Muzakarah

Membuat dan Memakai Jimat (Azimat)

Written by Panji Masyarakat

Saudara Muhiddi L. Dojo Melati di Wotu Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menceritakan bahwa di daerahnya ada seorang da’i (pendakwah) yang sangat fasih membaca Al-Qur’an bahkan telah pula menyandang titel haji, namun ia juga membuat azimat yang ditulis-tulis dengan huruf Al-Qur’an. Gunanya (menurut orang itu) untuk, umpamanya, pelaris jualan. Selain da’i yang haji itu, ada lagi da’i yang lain, yang menyatakan bahwa orang (orang-orang) yang membuat azimat dan mereka yang mempercayai )dalam hal ini pengertiannya, mengimaninya), adalah musyrik.

Pertanyaan: Apakah orang yang membuat (dan yang menggunakan) azimat, syirik hukumnya dalam Islam?

Jawaban Majelis Muzakarah Al-Azhar:

Arti percaya ialah berkeyakinan, bahwa dengan sebab azimat itu ia mendapat bahagia (dan dalam surat Saudara, dagangannya supaya laris), atau bagi seorang wanita, supaya disayang suami, demikian pula sebaliknya bagi pria, memang musyrik hukumnya. Majelis petikkan sebagian ayat 165 surah Al-Baqarah dan beberapa buah hadis yang berhubungan dengan itu, sebagai berikut ini:

“Dan sebagian manusia ada yang menyembah (menghambakan diri) tandingan-tandingan (andaad) selain Allah. Mereka mencintainya (tandingan-tandingan itu) sebagaimana mencintai Allah.” (Q.S. 2: 165).

Catatan: Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan “andaad” dalam ayat itu ialah sesuatu (bisa orang atau benda, seperti pohon, hewan, bintang dan lain-lain). Pokoknya selain Allah SWT. Itulah yang diterjemahkan dengan “tandingan-tandingan” di atas.

Majelis petikkan tiga hadis berikut ini yang berhubungan dengan itu:

  1. “Siapa yang datang kepada tukang tilik (ramal) sesuatu perkara, lalu ia percaya akan dia itu, tidaklah diterima salatnya 40 hari.” (H.R. Muslim).
  2. “Sesungguhnya jampi-jampian dan tangkal-tangkal dan tiwalah itu menjadikan musyrik.” (H.R. Ibnu Hibban).
  3. “Siapa yang menggantungkan (azimat) maka sesungguhnya ia menjadi musyrik.” (H.R. Ahmad).

Demikianlah jawaban Majelis, dan marilah kita ucapkan “Wabillaahit taufiq wal hidayah, Amin,  ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: Mahalah Panji Masyarakat, 11 Juli 1984.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda