Mutiara

Ulama Moderat yang Berani Melawan Arus

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Hasbiyallah, ulama moderat dan  tajir dari Betawi yang juga jago ilmu bela diri. Siapa ulama yang jadi kadernya?

Tidak sedikit ulama yang bersikap keras dan hitam putih  dalam menghadapi modernisasi dan perubahan politik. Dalam menghadapi situasi semacam itu pada umumnya mereka mengeluarkan fatwa  haram. Sebagai contoh, pada suatu masa sebagian ulama pernah mengharamkan pakai dasi karena hal itu menyerupai pakaian orang kafir, termasuk menjadi pegawai pemerintah. Namun ada pula ulama yang bersikap moderat dalam menghadapi perubahan-perubahan zaman, yang terjadi dalam pelbagai sektor kehidupan. Pada abad ke-20, di antara ulama yang bersikap moderat itu adalah KH Hasbiyallah, ulama asal Betawi, pendiri Perguruan Islam Al-Wathoniyah, Klender, Jakarta Timur.     

K.H. Hasbiyallah memang dikenal ulama yang moderat pada zamannya. Ketika K.H. Zayadi Muhajir (yang kemudian hari menjadi menantunya) mengharamkan menonton televisi  dan mendengarkan radio, ia tidak mengharamkannya, bahkan sesekali ia menonton pertandingan sepak bola dan tinju di televisi. Sikap moderat K.H. Hasbiyallah juga ditunjukkan dalam buku Penolakan Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang.

Buku itu merupakan tulisan penolakan K.H. Hasbiyallah dan Habib Salim bin Jindan atas keputusan Muktamar Alim Ulama di Palembang pada 11 September 1957 yang mengharamkan kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional yang terdiri dari berbagai macam aliran partai politik, seperti aliran agama, nasionalis,  sosialis, dan komunis. Menurut K.H. Hasbiyallah, Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional adalah hukumnya mubah saja karena hanya bertujuan demi kepentingan dan kemaslahatan masyarakat umum dalam negara RI. Tidak ada alasan mengharamkan kecuali ada alasan dalil Alquran, hadis dan ijmak ulama. Selain menunjukkan sikap moderat, tulisan tersebut membuktikan bahwa K.H. Hasbiyallah merupakan  ulama yang berani melawan arus dan tampil beda dengan yang lain. Karakter tersebut yang menyebabkan banyak muridnya yang ingin memperdalam ilmu mereka kepada K.H. Hasbiyallah.

Ia selalu berpesan kepada murid-muridnya agar membangun madrasah di daerah masing-masing.   “Bikin madrasah di rumah luh, walau dari tiang atau kayu kedongdong. Beri nama Wathoniyah,” pesannya. Berangkat dari pesan tersebut kini perguruan Al-Wathoniyah memiliki 61 cabang yang didirikan oleh murid-muridnya. Murid-murid K.H. Hasbiyallah yang menjadi ulama Betawi terkemuka antara lain K.H. Muhajirin Amsar Ad-Dary, K.H. Abdul Rasyid Ramli dan K.H. Ahmad Sodri dan lain-lain.

Pada waktu  Hasbiyallah mendirikan  Al-Wathoniyah, konon dia didatangi gerombolan  perampok yang meminta sejumlah harta. Mereka rupanya mengerahui bahwa Hasbiyallah adalah ulama kaya. Selain banyak ikut mendirikan masjid di berbagai tempat, ia suka menyantuni kaum duafa. Namun, berkat doa dan bantuan Allah, para  perampok itu tidak berani mengambil uang Kiai Hasbiyallah, yang sesungguhmya jga menguasai ilmu bela diri,

Hasbiyallah lahir di Klender, Jakarta Timur,  29 Oktober 1913. Ia putra kedua dari pasangan K.H. Anwar bin H. Abdurrahim bin Ali Basa bin Jamaludin dengan Hj. Mamnin binti Ja’man bin Supariman. Ayahnya dikenal dengan panggilan Guru Gayar

Mula-mula ia belajar agama kepada ayahnya.  Namun karena ayahnya sibuk berdagang, ia ia diserahkan kepada KH Ahmad Marzuki atau Guru Marzuqi di Cipinang Muara. H. Gayar berkata kepada Guru Marzuqi, “Gua ama Said banyak ngurus dagang, ngajarnya kagak kayak elu. Elu aja yang jadi ulama. Kalo kita jadi ulama bertiga, entar kita pada berebutan berkat.” Sejak itu Hasbiyallah belajar kepada Guru Marzuqi untuk memperdalam kitab kuning sampai Guru Marzuqi wafat tahun 1934. Selanjutnya Hasbiyallah melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang diasuh K.H. Abbas untuk mempelajari qiraat sab’ah.

Hasbiyallah juga mengaji kepada Guru Muhammad Thohir Cipinang Muara (menantu Guru Marzuqi), Guru Khalid Gondangdia, Guru Majid Pekojan, Guru Babah, Habib Ali Al-Habsyi Kwitang dan Habib Ali Al-Attas Bungur. Kemudian ia menyusul kakaknya K.H. Hasbullah untuk meneruskan pendidikannya di Mekah. Di Mekah, ia mengaji kepada beberapa ulama terkemuka, di antaranya Syekh Ali Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, Syekh Hasan Al-Masysyath, Syekh Ali Al-Yamani, Syekh Zakariya Bila, Syekh Ahmad Fathoni dan Syekh Umar At-Turki.

Di antara karya tulisnya adalahr buku yang judul Risalah Kaifiyah Sembahyang Tarawih, Pedoman Ziyarah Kubur, Sholat Al- ‘Aidain dan Penolakan Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang. Ia kerapkali menjadi rujukan dan pendapat para ulama Betawi seperti K.H. Abdurrahman Nawi (Pendiri Perguruan Al-Awwabin) yang meminta K.H. Hasbiyallah untuk mentashih risalah karangannya yang berjudul Manasik Haji.  

KH. Hasbiyallah wafat pada 18 Februari 1982, dan dimakamkan di kompleka Masjid Al-Makmur Klender Jakarta Timur. Di antara peninggalan K.H. Hasbiyallah adalah Perguruan Islam Al-Wathoniyah Pusat yang berdiri tahun 1935, di Jalan Bekasi Timur, Klender Jakarta Timur. Pengelolaan pesantren tersebut diteruskan anak-anaknya.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda