Bintang Zaman

Ibnu Rusyd : Piawai dalam Fiqh dan Sains

Written by Iqbal Setyarso

Inilah zaman di mana Islam menjejakkan kecemerlangannya. Seorang ilmuwan muslim “serakah” ilmu pengetahuan, sehingga di atas landasan Islam, seseorang begitu gandrung pada pengetahuan. Dari sekian ilmuwan itu, Ibnu Rusyd satu diantaranya, Ibnu Rusyd atau Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ibnu Rusyd terlahir dari galur cendekia. Ayah dan kakeknya hakim-hakim terkenal.  “Tamūtu rūhī bi mawti al-falsafah”, kata-kata masyhurnya (jiwaku tiada seiring dengan kematian filsafat).

Ibnu Rusyd dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordoba, dan banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Latar belakang keluarga tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitasnya di kemudian hari. Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, merupakan seorang ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Lahir di tengah keluarga yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ayah dan kakeknya merupakan orang yang berpengaruh di Andalusia saat itu. Keduanya pernah menjabat sebagai kepala pengadilan. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai hakim agung di Cordoba dan Sevilla. Ibnu Rusyd banyak mempelajari ilmu syariat sejak usia belia. Dibesarkan keluarga intelektual menjadikannya pencinta ilmu pengetahuan.

Tahun 1169-1195 menulis sejumlah komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomchen Ethick.

Dengan kecerdasannya, komentarnya seolah menghadirkan kembali pemikiran Aristoteles secara lengkap, dan terlihatlah kemampuannya yang luar biasa dalam melakukan pengamatan. Ini sangat berpengaruh kepada pemikiran kaum Yahudi di kemudian hari, dan membuka Jalan Ibnu Rusyd mengunjungi Eropa untuk mempelajari warisan Aristoteles dan Filsafat Yunani.

Di bidang Agama Ibnu Rusyd menghasilkan sejumlah karya seperti Tahafut tahafut, kitab yang menjawab serangan Abu Hamid al-Ghazali terhadap para filsuf terdahulu. Ibnu Rusyd sebagai ahli ilmu agama, dan filsafat, dipandang sukses berhasil mempertemukan hikmah (filsafat) dengan syariat (agama dan wahyu).

Menurut Ernest Renan (1823-1892) karyanya mencapai 78 judul yang terdiri 39 judul tentang filsafat, 5 judul tentang kalam, 8 judul tentang fiqih, 20 judul tentang kedokteran, 4 judul tentang ilmu Falak, matematika dan astronomi, 2 judul tentang nahwu dan sastra, diantara karangan Ibnu Rusyd adalah:

  1. Bidayatul Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid (bidang hukum), berisi perbandingan mazhab(aliran-aliran fiqih dengan alas an-alasannya)
  2. Kitab kuliyat at-Tibb (buku ensiklopedi kedokteran kedokteran).
  3. Falsafah Aristolteles dan Claudius.
  4. Syarh As-Sama
  5. Syarh kitab An-Nafs.
  6. Tahafut al- Tahafut, buku yang terkenal dalam bidang filsafat dan ilmu kalam, ini adalah pembelaanIbnu Rusyd terhadap kritikan Al-Ghazali terhadap para filosof dan masalah filsafat.
  7. Al-Kasyf an Manahij al-‘Adillah fi’Aqaid ahl al-Millah, buku tentang metode-metode demonstratif yang berhubungan dengan keyakinan pemeluk agama.
  8. Fashl al Maqal fi Ma Baina al-Himah Wa asy Syirah Min al-Ittishal, buku penjelasan adanya persesuaian antara filsafat dan syariat.
  9. Risalah al-Kharraj, buku tentang perpajakan.
  10. Al-Mukhtashar fi Ushul al-Ghazali, ringkasan atas kitab al-Musytashfa al-Ghazali
  11. Dhaminah li Mas’alah al-‘ilm al-Qadim, buku apendik ilmu qadimnya tuhan terdapat dalam buku Fashl al-Maqal.
  12. Al-Dawi, buku acara pengadilan.
  13. Makasih al-Mulk wa al-Murbin al-Muharramah, buku tentang perusahaan-perusahaan Negara dan system ekonomi yang terlarang.
  14. Durusun fil al-Fiqh, buku beberapa masalah fiqih.

Ibnu Rusyd dan Filsafat

Salah satu pembahasan yang masih bergaung hingga kini, “klarifikasi” Ibnu Rusyd pada serangan keras Al-Ghazali sebagaimana termaktub dalam kitab fenomenal Tahafut Falasifah, yang mengkafirkan filsuf (karena pemikirannya). Rusyd dan Ghazali sendiri sejatinya sosok berbeda zaman (Al Ghazali Abu [Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i] lahir di Thus, lahir tahun 1058/450 H, sedangkan Ibnu Rusyd lahir 520 Hijriah (1128 Masehi),selisihnya 678 tahun.

Salah satu pernyataan Ibnu Rusyd yang menonjol, menurutnya filsafat tidak bertentangan dengan Islam. Malah “orang Islam dianjurkan mempelajarinya (wajib dan sunah), tugas filsafat adalah berpikir tentang wujud dan mengetahui pencipta. Orang  harus berpikir  tentang wujud alam sekitarnya, dan menta’wilkan arti ayat hanya dapat diketahui oleh para filosof dan tidak boleh diteruskan kepada kaum awam. Setiap muslim harus percaya kepada tiga dasar keagamaan yaitu: adanya tuhan, adanya rasul, dan hari kebangkitan.” Ibnu Rusyd dalam kurun waktu jauh melintasi periode al-Ghazali, membela kaum filosof atas serangan al-Ghazali yang menyatakan para filosof itu kafir karena pemikirannya.

Meskipun berjarak waktu amat jauh dengan Ibnu Rusyd, al-Ghazali keduanya seakan “bertetangga”.  Seperti kita tahu, Al-Ghazali merupakan tokoh penentang dan penyanggah falsafa (filsafat Islam) yang paling brilian. Oliver Leaman dalam Pengantar Filsafat Islam menulis bahwa Al-Ghazali seringkali menyerang para filsuf dengan dasar argumen yang mereka pergunakan sendiri, sambil menyampaikan pendapatnya secara filosofis dengan menyatakan bahwa tesis-tesis utama mereka adalah tidak benar dilihat dari sudut-sudut dasar logika itu sendiri.

Sebagai contoh, dalam bukunya The Incoherence of the Philosophers (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali membentangkan dua puluh pernyataan yang ia coba buktikan kesalahannya. Tujuh belas di antaranya menimbulkan bid’ah karena dianggap menyimpang dari ajaran yang asli, yakni Al Quran. Dan, tiga di antaranya benar-benar membuktikan apa yang ia ka tegorikan sebagai orang yang tidak beriman, bahkan dengan tuduhan yang lebih berat lagi.

Mengenai pandangan yang keliru dari para filsuf ini, Al-Ghazali mengungkapkan pendapatnya sebagaimana ia paparkan dalam kitab Munqidh min adh-Dhalal, bahwa “Kekeliruan para filsuf terdapat dalam ilmu-ilmu metafisik. Karena ternyata mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti yang pasti menurut persyaratan yang mereka perkirakan ada dalam logika. Maka, dalam banyak hal mereka berbeda pendapat dalam persoalan-persoalan metafisik. Ajaran Aristoteles tentang masalah-masalah ini, sebagaimana yang dilansir oleh Farabi dan Ibnu Sina, mendekati inti pokok ajaran filsafat Islam.”

Pembelajaran Ibnu Rusyd

Di antara sejumlah kitabnya, Ibnu Rusyd meninggalkan karya berharga seperti Bidayatu al Mujtahid wa Nihayatu al Muatashid . Kitab ini membahas sejumlah masalah fiqhiyyah secara syamil dan sangat membantu untuk beribadah kepada Allah sesuai tuntunan yang benar dan membedakan yang halal dan haram. Keistimewaan kitab ini, seperti yang dijelaskan pengarangnya, berusaha untuk menjelaskan yang shahih dan yang dlaif dari berbagai hadis dan atsar sehingga mudah mengetahui tingkat validitas dalil yang shahih.

Dalam ilmu fiqih, ia belajar kepada ayahnya, membaca dan mengkaji kitab al Muwaththa’ karya Imam Malik sampai selesai. Ibnu Rusyd juga belajar kepada Abu Masarrah dan ulama-ulama yang lain. Belajar ilmu kedokteran kepada Abu Marwan bin Hazbul.

Kepakarannya dalam berbagai disiplin ilmu bisa diketahui dari pernyataan Al Abbar, “Di Andalus tidak tidak pernah ada seorang yang sempurna keilmuan dan keutamaannya selain Ibnu Rusyd”. Gairah keilmuannya di mulai sejak baligh. Dikatakannya, sejak usia baligh tidak ada malam yang terlewati kecuali belajar. Selama hidupnya hanya dua malam ia absen menekuni ilmu dan menulis, yakni pada malam ayahandanya meninggal dan malam pernikahannya.

Ia mengembara sampai ke Sevilla dan tempat lainnya. Belajar ilmu kedokteran dari Abu Marwan al Balansi dan Abu Ja’far Harun. Untuk ilmu fiqih berguru kepada al Hafidz al Faqih Abu Muhammad bin Rizq.

Ibnu Rusyd telah menulis hampir sepuluh ribu lembar, sehingga ia sangat dikagumi dalam fatwa kedokteran sebagaimana dibanggakan kala berfatwa masalah fikih. Beliau juga menguasai dengan baik bahasa Arab dan hafal Diwan Abi Tammam dan al Mutanabbi.

Karya-karya Ibnu Rusyd

Di antara karyanya adalah Bidayatu al Mujtahid dalam bidang fiqih, al Kulliyyat (dalam ilmu kedokteran), Mukhtashar al Mustasyfa (bidang ushul fiqih), dan lain-lain. Berkat kealimannya, mengantarnya pada kursi hakim di Kordova.

Dalam Tarikh al Hukama,  Abi Ushaiba’ah mengatakan, Ibnu Rusyd sangat pandai dalam bidang fiqih dan kedokteran, memiliki hubungan baik dengan Marwan bin Zuhr, memiliki mental dan jiwa yang sangat kuat, dia belajar ilmu kedokteran kepada Ja’far bin Harun dalam waktu yang cukup lama.

Pada saat al Mansur berkuasa di Kordova, ia memanggil Ibnu Rusyd dan sangat memuliakannya. Walaupun pada akhirnya al Mansur menyiksanya karena menilai pemikiran filsafat Ibnu Rusyd menyimpang.

Akhir yang Sendu

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Ibnu Rusyd (Averroes) memiliki hubungan baik Khalifah al Mansur. Lebih dari itu, Khalifah sangat memuliakannya. Namun, hubungan baik itu tidak berjalan lama. Keretakan hubungan baik tersebut bermula saat Ibnu Rusyd dituduh sebagai atheis dan zindiq, sikap khalifah berubah drastis. Ia kemudian diasingkan ke Marakis, salah satu kota di Maroko.

Tidak hanya mengalami penderitaan hidup di daerah pengasingan, sebagian karya-karyanya juga dibakar. Walaupun akhirnya Khalifah al Mansur sadar kalau Ibnu Rusyd hanyalah korban fitnah dan memberikan amnesti dan memanggil kembali Ibnu Rusyd.

Hubungan mesra kembali terajut. Dan setahun setelah itu, Ibnu Rusyd meninggal dunia di Marakis. Tepatnya pada Kamis tanggal 9 Shafar tahun 595 H. Beliau tutup usia pada umur 75 tahun.  Sementara menurut Usaibha’ah, Ibnu Rusyd meninggal pada awal tahun 595 H.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda