Cakrawala

Kolom Ganjar Kurnia: MAAF

Ada kata-kata yang begitu ringan ketika diucapkan, tetapi menjadi sangat berat ketika terlalu lama disimpan. Salah satunya adalah “maaf”.

Ia hanya terdiri atas empat huruf. Dapat diucapkan dalam satu tarikan napas. Namun, entah mengapa, manusia sering membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengeluarkannya. Katanya menunggu suasana yang tepat, kesempatan yang baik, atau keberanian yang cukup. Padahal, waktu tidak pernah berjanji akan menunggu.

Mula-mula mungkin hanya pertengkaran kecil. Sebuah ucapan yang meninggi, pesan yang tidak dibalas, janji yang terlupakan, atau salah paham yang dibiarkan tumbuh dalam diam.

Tidak ada yang sungguh-sungguh ingin berpisah. Hanya saja, masing-masing menunggu yang lain meminta maaf lebih dahulu.

“Aku tidak salah,” kata hati yang satu.

“Seharusnya dia yang meminta maaf,” jawab hati yang lain.

Begitulah dua orang yang pernah begitu dekat mulai menjauh. Bukan karena jalan di antara mereka terlalu panjang, melainkan karena gengsi berdiri di tengah-tengahnya seperti tembok yang tidak terlihat.

Hari berganti minggu. Minggu berubah menjadi tahun. Beberapa kali tangan hampir meraih telepon. Nama itu telah ditemukan dalam daftar kontak. Pesan sempat diketik:

Apa kabar?

Lalu dihapus.

Ditulis lagi:

Sudah lama kita tidak bertemu.

Dihapus kembali.

Kata maaf sudah sampai di ujung jari, tetapi harga diri menyuruhnya pulang. “Besok saja,” bisik hati: “Masih ada waktu.”

Kita sering memperlakukan waktu seperti persediaan beras di gudang: seolah-olah selalu ada ketika dibutuhkan. Kita lupa bahwa waktu tidak pernah mengumumkan kapan ia akan habis.

Sampai suatu pagi, telepon berdering membawa kabar yang tidak pernah ingin kita dengar.

Ia telah pergi.

Tiba-tiba dunia menjadi sangat sunyi. Pertengkaran yang dahulu terasa begitu penting kehilangan seluruh artinya. Siapa yang benar dan siapa yang salah tidak lagi berguna. Kalimat-kalimat pembelaan yang selama ini disusun runtuh dengan sendirinya.

Tinggallah sebuah kata yang berputar-putar di dalam dada, mencari seseorang yang sudah tidak dapat mendengarnya.

Maaf.

Kata itu akhirnya tiba, tetapi alamatnya telah tiada.

Di rumah duka, kita memandang wajah yang telah diam. Wajah yang dahulu pernah tertawa bersama, berbagi keluhan, dan menyimpan begitu banyak kenangan. Mungkin di sanalah kita baru menyadari bahwa orang yang kini terbujur kaku pernah menunggu sebuah sapaan.

Kita ingin menggenggam tangannya, tetapi tangan itu telah dingin. Kita ingin menjelaskan semuanya, tetapi telinganya telah selesai mendengarkan suara dunia. Kita ingin mengulang waktu, tetapi waktu hanya mengenal satu arah.

Akhirnya, maaf dibisikkan di antara tangis dan doa.

“Maafkan aku.”

Sesungguhnya, penyesalan bukan hanya kesedihan karena seseorang telah pergi. Penyesalan adalah kesadaran bahwa kita sebenarnya memiliki kesempatan, tetapi membiarkannya berlalu. Kita mempunyai kata-kata, tetapi memilih diam. Kita memiliki jalan, tetapi menunggu orang lain mengambil langkah pertama.

Setelah pemakaman selesai, hidup perlahan kembali ke kebiasaannya. Orang-orang pulang, kursi-kursi dirapikan, gelas-gelas dicuci. Namun, ada sesuatu yang tertinggal di dalam diri.

Nama itu masih tersimpan dalam telepon. Nomornya masih ada, fotonya masih muncul, dan percakapan terakhir belum terhapus. Kadang-kadang jari ingin menekan tombol panggil, sebelum ingatan menyadarkan bahwa tidak akan ada lagi suara yang menjawab dari seberang.

Aneh, seseorang dapat pergi dari dunia, tetapi tetap tinggal dalam kata seandainya. Seandainya waktu itu aku menelepon. Seandainya aku tidak mempertahankan kemarahan. Seandainya aku datang lebih dahulu……dan seandainya lainnya.

Di hadapan kepergian, kita baru memahami bahwa meminta maaf, tidak selalu berarti mengakui seluruh kesalahan. Kadang-kadang ia berarti bahwa sebuah hubungan jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam pertengkaran. Namun, pemahaman itu sering datang ketika pintu sudah tertutup. Ketika akhirnya keberanian datang, yang tersisa mungkin hanya sebuah pusara, taburan bunga, serta kata maaf yang berdiri sendirian—mengetuk pintu yang tidak akan pernah terbuka lagi.

Dosa adami seharusnya diselesaikan sebelum kematian tiba. Kalau tidak, saling gugatnya bisa terjadi di yaumal makhsyar kelak. Maukah?

Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

Ganjar Kurnia

Akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 - 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button