kepada Allah: “Wa­hai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (yang di al-a’raf ini) bersama-sama dengan kaum yang zalim itu” (ayat 47). –

Untuk pertanyaan Saudara me­ngenai azab kubur, apakah ada atau tidak, dapatlah kami jawab: ada. Se­kadar pelengkap, ada baiknya kami sebutkan juga bahwa doa yang dian­jurkan Nabi s.a.w., seperti diriwayat­kan Imam Bukhari dan Muslim, un­tuk dibaca pada tahiyat akhir (sebe­lum salam) antara lain adalah: ”Al lahumma inni a’udzu bika min adzabil qabri wa min adzabi jahannama wa min fitnatid dunya wal mamati wa min fitnatil masihid dajjal“, yang artinya: “Ya Allah, lindungilah kami dari siksa kubur dan dari siksa neraka jahanam dan dari fitnah dunia (se­masa hidup) dan fitnah (sesudah) mati serta kejahatan Dajjal”. Ini adalah dasar yang cukup kuat bahwa azab kubur itu memang ada, di samping hadis-hadis lainnya.

Artikel ini sudah terbit di Majalah Panji Masyarakat edisi 13 tahun 1 4 Juli 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda