Hari ini, Selasa, 16 Juni 2026, lembaran kalender Hijriah berganti: 1447 ditutup, 1448 dibuka. Tahun baru ini bukan sekadar pergeseran angka. Ia memikul satu kata yang menamai seluruh penanggalan umat ini — hijrah. Para sahabat tidak menjadikan kelahiran atau wafat Nabi Muhammad Saw., sebagai titik nol kalender, melainkan peristiwa berpindahnya beliau dari Makkah ke Madinah. Sebuah keputusan yang menarik: _yang dirayakan adalah sebuah perpindahan, sebuah perubahan keadaan._
Maka pertanyaan yang pantas kita ajukan di pagi 1 Muharram ini bukanlah “tahun berapa sekarang”, melainkan “saya sedang berpindah dari apa, menuju apa.”
Saya ingin mengajukan satu arah hijrah yang jarang kita sebut, tetapi mungkin paling menentukan: hijrah dari otak pengemis menuju otak pemberi.
Dua Tangan, Dua Cara Otak Bekerja
Rasulullah Saw. bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Al-yad al-‘ulya_—tangan yang memberi—lebih mulia daripada al-yad as-sufla, tangan yang menengadah. Hadis ini biasa kita baca sebagai anjuran berderma. Tetapi izinkan saya membacanya juga sebagai peta dua mode kerja otak manusia.
Perlu saya tegaskan di awal, agar tidak ada yang salah paham: tidak ada dua jenis otak yang berbeda secara anatomis di kepala kita. “Otak pengemis” dan _otak pemberi” adalah bingkai—dua pola berpikir yang sama-sama bisa menyala di otak yang sama, tergantung mana yang lebih sering kita latih. Justru di situlah kabar baiknya, sebagaimana akan saya tutup nanti.
Otak Pengemis: Ketika Rasa Kekurangan Membajak Pikiran
Yang saya maksud “otak pengemis” bukanlah orang miskin secara harta. Ia adalah mentalitas kekurangan _(scarcity mindset)_—rasa selalu kurang, selalu terancam, selalu menghitung apa yang bisa diraih untuk diri sendiri. Mentalitas ini bisa hinggap pada orang yang dompetnya tebal sekalipun.
Penelitian ekonomi-perilaku memberi kita gambaran yang mengejutkan tentang apa yang dilakukan mentalitas kekurangan terhadap otak. Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir, dalam riset yang terbit di jurnal _Science_ (Mani dkk., 2013) dan dirangkum dalam buku Scarcity (2013), menunjukkan bahwa kondisi serba-kurang “membajak” kapasitas kognitif. Pikiran yang terus-menerus sibuk menambal kekurangan kehilangan apa yang mereka sebut mental bandwidth — ruang berpikir untuk merencanakan, menahan diri, dan mengambil keputusan jernih. Otak yang dicekam kekurangan menjadi berpandangan terowongan (tunneling): hanya melihat ke dalam, ke kebutuhan diri yang mendesak, dan buta terhadap gambaran besar di sekelilingnya.
Inilah anatomi spiritual “tangan di bawah”. Tangan yang menengadah bukan sekadar soal menerima pemberian; ia adalah sikap batin yang selalu merasa berhak menuntut, selalu menghitung apa yang kurang, dan karenanya menyempit. Otak pengemis itu lelah, curiga, dan—ini yang ironis—jarang merasa cukup berapa pun yang ia terima.
Otak Penderma : Sirkuit Yang Menyala Saat kita Memberi
Sekarang mari kita tengok sisi sebaliknya, dan di sinilah neurosains memberi kita kejutan yang indah.
Ketika seseorang memberi—bukan karena dipaksa, melainkan dengan ikhlas—otaknya tidak sekadar “berkorban”. Jorge Moll dan timnya, dalam studi yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS, 2006), merekam aktivitas otak orang yang menyumbang untuk amal. Hasilnya: keputusan berderma mengaktifkan sistem ganjaran mesolimbik —jaringan yang sama yang menyala ketika kita menikmati makanan atau menerima imbalan. Memberi, secara harfiah, terasa nikmat bagi otak.
Temuan ini diperkuat William Harbaugh dan koleganya, juga di _Science_ (2007), yang menunjukkan bahwa baik memberi secara sukarela maupun “memberi” lewat pajak mengaktifkan pusat ganjaran otak—tetapi pemberian yang sukarela menyalakannya jauh lebih terang. Niat, ternyata, mengubah peta saraf.
Lalu pertanyaan yang lebih membumi: _apakah memberi membuat kita lebih bahagia?_
Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton menemukan dalam sebuah eksperimen (Science, 2008) bahwa orang yang diminta membelanjakan sejumlah uang untuk orang lain cenderung melaporkan kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang membelanjakannya untuk diri sendiri—terlepas dari besar kecilnya jumlah. Temuan dari satu eksperimen ini memang masih diperdebatkan dalam upaya replikasi belakangan. Namun gagasan dasarnya memperoleh dukungan yang lebih kokoh dari survei lintas-budaya di 136 negara (Aknin dkk., 2013): kecenderungan berbagi harta untuk orang lain berkaitan dengan kebahagiaan yang lebih tinggi, di negara kaya maupun miskin.
Para peneliti menyebut gejala ini warm glow—kehangatan yang menjalar setelah berbuat baik. Ada pula istilah lama helper’s high, sensasi lega dan ringan yang dirasakan banyak relawan. Otak pemberi, dengan kata lain, adalah otak yang lebih kaya—bukan dalam pengertian harta, melainkan dalam pengertian rasa cukup, tenang, dan terhubung.
Empat belas abad sebelum ada pemindai otak, Al-Qur’an telah melukiskan logika kelimpahan ini. Sedekah diumpamakan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada tiap tangkai ada seratus biji (Q.S. Al-Baqarah: 261). Dan Rasulullah Saw., menegaskan, _“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (H.R. Muslim). Tangan yang memberi tidak menjadi miskin; ia justru menjadi lebih lapang—di rekening, dan di dalam kepala.
Hijrah Sebagai Momen Perubahan Menjadi Otak Pemberi
Di sinilah dua dunia itu bertemu. Sebab makna terdalam hijrah bukan sekadar pindah tempat. Nabi saw., menerangkannya sendiri: “Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (H.R Bukhari). Hijrah adalah perpindahan keadaan batin—dari satu pola hidup ke pola yang lebih baik.
Dan otak manusia, alhamdulillah, memang dirancang untuk berpindah. Inilah yang dalam ilmu saraf kita sebut _neuroplastisitas_: kemampuan otak menata ulang jaringannya sepanjang hidup. Jalur saraf yang sering dilewati menjadi semakin kuat; yang ditinggalkan, melemah. Sederhananya, kita menjadi apa yang berulang kali kita lakukan. Otak pengemis maupun otak penderma sama-sama bukan takdir mati—keduanya adalah hasil latihan.
Maka hijrah dari tangan di bawah ke tangan di atas adalah pekerjaan yang sangat nyata, sangat biologis. Ia tidak terjadi karena tekad heroik sekali setahun di malam 1 Muharram, melainkan karena pengulangan kecil yang konsisten: _memberi sebelum diminta, menahan keluhan, mensyukuri yang ada, melatih mata untuk melihat keluar alih-alih hanya ke dalam_. Setiap kali kita memilih memberi, kita sedang—secara harfiah—memperkuat jalur saraf kekayaan diri , dan melemahkan jalur kekurangan. Inilah ikhtiar, dan selebihnya kita serahkan kepada Allah yang membolak-balik hati.
Kearifan lokal, local wisdom, Indonesia mewariskan satu falsafah yang ternyata sangat pas dengan temuan ini: silih asih, silih asah, silih asuh —saling mengasihi, saling mengasah, saling mengasuh. Sebuah masyarakat yang seluruh tangannya berada “di atas”, saling memberi, adalah masyarakat yang otak-otaknya sehat.
Hijrah Otak yang Harus Dimulai Hari Ini
Maka di awal 1448 Hijriah ini, saya mengajak diri saya sendiri lebih dahulu, baru kemudian para pembaca: *marilah kita pilih hijrah yang benar*.
Bukan hijrah yang riuh di permukaan, melainkan perpindahan diam-diam di dalam kepala—dari pikiran yang selalu menghitung apa yang kurang, menuju hati yang sibuk menghitung apa yang bisa diberikan. Dari otak yang lelah menengadah, menuju otak yang lapang memberi. Sebab pada akhirnya, sebagaimana sabda Nabi dan sebagaimana dibenarkan oleh peta saraf kita, tangan di atas memang lebih baik—bukan hanya bagi yang menerima, tetapi pertama-tama bagi pemiliknya sendiri.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang benar-benar berhijrah.
Penulis: Dr. Wawan Mulyawan, praktisi neurosains, dokter spesialis bedah saraf dan spesialis Kedokteran Penerbangan, Ketua Umum ILUNI FKUI, dan Ketua Umum PERDOKJASI




