Aktualita

Jika Padi Berganti Strawberry

Dalam ekonomi hukum supply and demand (permintaan dan penawaran) bukan hanya berlaku di sektor moderen, tapi juga  di pertanian. Petani hanya akan menanam komoditi yang laku diperdagangkan. Masyarakat Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat, menjadi contoh petani peka merespon keadaan dengan menanam hasil-hasil pertanian yang laku dijual.

Membandingkan  dengan situasi tahun 70-an, banyak perubahan yang terjadi terkait cara petani memanfaatkan lahannya. Seingat  saya dulu, petani tidak terlalu  memikirkan segi komersial dalam menentukan pilihan tanamannya. Mereka kebanyakan hanya  menanam padi untuk memenuhi  kebutuhan hidup.  Adalah pemandangan yang umum bila kita menyusuri kampung yang terlihat hanya tanaman padi yang sedang menghijau dan  menguning. Atau sawah yang baru ditanam dengan air yang menggenang dengan bibit padi yang baru ditanam.

Juga pemandangan yang umum saya melihat di halaman rumah orang menjemur padi dan ibu-ibu menjaganya agar tidak dimakan ayam. Demikian juga dalam setiap rumah ada ruangan tempat menyimpan padi yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan.

Kini , pemandangan itu sudah sangat langka. Meski ada satu dua saya melihat padi menghampar dan persawahan, sudah sangat jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu saya melihat setiap kepala keluarga memenuhi kebutuhan beras dari hasil panen penanaman padi yang dilakukannya, kini saya mendengar banyak keluarga tidak lagi memenuhi kebutuhan beras dari hasil panen padi yang dilakukan, melainkan cukup membeli beras saja di pasar. Mereka tidak lagi mau repot-repot dengan bersawah dan menanam padi.

Memang menjelang tahun 80-an atau diakhir-akhir tahun 70-an, sudah ada  kecenderungan  petani menanam komoditi hasil pertanian yang laku di pasaran, namun itu tidak menafikan mereka untuk menanam padi sebagai tanaman utama atau tanaman pokok. Tanaman lain di luar padi hanya bersifat pelengkap dan penambah saja. Saya masih ingat di tahun 70-an itu masyarakat sebagian  sedang cenderung menanam kentang dan tebu. Karena ada permintaan yang tumbuh dari pelaku pasar, namun tidak seluruh masyarakat melakukan konversi atau berpindah ke tanaman muda. Padi tetap tanaman unggulan, dan masyarakat Balingka tetap dapat memenuhi kebutuhan beras dari hasil tanaman padi.

Suasana sekarang ini tampaknya sudah berubah hampir 90 persen  Ini terlihat minat untuk menanam padi makin merosot, bahkan cenderung makin hilang dan tidak bergairah. Seorang keluarga petani menceritakan, kendalanya adalah sering biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah tanaman padi tidak sebanding dengan hasilnya, seperti membeli pupuk, tenaga, upah buruh tani, biaya pengangkutan dan lainnya. Selain itu dirasakan kebutuhan air juga semakin sulit untuk pengairan sawah.

Kendala di atas yang menyebabkan animo untuk bersawah dan menanam padi makin melempem. Hal ini tentu ditambah pula, kebutuhan masyarakat Balingka sekarang ini makin besar seperti bertambahnya keluarga, kebutuhan biaya pendidikan anak, dan tentu juga hal-hal yang bersifat konsumtif seperti keinginan untuk membeli perangkat komunikasi seperti ponsel dan lainnya, yang dalam  kondisi sekarang sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa lagi ditawar.

Faktor di atas kiranya bisa diduga yang menyebabkan masyarakat Balingka menggebu-gebu banyak beralih dan  terpicu menanam tanaman muda seperti cabe, kacang buncis, loba, wortel, dan bahkan akhir -akhir ini menanam strawberry dan jeruk. Dua jenis  tanaman terakhir ini bukan hanya untuk merespon  kebutuhan pasar untuk konsumsi, tetapi dengan mensetting untuk kebutuhan minat baru, yaitu sebagai kegiatan wisata. Tampaknya, hal ini cukup prospektif dan mulai banyak peminatnya. Strawberry, misalnya, pemasarannya sampai ke Pekanbaru, Parisman, Pasanan, Pasaman, Batusangkar dan Jambi.

Dikaitkan dengan wisata, hal  ini tentu saja mengingat keindahan alam Balingka yang sejuk dan baik untuk wisatawan. Apalagi selama ini sudah berjalan pula wisata pendakian Gunung Singgalang yang di puncaknya terdapat Telaga Dewi, memiliki air yang jernih dan banyak didatangi wisatawan lokal dari beberapa daerah. Di Balingka sekarang ini juga sudah dibangun wisata pemandangan alam Bukit Gambuang yang terdapat di Jorong Subarang, dan Mato Aia Pinsi yang merupakan pemandian umum terdapat di Koto Hilalang.

Kebun Jeruk di Balingka yang sekarang jadi salah satu primadona produk pertanian di kaki Gunung Singgalang

Tanaman muda yang dominan dilakukan masyarakat Balingka sekarang ini adalah cabe. Disamping permintaan cukup besar juga harganya cukup baik, kadang bisa mencapai Rp 80.ribu per-kilogram hingga Rp 100 ribu. Jika harga sedang tinggi dan bagus, maka petani merasakan kepuasan dengan hasil jerih payahnya  Namun, harga ini bersifat fluktuatif. Bahkan, bisa mencapai Rp 20 000 per-kilo gram  Jika harga jatuh seperti ini maka pulang modal saja sudah bagus. Harga bisa jatuh kalau cabe dari daerah lain masuk ke  pasar Bukittinggi.

Penanaman cabe memang butuh modal yang besar, porsi paling tinggi untuk biaya insektisida, apalagi di musim hujan, perlu menyemprot beberapa kali. Yang terbaik dalam penanaman cabe ini adalah memiliki beberapa bidang sehingga bisa di panen dalam waktu berbeda-beda. Ini maksudnya  untuk petani selalu siap, sehingga ketika harga sedang baik petani punya stok yang  mau dijual.

Cabe saat ini menjadi tanaman budidaya favorit. Harganya yang relatif tinggi membuat petani berlomba menanamnya termasuk di Balingka

Peralihan petani pada tanaman muda yang memenuhi permintaan pasar mendorong masyarakat menjadi kreatif.  Selalu melihat peluang-peluang baru yang bisa dikembangkan  Contohnya, dulu masyarakat tidak terpikirkan menanam loba (kol),buncis dan wortel untuk komoditis bisnis, sekarang justru ditanam untuk dijual. Demikian juga penanaman strawberry dan jeruk, yang sekarang ini dikaitkan dengan wisata, merupakan terobosan yang  patut diapresiasi.

Ini menunjukkan adanya semangat inovatif di kalangan petani Balingka. Dalam hal ini tampaknya perlu dukungan dan support dari pemerintah, baik bersifat bantuan modal maupun mendukung upaya pemasaran sehingga hasil kerja petani tidak sia-sia.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda