Cakrawala

Buzzer, Influencer, dan Kentongan Digital: Ketika Dunia Maya Lebih Berisik daripada Pasar Tradisional

Konon, dahulu kalau ada berita penting, orang memukul kentongan. Bunyinya sederhana: tong… tong… tong…. Warga berkumpul, lalu mendengarkan informasi. Kini zaman berubah. Kentongan sudah berevolusi menjadi notifikasi. Bedanya, kalau kentongan hanya berbunyi ketika ada hal penting, notifikasi media sosial berbunyi bahkan ketika ada orang baru saja selesai menyeruput kopi.

Di tengah keramaian itulah lahir dua “makhluk digital” yang sering disalahpahami: buzzer dan influencer. Banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal, sebagaimana perbedaan antara toa masjid dan guru mengaji, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Secara sederhana, buzzer adalah pihak yang bertugas mendengungkan suatu pesan agar terdengar keras dan ramai. Istilah ini sebenarnya menarik. Dalam dunia elektronika, buzzer hanyalah alat kecil yang mengeluarkan bunyi. Ia tidak berpikir, tidak menganalisis, dan tidak berdebat. Tugasnya cuma satu: berbunyi.

Sayangnya, di media sosial, ada pula buzzer yang tampaknya terlalu menghayati filosofi alat tersebut. Apa pun isunya, bunyi dulu. Benar atau salah nanti belakangan. Yang penting ramai. Yang penting trending. Yang penting algoritma tersenyum.

Sementara itu, influencer memiliki pekerjaan yang sedikit berbeda. Ia membangun kepercayaan. Pengikutnya datang bukan sekadar karena suaranya keras, tetapi karena mereka percaya pada pengalaman, gaya hidup, atau keahlian yang dimilikinya.

Kalau buzzer membuat orang membicarakan sesuatu, influencer berusaha membuat orang melakukan sesuatu.

Buzzer mengejar percakapan.

Influencer mengejar kepercayaan.

Buzzer ingin sebuah topik menjadi viral.

Influencer ingin rekomendasinya dipercaya.

Karena itu, jumlah pengikut sering kali menjadi pembeda. Influencer biasanya memiliki komunitas yang mengenal dirinya. Mereka mengikuti karena merasa dekat atau mendapatkan manfaat. Sementara buzzer bisa saja tidak dikenal sama sekali. Yang penting pesannya bertebaran di mana-mana seperti brosur yang diselipkan di kaca mobil.

Ironisnya, masyarakat sering kali lebih sibuk menghitung jumlah followers daripada menghitung kualitas informasi.

Padahal, seribu orang yang berpikir kritis jauh lebih berharga daripada sejuta akun yang hanya pandai menekan tombol share.

Media sosial memang memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk berbicara. Itu adalah kemajuan demokrasi digital. Namun, kesempatan berbicara tidak otomatis berarti memiliki kualitas untuk didengar.

Ada pepatah baru yang layak dibuat pada era internet:

“Semua orang bisa membuat status, tetapi tidak semua status layak dijadikan pegangan.”

Tentu tidak semua buzzer buruk.

Tidak semua influencer juga bijak.

Ada buzzer yang menyebarkan kampanye kesehatan, pendidikan, atau kebencanaan. Mereka membantu informasi penting menjangkau masyarakat lebih cepat.

Sebaliknya, ada pula influencer yang justru menyesatkan pengikutnya demi mengejar angka penonton, engagement, dan keuntungan.

Artinya, masalahnya bukan pada profesinya, melainkan pada integritasnya.

Di sinilah literasi digital menjadi sangat penting.

Masyarakat tidak cukup hanya pandai menggunakan gawai. Yang lebih penting adalah mampu membedakan antara informasi dan propaganda, antara edukasi dan sensasi, antara opini dan fakta.

Jangan sampai kita menjadi pengguna internet yang mudah kagum hanya karena sebuah akun memiliki jutaan pengikut. Sebab, kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah like. Seandainya demikian, maka mie instan sudah layak memperoleh gelar profesor karena penggemarnya sangat banyak.

Media sosial sejatinya hanyalah alat. Sama seperti pisau, ia dapat digunakan untuk memasak atau melukai. Yang menentukan manfaatnya bukan teknologinya, melainkan karakter penggunanya.

Maka, sebelum ikut menyebarkan sebuah unggahan, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:

Apakah saya sedang membantu menyebarkan pengetahuan, atau hanya sedang menambah kebisingan digital?

Sebab dunia maya hari ini tidak kekurangan suara.

Yang masih langka justru adalah kebijaksanaan.

Dan jangan sampai kita berubah menjadi “buzzer biologis”—mulut terus berbunyi, tetapi akal sedang mode pesawat.**

Kamus

  1. Engagement media sosial adalah tingkat keterlibatan dan interaksi audiens—seperti suka, komentar, dan bagikan—terhadap konten yang Anda unggah. Hal ini berfungsi sebagai pengukur seberapa relevan dan menarik konten Anda bagi pengikut.
  2. Endorse (endorsement) adalah bentuk dukungan, promosi, atau rekomendasi produk oleh figur publik atau influencer.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button