Cakrawala

Menjaga Langkah Tetap di Jalan yang Lurus: Memahami Filosofi Ojo Keminter Mundak Keblinger

Kehidupan modern sering kali menuntut kita untuk selalu tampil cerdas, vokal, dan terdepan dalam segala situasi.

Ambisi untuk diakui kemampuannya kerap membuat seseorang tanpa sadar melampaui batas kewajaran, hingga jatuh pada sikap arogan.

Di sinilah kearifan lokal Nusantara, khususnya tradisi Jawa, menawarkan rem pengaman mental yang sangat relevan melalui ungkapan “Ojo keminter mundak keblinger.”
Pepatah ini bukan sekadar susunan kata puitis, melainkan sebuah kompas moral agar manusia senantiasa berpijak di bumi dengan penuh kesadaran diri.

Menyelami Makna di Balik Setiap Kata

Secara harfiah, frasa ini terdiri dari empat kata yang masing-masing memuat bobot pengingat yang kuat.

Ojo berarti jangan, sebuah bentuk larangan yang tegas namun disampaikan secara persuasif.

Kata keminter menggambarkan kondisi seseorang yang merasa paling pandai, sok tahu, atau gemar menonjolkan kepintaran di atas rata-rata orang lain—meskipun terkadang apa yang diketahuinya masih sebatas permukaan.

Selanjutnya, kata mundak mengindikasikan akibat atau konsekuensi yang akan terjadi di masa depan, yaitu keblinger yang berarti tersesat, kehilangan arah, atau salah melangkah dalam mengambil keputusan hidup.

Ketika digabungkan, kalimat ini membentuk sebuah pesan preventif agar ego intelektual tidak membawa seseorang pada kehancuran moral.

Menumbuhkan Sikap Rendah Hati di Tengah Arus Pengetahuan

Orang yang terjebak dalam sifat keminter biasanya menutup pintu bagi masukan luar karena merasa sudut pandangnya adalah yang paling benar.

Sikap defensif semacam ini lambat laun memutus ruang belajar dan menutup peluang untuk tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Sebaliknya, filosofi ini mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu atau pengalaman seseorang, ia seharusnya bersikap semakin rendah hati, selayaknya padi yang semakin berisi semakin merunduk.

Kerendahan hati membuka lebar pintu kebijaksanaan, membuat seseorang lebih peka mendengarkan realitas di lapangan, menghargai perspektif orang lain, serta terhindar dari jebakan kesombongan intelektual yang menyesatkan.

Menyelaraskan Ilmu dengan Kebijaksanaan Hidup

Petuah luhur ini juga kerap disandingkan dengan pasangan serasinya, yakni ojo cidra mundak cilaka—jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
Keduanya saling melengkapi sebagai fondasi integritas manusia dalam bersikap dan bertindak.
Integritas yang sejati lahir dari kombinasi antara kejernihan pikiran dan kelurusan niat.

Dengan meredam keinginan untuk merasa paling hebat, seseorang dapat menavigasi kompleksitas hidup dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Pada akhirnya, kekayaan ilmu dan kecerdasan bukanlah alat untuk merendahkan sesama, melainkan jembatan untuk membawa manfaat yang selaras dengan keselamatan diri dan harmoni sosial di masyarakat.

Zenza TekSas (Ir. H Zen Zainul HP) Seniman Kemerdekaan dan Manusia Kalender Indonesia

Ir. H. Zen Zainul HP

Seniman Kemerdekaan, penulis lagu dan vokalis TekSas UI Band, peraih Rekor MURI bidang Seni, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button