Muzakarah

Pria Beristri Menyukai Pria Ganteng

Fitrah manusia: Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan) untuk menunjukkan kebesaran-Nya. (Jenna Jacobs/Unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Seorang pria sudah beristri menghadapi sebuah problem yang, katanya, amat bersifat pribadi. Tapi dia merasa perlu untuk menceritakannya, Sebab kalau saya simpan, saya akan terus merasa tersiksa. Katanya, dia sangat bahagia sudah beristri. Apalagi istrinya sekarang sedang hamil. Namun, dia tidak bisa berbohong pda dirinya bahwa dia punya sifat menyukai pria ganteng dan kebapakan. Gilakah saya ini? Masalah ini membuat saya sungguh tersiksa.

Jawaban Dr. H. Fathurrahman Djamil:

Menyukai hal-hal menarik itu wajar. Termasuk mengagumi pria ganteng atau wanita cantik (QS 3: 14; 29: 51). Apalagi jika dari rasa suka dan kagum itu muncul keinginan untuk meniru perilakunya yang terpuji.

Tapi masalah yang dihadapi Saudara tampaknya berbeda. Rasa suka Anda kepada pria ganteng dan kebapakan tak sebatas pada kekaguman. Dari penuturan Anda, terkesan ada semacam getaran khusus; ada rasa dagdigdug di dada Anda kepada pria ganteng kebapakan itu, yang mungkin disertai birahi.

Apa pun alasannya, perasaan tersiksa akibat “getaran khusus” itu dapat dipahami. Baik karena dihantui perasaan bersalah kepada sang istri atau karena sadar bahwa hal tidak diperkenankan dalam Islam. Justru perasaan tersiksa itulah yang akan menjadi kunci utama untuk melepaskan diri Anda dari belenggu sifat yang sebenarnya tidak Anda sukai itu.

Benturan kehendak yang menyumblim dalam perasaan tersiksa itu dapat Saudara jadikan sebagai titik tolak untuk keluar dari belenggu yang menjerat. Sebab, apabila sudah ada kemauan, maka cara-cara terapinya dapat dengan mudah dilakukan. Sayang sekali Saudara tidak menjelaskan lebih rinci apakah perasaan suka terhadap pria ganteng dan kebapakan tadi sudah dirasakan sejak kecil atau baru muncul belakangan. Ini tentu, sedikit-banyak, berpengaruh terhadap cara-cara terapinya itu. jika baru muncul belakangan, terapinya jelas “ringan”, dibanding—misalnya—bila perasaan suka itu dibawa sejak kecil.

Terlepas apakah perasaan suka itu baru muncul belakangan atau sudah dibawa sejak kecil, sebenarnya terapinya itu lebih banyak bergantung kepada diri Saudara sendiri. Berupayalah bersikap realistis, baik terhadap diri sendiri maupun keluarga.

Dari sudut pandang agama, “getaran khusus” seperti itu tidak diperbolehkan. Islam membimbing naluri manusia ke dalam ikatan fitrah. Surah Ali Imran ayat 14, misalnya, menyebutkan bahwa laki-laki dihiasi kecintaan kepada hal-hal indah, seperti wanita, anak dan harta yang banyak. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan) untuk menunjukkan kebesaran-Nya (QS 51: 49).

Dalam ikatan fitrah itu kelanggengan hidup manusia dapat dijamin. Maka dari itu, Rasulullah s.a.w. selalu mewanti-wanti bahwa jika seseorang telah menemukan pasangan yang cocok supaya cepatlah ia kawin (HR Bukhari). Dalam kehidupan keluarga itulah orang akan menemukan ketenangan, cinta, dan kasih sayang (QS 30: 21).

Apakah potret kehidupan keluarga sakinah yang digambarkan Alquran itu terwujud dalam rumah tangga Saudara? Kami yakin, apabila Saudara berusaha mewujudkan keluarga sakinah, berarti Saudara telah melangkah untuk menghindar dari sifat-sifat yang tidak Saudara kehendaki.

Sebagai langkah awal, Saudara dapat memperbanyak membaca sejarah Islam, terutama sejarah kehidupan Rasulullah s.a.w. berserta keluarganya, sebagai sebuah uswah hasanah (teladan yang baik). Alquran secara eksplisit menegaskan hal ini: “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik (uswah hasanah) bagi orang-orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta selalu mengingat-Nya” (QS 33: 21). Wallahu a’lam.

Edisi 008 – 15 Maret 2019 (PANJI No. 11 Tahun 1 – 1997)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda