Mutiara

Sang Perintis Pesantren Khusus Putri

Tak hanya berhasil merintis  pesantren khusus untuk perempuan, ulama perempuan dari Tasikmalaya ini juga mendorong anak didiknya untuk mendirikan pesantren. Dan lebih 40 pesantren yang didirikan alumni Ponpes Al-Hasanah yang ia dirikan.  

“Jika umat Islam menginginkan kembali pada kejayaan mereka di masa lalu, maka wajib bagi mereka berusaha untuk membangun, menyadarkan, dan mendidik kaum permpuannya ke puncak peradaban yang telah dicapai pada permulaan Islam.”

Itulah ungkapan terkenal Nyai Hajah Nonoh Hasanah,  perintis pesantren khusus perempuan di Tasikmalaya Jawa Barat. Yakni Pondok Pesantren Putri Al-Hasanah Cintapada yang ia dirikan pada 23 Desember 1959 bersama suaminya, Ahmad Dimyati. Pesantren ini sebetulnya telah berdiri pada sejak tahun 1918. Pendirinya adalah K.H. Dimyati, mertua Nonoh. Namun pada 1947, pesantren ini mengalami kevakuman vakum karena kiai dan santrinya harus mengungsi akibat agresi Belanda II. Pesantren tidak bisa menjalankan  aktivitasnya, untuk akhirnya secara alami bubar.

Dalam proses belajar mengajar, Nonoh berbagi tugas dengan suaminya. Nonoh bertugas mengajarkan agama yang bersumber dari kitab kuning, baik dalam bidang tauhid, fikih, tasawuf, nahwu, sharaf, tafsir, hadis, dan lain­ lain. Sementara suarninya khusus mengajarkan Alquran  dan ilmu-ilmu yang terkait dengannya.

Di sela-sela kesibukannya mengajar, baik di pesantren maupun dalam pengajian bulanan di kota lain, ia juga memenuhi undangan ceramah di berbagai tempat dan kesempatan, ia juga aktif sebagai pengurus cabang muslimat NU. Nonoh juga tetap menyisihkan waktu untuk menambah pengetahuannya, antara lain dengan menarnbah ilmu ulumul Qur’an berguru pada K.H. Abdullah di Cikareo,  Purbararu, Cibeureum, lalu mempelajari Qiraat Sab’ah pada K.H. Kosasih di Bojong Nangka, Cibeureum, dan memperdalarn tasawufnya pada K.H. Najmudin, Condong, Cibeureum.

Nonoh Hasanah lahir di Tasikmalaya pada 1938 dari pasangan K.H. M. Syamsudin dan Hj. Qamariyah. Ayahnya seorang kiai kampung yang sering diundang untuk memberi ceramah keagamaan di sekitar lingkungannya. Selain belajar di Sekolah Rakyat ia mengaji dibeberapa tempat yang tidak jauh dari rumahnya, Setelah itu, ia bersama adiknya masuk Pesantren Cipasung asuhan  K.H. Ruhiyat. Di tempat inilah untuk pertama kalinya ia mendalami berbagai ilmu agama secara serius. Kitab-kitab fikih, usul fikih, tauhid, tata bahasa Arab, mantiq, tafsir, hadis dan kitab-kitab kuning lainnya ia pelajari dengan seksama.

Nonoh merupakan santri yang berprestasi, dan termasuk paling menonjol dari santri-santri lainnya. Ini bisa dilihat dari keberhasilannya memenangkan sebuah perlombaan membaca kitab dan mubalighah. Melihat potensi besar yang dimilikinya, K.H. Ruhiyat mengangkat Nonoh menjadi asisten. Bersama K.H. Ilyas Ruhiyat, putra K.H. Ruhiyat, akhirnya Nonoh menjadi staf pengajar di pesantren Cipasung.

Nyai Hj.Nonoh Hasanah

Besarnya pengabdian dan dedikasi Nonoh  kepada guru dan almamaternya menjadikan dirinya salah satu santri putri yang dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Cipasung. Setelah delapan  tahun menuntut ilmu di Cipasung dan mengabdikan diri di sana, sang guru yang sudah menganggap Nonoh sebagai anak sendiri itu, menjodohkannya dengan seorang pemuda  yang juga santri di Cipasung. Ya, Ahmad Dimyati dari Cintapada tadi. Sebuah kampung di Desa Setia Negara, Kecamatan Cibeurem, Tasikmalaya, sekitar lima kilometer dari pusat kota.

Menjelang wafatnya, Nonoh Hasanah  pernah mengungkapkan keinginannya untuk menggenapkan  jumlah gurunya menjadi 40 orang. Dia memang mempunyai semangat yang tinggi untuk  tetap mencari ilmu di sela aktivitas kesehariannya yang padat. Sayangnya, perempuan yang tidak dikaruniai keturunan ini wafat  pada 20 November 1986. Ketika dia wafat jumlah santrinya sekitar 450 orang. Sebagian besar santri berasal dari Jawa Barat, ada juga dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Medan, dan Kalimantan. Dan inilah yang membanggakan: terdapat lebih  dari 40 pesantren yang tersebar di Jawa Barat, yang didirikan oleh alumni Pondok Pesantren Putri Cintapada, baik yang khusus putri maupun pesantren putra–putri.

Kaum perempauan memang harus memiliki pendidikan yang bagus, dan untuk itu Hj. Nonoh Hasanah mendirikan pesantren khusus putri. Dan bukankah, seperti kata orang, perempuan adalah madrasah pertama bagi pendidikan anak-anak?   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda