Bintang Zaman

Moh. Roem Kader Tjokroaminoto dan Agus Salim

Meskipun sudah lebih dari seminggu dimakamkan, masih banyak orang yang bertakziah ke rumah almarhum Mohamad Roem. Biasa dipanggil Pak Roem. Tak mengherankan bila Ibu Markisah Dahlia Roem nampak agak lelah. Keletihan membayang di wajahnya. Dengan suara lirih Bu Roem berkata: ‘Setiap hari, dari pagi sampai malam, masih banyak yang datang kemari. Mereka umumnya famili atau kenalan-kenalan Bapak” katanya.


Sementara putri Pak Roem, Rumeisa, di wajahnya masih membayang kesedihan. Rumeisa tak sempat melihat jenazah ayahandanya tercinta, karena baru datang dari Aljazair tanggal 26 September,dua hari sesudah Pak Roem dimakamkan. Putri bungsu Pak Roem ini sebenarnya ingin cepat-cepat ke Jakarta begitu mendengar ayahnya dipanggil Tuhan. Tetapi apa mau dikata, jarak Aljazair – Jakarta tak bisa ditempuh dalam beberapa jam bahkan sehari dengan pesawat. Tak ada penerbangan langsunh dan haruis Harus melalui Eropa lebih dulu.

Ditembak NICA

Senin tanggal 3 Oktober itu Panjimas sengaja datang ke rumah Almarhum di Jl. Cik dik Tiro 58, Menteng Jakarta Pusat. Diselingi dengan tamu-tamu yang datang, Panjimas berbincang bincang dengan Ibu Markisah, putri bungsu Pak Roem, Rumeisa, yang sudah berkeluarga, dan sekretaris Pak Roem, Mashadi.

”Banyak kenangan yang ditinggalkan Bapak. Penuh suka duka. Akan panjang kalau diceritakan,” kata Bu Roem, masih dengan suara pelan. ”Sejak muda kami sama-sama aktif dalam pergerakan. Bapak waktu itu aktif di ”Jong Islamieten Bond” (JIB), sedang saya sendiri di organisasi kepanduan Natipij Surabaya.”

Pada Kongres JIB tahun 1929 di Surabaya itulah Mohamad Roem mengenal gadis Markisah Dahlia. Cinta pun bersemi di antara keduanya dan dilanjutkan dengan perkawinan, pada tahun 1932. Terdorong oleh cita-cita untuk meningkatkan pengetahuan, Pak Roem melanjutkan kuliah ke ”Rechsts Hoogerschool” (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. ”Karena masih mahasiswa, Bapak tak punya penghasilan tetap. Sayalah yang bekerja, sebagai guru,” tutur Bu Roem.

Pak Roem berhasil menyelesaikan studinya dan mendapatkan gelar Meester in de Rechtenan (Sarjana Hukum) pada tahun 1939. Waktu itu anaknya sudah dua orang, yang pertama laki-laki bernama Roemoso yang lahir pada tahun 1933, dan kedua perempuan bernama Rumeisa, lahir tahun 1939.

Perjalanan hidup Pak Roem selanjutnya — seperti halnya tokoh-tokoh pergerakan lainnya — diisi dengan berbagai macam aktivitas. Ia pernah aktif pada Partai Sarekat Islam Indonesia. (PSII) dan pernah menjadi salah seorang pimpinan partai itu. Ia merupakan kader HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.

Tahun 1945 Pak Roem menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI). Di tahun itu pula sebuah peristiwa hampir merengut nyawa Pak Roem. Yakni ketika tentara NICA-Belanda menggerebek rumahnya dan menembaki isi rumah. Tuhan rupanya masih melindunginya, Pak Roem selamat. Hanya kakinya kemudian menjadi cacat, pincang. Toh dengan kaki yang pincang itu, Mohamad Roem tak surut dari perjuangan. Dengan kaki yng pincang itu pula beliau memimpin perundingan-perundingan dengan pihak Belanda, antara lain melalui persetujuan ”Roem-Royen”’ yang bersejarah itu. Malah kemudian diberi kepercayaan untuk memegang beberapa jabatan penting dalam pemerintahan, anara lain sebagai Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri dan pernah pula menjabat Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo. Dan tentu saja, Pak Roem dikenal sebagai salah seorang tokoh Masyumi yang berpengaruh di samping Pak Natsir, Pak Prawoto, Pak Kasman, Pak Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Pengalaman Tak Terlupakan

“Ada pengalaman yang tak dapat Ibu lupakan selama mendampingi Bapak?” tanya Panjimas.

”Ada, ketika Bapak ditahan,” jawab Bu Roem pendek.

Pak Roem memang pernah ditahan selama 4 tahun 4 bulan bersama Prawoto Mengkusasmito, M. Yunan Nasution (Sekjen Partai Masjumi) dan tokoh-tokoh politik yang lain seperti Sjahrir, Mochtar Lubis dan lain-lain di penjara khusus tahanan politik di Madiun. Sementara teman-teman seperjuangannya yang lain, seperti M. Natsir ditahan di Malang, Buya Hamka di Sukabumi, Syafruddin Prawiranegara di Kudus. Mereka dipisahkan.

”Tentara datang pada malam hari, ketika kami hendak tidur. Kemudian menunjukkan surat tugas dan terus mengambil Bapak,” tutur Bu Roem mengenang peristiwa itu.

Selanjutnya Pak Roem hanya menyuruh mempersiapkan pakaian, piama, sabun dan sikat gigi. Ketika ditanya hendak dibawa ke mana, Pak Roem menjawab singkat: “Belum tahu.”

Tentara yang menahan juga diam. Baru setelah beberapa hari, lewat ‘Peperti” (Penguasa Perang Tertinggi) diketahuilah tempat penahanan Pak Roem, yakni di Kebayoran Baru. Setelah itu dipindahkan ke Madiun, bersama-sama tawanan politik lainnya.

”Kami sangat menderita ketika Bapak ditahan,” kenang Bu Roem. Ia ingat bagaimana kasar perlakuan para tentara yang bertugas menjaga para tawanan politik itu. Kadang-kadang dicemooh atau dikata-katai yang tidak pada tempatnya. “Setiap habis menjenguk bapak di Madiun saya selalu jatuh sakit!” Hingga Pak Roem menganjurkan agar Bu Roem tak perlu setiap bulan menjenguknya, cukup bergantian dengan anak-anak saja.

Keadaan seperti itu berlangsung hingga tahun 1966, sampai akhirnya Pak Roem dan kawan-kawan seperjuangannya dibebaskan. Dua tahun setelah pembebasan itu, yakni pada tahun 1968, dengan aklamasi dipilih untuk menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia dalam Muktamar di Malang, Sayang, yang berkuasa tidak memberikan “clearance” kepadanya hingga amanah rakyat itu tak dapat beliau jalankan. Pada tahun 1974 Pak Roem menunaikan ibadah haji, sesudah lebih kurang selama setahun mempersiapkan naskah tentang perundingan Indonesia-Belanda. Naskah ini pun belum sempat beliau lihat sebagai buku. Dan sejak tahun 1975 Pak Roem diangkat menjadi Badan Eksekutif dari Muktamar Alam Islami (World Muslim Congress) yang berpusat di Karachi, Pakistan, sampai akhir hayatnya.

Sejak tak lagi aktif di bidang politik, Pak Roem mengisi hari-harinya dengan menulis buku atau artikel di berbagai media massa , umumnya tentang sejarah atau politik.

Tiga kali seminggu almarhum dalam usia 75 tahun berkantor di sekretariat ”?Muktamar Alam Islami”, Jl. Kramat Raya 45. Terkadang menulis tajuk rencana (editorial) untuk majalah Serial Media Da’wah yang terbit sekali sebulan. Berapa pensiun Pak Roem selaku bekas pejabat tinggi negara? ”’Dulu sekitar Rp100.000,tetapi kemudian dinaikkan, sekarang kalau dikumpul-kumpul berjumlah Rp258.700,” tutur Bu Roem. Penghasilan lain diterima dari Dewan Da’wah, Percetakan . ” Abadi” dan honorarium menulis di berbagai media. Itu saja. Tak mengherankan, jika ia di hari tuanya pun Pak Roem tetap hidup sederhana. Beliau tak meninggalkan warisan apa-apa selain buku-buku dan dokumen-dokumen penting sejarah dan kenegaraan yang tak ternilai harganya.

Sop Buntut dan Rujak

Bagaimana kebiasaan Pak Roem sehari-hari? Menurut Ibu Markisah, Pak Roem biasa bangun pukul 2 atau 3 malam. Terus membaca buku sekitar satu atau dua jam. Sesudah itu tidur lagi barang dua jam, bangun untuk terus salat subuh. Pagi hari kalau tidak sedang menerima temu, Pak Roem menulis atau membaca buku-buku di kamar kerjanya di ruang depan. Makanan kesukaan Pak Roem adalah gulai kambing dan sop buntut. ”Saya sendiri tidak suka, tapi sering menemaninya kalau pergi ke restoran.” katanya. Hubungan Pak Roem dengan anak-anaknya cukup dekat. Roemoso, anaknya yang tertua, sering bersama-sama menemani ayahnya berenang atau berkuda. Juga kalau lagi ketagihan gulai kambing. Bahkan di hari Sabtu pagi tanggal 24 September itu pun, Roemoso baru saja menemani ayahnya menghirup udara segar sehabis keluar dari rumah sakit dan menikmati sop buntut. ”Pagi itu Ayah kelihatan sehat dan gembira sekali. Juga tak berpesan ini itu. Sedikit pun saya tak menyangka hari itu hari terakhir bersama Ayah,” ujar Moes (panggilan untuk Roemoso) kepada Panjimas.

Dan Meis (panggilan untuk Rumeisa) adalah teman merujak dan nonton bagi Pak Roem. ”Kami berdua punya kesenangan yang sama, suka makan yang pedas-pedas”. Waktu masih gadis dan kuliah di Fak. Hukum Unpad Bandung, anak dan ayah itu suka nonton film bersama. ”Di samping sebagai ayah, bapak juga teman untuk saya,” tutur Meis.

Pak Roem demokratis dalam mendidik anak-anaknya. Beliau tak pernah mengarahkan pendidikan anak-anaknya menurut keinginannya. Pilihan Meis untuk masuk ke Fak. Hukum Unpad, bukanlah atas kehendak Pak Roem yang juga Sarjana Hukum itu. Malah ketika sudah masuk saya menyesal memilih jurusan hukum. Tapi karena ingat jerih payah orang tua, saya teruskan hingga selesai,” katanya.

Rumeisa menikah dengan diplomat Eddy S. Suryodiningrat, kini Kuasa Usaha di KBRI Aljazair. Dikaruniai 3 orang anak.

Teman Ideal

Itulah secercah kenangan dari seorang dan dua orang anak tentang orang yang amat dicintainya. Tapi kenangan ini rasanya belum klop kalau tidak dilengkapi Jengaa kenangan Mashadi, sekretaris Pak Roem yang masih muda. ”Bagi saya Pak Roem itu seorang ayah dan teman bertukar pikiran yang mengesankan’” tutur Mashadi. Anak muda yang berputra ini memulai bekerja pada Pak Roem sejak awal 1980, menggantikan sekretaris lama yang berhenti karena sudah tua. Mashadi nampaknya dianggap keluarga Pak Roem sendiri “Setiap ada kesulitan, beliau selalu membantu,” tuturnya.

Satu peristiwa kecil yang tak dapat dilupakannya adalah ketika Pak Roem mengantarkannya ke rumah Pak Burhanuddin Harahap. Waktu itu Mashadi ingin mendaftarkan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/IISIP Jakarta), yang dipimpin oleh Drs. A.M. Hutasoehoet. Sopir Pak Roem kebetulan malam itu belum datang. Mashadi ingin pergi sendiri menemui Pak Bur, tapi pak Roem mencegahnya sambil berkata. ”’Kita pergi sama-sama saja, biar nanti saya yang bicara dengan Sdr. Bur yang sudah kenal dengan Sdr. Hutasoehoet.” Pergilah mereka ke tempat Pak Boer, naik Bajaj. ”Saya tentu tak dapat melupakan hal itu,” kata mahasiswa STP itu (Mashadi kelak aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan menjadi anggota DPR RI dari Partai Keadilan – Kini Partai Keadilan sejahtera atau PKS, red).

Meluruskan Distorsi Sejarah

Itulah segi kecil dari manusiawinya Pak Roem. Tapi Pak Roem sebenarnya memang dekat dengan generasi muda. Beliau sering bertukar pikiran dengan generasi yang lebih muda, baik lewat dialog atau surat-menyurat. Di antaranya Dr. Anwar Harjono, SH, Prof. Ahmad Sadali, Endang Saifuddin Anshari, H. Djanamar Adjam A.M Luthfi, dan lain-lain.

Ketika masih studi di Amerika Serikat, Ahmad Syafi’i Ma’arif yang bersurat-menyurat dengan Pak Roem. Juga Imaduddin Abdulrahim dan terakhir dengan . Nurcholish Madjid. Sebenarnya Pak Roem tengah mempersiapkan sebuah buku mengenai “Demokrasi Parlementer”. Menurut keterangan Mashadi, niat Pak Roem menulis buku itu adalah untuk memberikan gambaran yang benar tentang Demokrasi Parlementer kepada generasi muda. Pak Roem prihatin karena seringnya terjadi distorsi terhadap sejarah. Misalnya digambarkan bahwa Demokrasi Parlementer itu gagal dan tidak memberi sumbangan apa-apa terhadap pembangunan politik dan ketatanegaraan. ”Itu gambaran yang sama sekali tidak benar, ” kata Mashadi, menirukan ucapan Pak Roem.

Diakui oleh Pak Roem, dalam Demokrasi Parlementer sering terjadi pergantian kabinet dan kekuasaan. Tapi menurut Pak Roem itu wajar karena dilakukan secara konstitusional dan sesuai dengan rule of the game atau aturan permintaan yang berlaku. Dalam alam demokrasi parlementer, “ukhuwah -Indonesia?” – demikian istilah Pak Roem – tetap terjalin dengan baik. Juga tidak benar dalam demokrasi parlementer yang berkembang adalah “politik dagang sapi” sebagaimana sering dituduhkan oleh sementara kalangan politik. ”Sejarah harus dikemukakan secara jujur. Generasi muda harus dihindarkan dari usaha distorsi terhadap sejarah,” kata Pak Roem sebagaimana dituturkan Mashadi.

Usaha-usaha penyusunan buku telah dirintis oleh Pak Roem, yang menurut sekretarisnya mendapat bantuan sepenuhnya dari lembaga sosial ”Nivas” di Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Benhard. Bulan September tahun depan (1984) rencananya Pak Roem akan mengambil bantuan itu. Juga direncanakan Pak Roem akan mengadakan kerja sama dengan Hull University, Inggris , dalam rangka penyusunan dan penerbitan buku tersebut. Tapi, Allah ternyata memanggilnya terlebih dahulu.

Ketika Panjimas hendak meninggalkan rumah di Jl. Cik di Tiro 58 itu, Mashadi menunjukkan foto kopi surat dari sejarawan Amerika George Mc. Turnan Kahin. Sementara di meja kerja Pak Roem menumpuk telegram ucapan duka cita di dalam dan luar negeri. Antara lain dari Ratu Juliana dan P. Benhard, Van Royen dan Istrinya serta anaknya, Imanullah Khan (sekjen Muktamar Alam Islami) dan perwakilan diplomatik RI di Eropa, Amerika, Timur Tengah serta Asia.

Surat sejarawan terkemuka Kahin itu antara lain mengatakan, di Indonesia sekarang ini banyak dilakukan distorsi terhadap sejarah. Kahin menyebut satu bukti dari film sejarah yang dilihatnya di New York.

Sayang, Kahin tak bakal bisa berdialog lagi dengan Pak Roem (Kahin sendiri wafat pada 29 Januari 2000, dan tu;isan tentang dia akan kami tayangkan setelah ini, red). Kita juga tidak. Sementara nun di sini, sejarah acapkali dijadikan legitimasi terhadap kekuasaan. Sejarah penuh dengan distorsi yang visa membahayakan masa depan negeri ini.

Penulis: M. Syafii Anwar, wartawan dan kemudian Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat. Lulusan Fakultas Hukum UI, dan meraih gelar Ph.D. dari University of Melbourne, Australia. Ia kini ia mengajar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), setelah sebelumnya mengajar di Universitas Utara Malaysia (2012-2019)
Sumber:
Panji Masyarakat, No 410 11 November 1983

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button