Mutiara

Ketika Sakratulmaut Menjemput Nabi

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Engkau harum sewaktu hidup dan ketika mati. Engkau samakan derajat manusia, sehingga melalui dirimu kami semua menjadi setara. Semoga Allah melimpahkan ramat-Nya kepadamu. Simpanlah kami dalam ingatanmu.

Dia datang bersimbah air mata. Gerahamnya gemeretak. Dipeluknya jasad itu. Ia cium kening dan pipinya. “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Juga aku dan keluargaku,” katanya dalam tangis. “Engkau harum sewaktu hidup dan ketika mati. Engkau samakan derajat manusia, sehingga melalui dirimu kami semua menjadi setara. Semoga Allah melimpahkan ramat-Nya kepadamu. Simpanlah kami dalam ingatanmu.”

Lalu dia keluar menemui orang banyak. “Wahai manusia. Barangsiapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, Allah mahahidup dan tak pernah mati.”  Dia juga berpesan, mereka semua sudah dibekali Kitab dan sunnah nabi-Nya, dan kudu berpegang pada keduanya jika tidak hendak tersesat. Dikutipnya pula sebuah ayat:  “Wahai orang yang beriman. Jadikan dirimu penegak keadilan yang sesungguhnya.” (Q. S 4:135).

Yang mengatakan itu Abu Bakr.  Berkata Ibn Abbas: “Ketika Abu Bakr r.a. selesai berbicara, dia berkata: ‘Umar, aku mendengar kau mengatakan Rasulullah tidak mati.’ Dan Umar pun berkata: ‘Demi Allah, sungguh seakan-akan aku tidak pernah mendengar ayat itu karena beratnya musibah yang kami rasakan’. Kemudian dia duduk di sisi Abu Bakr.”

Syahdan, di hari panas 8 Juni 632 itu, Rasul minta disediakan kendi berisi air dingin. Ia mencelupkan tangan ke dalam bejana itu, lalu mengusapkan air ke wajahnya. Seorang lelaki dari keluarga Abu Bakr datang ke tempat Aisyah membawa siwak. Nabi rupanya menginginkannya. Aisyah lalu mengambil benda itu dari kerabatnya tadi, mengunyah ujungnya sedikit agar lunak, dan memberikannya kepada Nabi. Muhammad s.a.w. kemudian menggosok giginya. “Allahumma ya Allah. Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini,” kata Nabi kemudian dalam doanya.

“Terasa olehku, Rasulullah sudah memberat di pangkuanku,”  tutur Aisyah kemudian. “Aku perhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas, seraya berkata, ‘Ya  Rafiqal A’la (Handai tertinggi, dalam terjemahan Ali Audah, Hayatu Muhammad, karya Haekal) di surga.’ Kataku, ‘Engkau sudah dipilih, maka engkau pun telah memilih.’ Maka Rasulullah pun berpulang , sambil bersandar antara dada dan leherku… Kemudian kuletakkan kepalanya di bantal.”

Nabi wafat Senin menjelang tengah hari. Dan, Abu Bakr termasuk segelintir orang, di antaranya Al-Abbas, yang berpikir waras ketika mendengar kabar  yang, dilukiskan Aisyah, membuat orang merasa bagai disambar petir. Umar jelas menolak kenyataan itu, yang katanya akan membuat kaum munafik berjingkrak. Bahkan saking emosionalnya ia mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah mati.

Adapun Ali ibn Abi Thalib, dia tidak mampu berjalan – mengurung diri di rumah. Sedangkan Utsman ibn Affan menolak bicara dengan siapa pun, dan orang menuntunnya ke sana kemari bak orang limbung. Yang lainnya merancau, mengeluarkan ucapan-ucapan kacau tanpa makna.

Dan, lagi-lagi, kelak Abu Bakr-lah, di antara Khulafaur Rasyidun, yag bertemu ajal secara wajar. Umar, Utsman, dan Ali, kita tahu, tewas dibunuh. Konon, ketika Abu Bakr menjelang wafatnya, Aisyah berucap, “Demi hidupmu. Tak berguna lagi harta benda bagi manusia. Ketika dia merasakan sakratulmaut, dan rongga dadanya tersekat.”

“Jangan bicara begitu, Putriku,”  ujar sang khalifah. “Katakan saja, ‘Dan sakratulmaut telah datang dengan sebenarnya. Inilah yang dahulu kamu jauhi.’(Q. S 50:19). Ingatlah dua potong pakaianku ini (pakaian lama; red). Cucilah, dan kafani aku dengan keduanya. Sebab yang hidup lebih membutuhkan barang yang baru ketimbang yang mati.”

“Betapa banyak wajah kian memutih. Sehingga matahari mengiranya awan. Dialah musim semi bagi si yatim,” Aisyah bersyair.“Itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” si ayah membalas

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda