Cakrawala

Agama Itu Mudah dan Memudahkan

Written by Iqbal Setyarso

Islam menunjukkan bahwa melakukan hal yang mudah dan ringan lebih dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. “…yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul ‘usra…” (Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…) (QS al-Baqarah: 185).

“Yuridullahu an yukhaffif ‘ankum, wakhuliqal insanu dha’ifan.” (Allah hendak memberikan  keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah) (an-Nisa’: 28).

“Ma yuridullahu liyaj’ala ‘alaikum min harajin…” (Allah tidak hendak menyulitkan kamu…) (QS. Al-Maidah: 6).

Dalil-dalil tadi diikuti sabda Rasulullah saw. Beliau bersabda,” Sebaik-baik agamamu ialah yang paling mudah darinya.” Pada hadis yang lain diriwayatkan, Nabi juga bersabda,”Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang benar dan toleran.”

Aisyah radiyallahu anhu berkata,” Rasulullah saw tidak diberi pilihan terhadap dua perkara kecuali dia mengambil yang paling mudah diantara keduanya selama hal itu tidak berdosa. Jika hal itu termasuk dosa maka ia adalah orang yang paling awal menjauhinya.”

Nabi saw bersabda,” Sesungguhnya Allah menyukai bila keringanan yang diberikan oleh-Nya dilaksanakan, sebagaimana Dia membenci kemaksiatan kepada-Nya.”

Keringanan (rukhshah) itu mesti dilakukan, dan kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT harus dipilih, apabila ada kondisi yang memungkinkannya untuk melakukan itu. Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah saw sedang dalam suatu perjalanan, kemudian beliau menyaksikan orang ramai mengerumuni seorang lelaki yang dipayungi, kemudian beliau bersabda,” Apa ini? Mereka menjawab,” Dia berpuasa.” Beliau kemudian bersabda,” Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.”

Hal itu dimaksudkan, di dalam perjalanan yang amat menyulitkan ini, Nabi bersabda, beliau membolehkan seseorang tidak berpuasa; berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami pernah berkata kepada Nabi saw: “Apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan?” Hamzah adalah orang yang sering melaksanakan puasa. Karenanya Nabi saw bersabda,” Jika kamu mau, maka berpuasalah, dan jika kamu mau berbukalah.”

Khalifah Umar bin Abdul  Azis pernah berkata mengenai puasa dan berbuka di dalam perjalanan, juga tentang perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan fuqaha, di manakah di antara kedua hal itu yang paling baik. Dia berkata,” Yang paling baik ialah yang paling mudah di antara keduanya.” Hal itu merupakan pendapat yang boleh diterima. Di antara manusia ada yang melaksanakan puasa itu lebih mudah daripada harus membayar hutang puasa itu ketika orang-orang sedang tidak berpuasa semua.

Nabi saw pernah mengutus Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman sambil memberikan wasiat kepada mereka, “Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah sesuatu yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari; berbuatlah sesuatu yang baik.”

Diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya ketika aku sudah memulai salat, aku ingin memanjangkan bacaannya, kemudian aku mendengar suara tangisan anak kecil, maka aku percepat salatku, karena aku  mengetahui susahnya sang ibu bila anaknya menangis.” Sahabat Nabi saw lainnya, Abu Harairah radiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Nabi pernah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu menjadi imam salat maka hendaklah ia memperingan bacaan salatnya karena di antara mereka ada orang yang sakit, lemah dan tua. Namun bila dia salat sendirian, maka hendaklah dia memperpanjang salatnya sesuai dengan kemauannya.”

Ibadah yang paling utama ialah bekerja untuk memperoleh ridha Allah setiap waktu, dengan melihat keperluan yang mendesak pada waktu itu. Sesuai prioritas hukum yang mengaturnya. Oleh sebab itu, ibadah yang paling utama adalah waktu perjuangan adalah berjuang, walau ia harus meninggalkan wirid salat malam dan puasa sunnah; dan bahkan menunda salat fardhu kalau keadaan sedang tidak aman.

Yang paling utama, kalau kita kedangan seorang tamu, kita harus menghormatinya, dan menyibukkan diri dalam menyambutnya. Walaupun untuk itu kita harus meninggalkan wirid sunnah.

Begitu pula dalam memberikan layanan terhadap suami-istri dan keluarga. Ibadah yang paling utama pada waktu sahur ialah salat dan membaca al-Quran, berdoa, berdzikir dan beristighfar. Ibadah yang paling utama pada waktu salat fardu yang lima ialah bersungguh-sungguh melaksanakannya sesempurna mungkin.

Lalu, pada waktu tenaga dan harta kita sangat diperlukan, maka kita harus mempersiapkan pemberian bantuan itu, dan lebih mendahulukan pekerjaan ini daripada membaca wirid dan berkhalwat.

Amalan yang paling utama ketika sedang berwukuf di Arafah ialah bersungguh-sungguh merendahkan hati, berdoa dan berdzikir kepada Allah, tanpa harus melaksanakan puasa yang dapat melemahkan tubuh kita ketika itu.

Amalan yang paling utama saat teman kita sakit atau meninggal dunia ialah menjenguknya, dan mengantarkan jenazahnya ke pemakaman, itu lebih utama dikerjakan.

Maka menyembah Allah SWT bukan hanya dengan satu bentuk saja. Dia senantiasa berpindah-pindah dalam tingkatan ibadah, setiap kali ada kesempatan baginya untuk meningkatkan taraf ibadahnya. Dan seseorang akan memusatkan perhatiannya kepada  amalan yang sedang dihadapinya di mana pun dia berada sampai tampak ada tingkatan lain yang lebih tinggi. Dia harus meningkat sehingga berakhir perjalanan hidupnya.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda