Remontada berasal dari bahasa Spanyol, berarti bangkit, mengejar, lalu membalikkan keadaan. Istilah ini sudah dikenal dalam sepak bola Spanyol sejak 1950-an, tetapi mendunia setelah Barcelona kalah 0–4 dari Paris Saint-Germain, lalu menang 6–1 di Camp Nou pada 2017. Kekalahan yang sudah tampak seperti batu nisan, mendadak berubah menjadi pintu kemenangan.
Sejarah sepak bola memang menyimpan banyak mukjizat yang dikerjakan dengan keringat. Liverpool pernah tertinggal 0–3 dari AC Milan pada final Liga Champions 2005, menyamakan kedudukan, lalu menang lewat adu penalti. Pada 2019, Liverpool kembali melakukannya: kalah 0–3 dari Barcelona, kemudian menang 4–0. Bola mengajarkan bahwa angka di papan skor bukanlah keputusan Tuhan. Ia hanya laporan sementara—seperti hasil survei politik sebelum pesanan terakhir masuk.
Tanggal 5 Oktober 2026, Indonesia merasakan manisnya remontada ketika menghadapi Thailand. Garuda sempat berada dalam keadaan genting, tertinggal 0-1, 1-1, 1-2, kemudian menyamakan skor 2–2, dan akhirnya menang 4–2 melalui adu penalti. Setelah berkali-kali menjadi spesialis hampir juara, akhirnya Indonesia merasakan, bahwa “hampir”, bisa menjadi ruang tunggu sementara.
Belum selesai kegembiraan itu, dua hari kemudian, tanggal 7 Okrober 2026 Persib Bandung datang ke Thailand menghadapi Port FC. Hingga menit ke-85, Persib masih tertinggal 0–1. Sebagian pemirsa mungkin sudah mematikan televisi, menyeduh obat darah tinggi, atau menyalahkan pelatih di grup WhatsApp. Tiba-tiba Mariano Peralta menyamakan kedudukan. Berguinho mencetak gol kedua pada waktu tambahan, disusul Luka Menalo. Dalam sekitar sepuluh menit, skor berubah menjadi 3–1. Port FC seperti orang yang sudah memesan panggung kemenangan, tetapi pengeras suaranya dipakai Persib untuk menyanyikan “Halo-Halo Bandung”.
Remontada ternyata bukan sekadar mengejar gol. Ia adalah keberanian menolak takdir yang terlalu cepat diumumkan. Dan di sinilah sepak bola bisa menyindir politik.
Dalam politik, rakyat Indonesia sudah beberapa kali merasa “kalah” dalam menentukan pemimpin. Mereka datang ke tempat pemungutan suara dengan harapan, setelah pulang membawa tinta di jari, lalu beberapa tahun kemudian merenung dan bertanya: “Ini dahulu memilih pemimpin atau melakukan cicilan kekecewaan?”
Rakyat mencetak gol melalui suara, tetapi setelah pertandingan dimulai, bola dikuasai sekelompok elite. Janji kampanye dikirim ke bangku cadangan. Kepentingan umum mengalami cedera hamstring. Sementara pemain yang dahulu bersumpah membela rakyat mendadak pindah klub setelah ditawari berbagai iming-iming dan tempat duduk dekat manajer kesebelasan.
Karena itu, rakyat membutuhkan strategi baru untuk melakukan remontada. Tidak cukup hanya berteriak setiap lima tahun, kemudian tidur selama empat tahun sebelas bulan. Remontada politik memerlukan ingatan panjang, pendidikan politik, strategi, organisasi warga, media yang merdeka, serta keberanian mengawasi kekuasaan sejak menit pertama.
Jangan mudah terpesona oleh pemain yang pandai mencium lambang negara sebelum pertandingan, tetapi sibuk mencium tangan atau dokendalikan sponsor setelah berkuasa. Periksa rekam jejaknya, bukan sekadar poster wajahnya. Pemimpin bukan dipilih karena paling banyak joget di media sosial, melainkan karena mampu menjaga aturan ketika lampu kamera telah padam.
Remontada mustahil terjadi jika pemain dapat dibeli, wasit disuap, dan penonton memilih diam. Jika aturan pertandingan dapat diubah menjelang peluit ditiup, kartu merah hanya berlaku bagi lawan, dan penjaga garis ternyata merangkap tim sukses, yang berlangsung bukan demokrasi, melainkan pertandingan tarkam dengan anggaran negara.
Rakyat tidak boleh sekadar menjadi suporter yang membayar tiket, membeli kaus, lalu dilarang memprotes permainan. Mereka adalah pemilik stadion. Kekuasaan hanyalah kesebelasan yang diberi kesempatan bermain.
Pertandingan belum selesai. Kekalahan hari ini bukan vonis abadi. Tetapi remontada tidak lahir dari doa tanpa gerakan, kemarahan tanpa strategi dan organisasi, atau kritik yang berhenti sebagai status media sosial.
Bangkitlah, susun serangan, kawal setiap suara. Sebab bila pemain telah dibeli, wasit menerima amplop, dan penonton tetap diam, jangan berharap terjadi remontada politik. Yang terjadi mungkin tetap sebuah kemenangan—tetapi yang menang bukanlah rakyat, melainkan bandar taruhan.


