Cakrawala

Islam dan Budaya Jawa (2) Sunan Bonang, Berdakwah Dengan Mengembangkan Budaya Jawa

Written by B.Wiwoho

Kembali kepada cerita rakyat, setelah beberapa tahun di Campa dan menikah dengan putri bangsawan Campa, kakak beradik dengan Putri Campa istri Raja Brawijaya – Majapahit, serta memiliki 2 putra, beliau kembali dan menetap di Jawa. Berdagang sebagai sumber beaya hidup dan mengajarkan budidaya bercocok tanam plus pengobatan sebagai media dakwahnya, Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai pandhita atau pendeta sakti dari aliran Muhammad. Gelar pendeta pada masa itu lazim diberikan kepada tokoh dan pemuka agama.  Masyarakat menggelarinya dengan nama lengkap Syekh Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi, yaitu Sjekh yang berasal dari Samarkand (as-Samarqandy), yang kini makamnya ada di daerah Gisikharja, Tuban, Jawa Timur.

Begitu beranjak dewasa, kedua putra beliau kemudian juga menyusul ke Jawa. Salah seorang yang lahir di tahun 1401 M dan bernama Campa, Bong Swi Hoo, memperoleh nama dan gelar bangsawan Majapahit menjadi Raden Rahmat, serta mendapat ijin untuk berdakwah dan bertempat tinggal di daerah Ampel Denta. Oleh masyarakat selanjutnya beliau dipanggil sebagai Pandhita Ampel, dan kemudian berubah menjadi Sunan Ampel. Sedangkan kakaknya mendapat tugas di Gresik dengan gelar Raja Pandhita Ali Murtadho. Sampai di bagian ini, kedua versi cerita tadi bertemu.

Sunan Ampel memiliki beberapa orang putera-puteri, salah satu diantaranya bernama Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Ada sejumlah versi tentang asal muasal nama Bonang. Dua yang paling banyak disebut  adalah dari asal Bong Ang sesuai nama Campa ayahnya, dan satu lagi dari  bahasa Cina, Bun Ang, yaitu sebuah buku tebal (Bun) yang dibungkus kain merah (Ang), yang tak lain adalah Al Qur’an. Mana yang betul, waallahua’lam.

Yang justru menarik untuk dijadikan sari tauladan adalah cara berdakwah Sunan Bonang, yang menggunakan metode komunikasi yang tepat guna.  Karena yang dihadapi adalah masyarakat yang memeluk Hindu-Budha atau Syiwa – Budha, beliau menyusupkan nilai-nilai keislaman ke dalam adat-istiadat dan budaya tanpa harus menimbulkan gejolak. Karena yang dihadapi adalah masyarakat yang percaya kepada hal-hal mistis dan supranatural, maka beliau mengajarkan tasawuf terlebih dulu baru menyusul syariat. Guna menarik perhatian masyarakat yang menyenangi seni-budaya, beliau membaur, mempelajari seni-budaya lokal dan bahkan mengembangkannya dengan menciptakan perangkat-perangkat musik atau gamelan dengan tembang-tembang Jawa yang merdu mempesona. Dakwah-dakwah selanjutnya disampaikan dengan cara menembang (bersenandung merdu), melalui Suluk-Suluk, jalan menuju keimanan dan ketuhanan, sehingga rakyat senang mendengarnya.

Menurut Prof.Dr.Abdul Hadi WM, cendekiawan muslim masa kini keturunan Tionghoa kelahiran Madura dalam “Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Suluk,1993, Sunan Bonang menyakini agama apapun termasuk Islam, dapat tersebar cepat dan mudah diserap oleh masyarakat apabila unsur-unsur penting budaya masyarakat setempat bisa diserap serta diintegrasikan ke dalam sistem nilai dan pandangan hidup beragama yang bersangkutan. Sedangkan mengenai tasawuf yang diajarkan Sunan Bonang, pada hemat Abdul Hadi adalah penghayatan tasawuf dengan menekankan pentingnya ikhtiar dan kemauan dalam mencapai cita-cita (tulisan-tulisan Abdul Hadi WM tentang Sunan Bonang banyak dijumpai di internet antara lain di http://setyodh.wordpress.com, Learner’s Digest dalam zkarnain.wordpress.com dan Edisi Khusus Lebaran, Gatra no.05 – 06, Kamis 13 Desember 2001).

Demikianlah, Sunan Bonang sukses mengislamkan masyarakat Jawa secara halus, bukan dengan pedang dan menumpahkan darah, melainkan dengan sentuhan lembut, menyusup dalam menghuni relung hati masyarakat. Itu semua tentu tidak terjadi secara instan, melainkan menuntut kerja keras, ketekunan, kerendahan hati, pengorbanan tinggi dan hidayah. Semoga beliau bahagia dengan derajat mulia di sisi-Nya, dan kita para cicit muridnya dianugerahi kemampuan meneladaninya serta meneruskan perjuangan mulianya. Amin. Bersambung

(Dari kumpulan tulisan B.Wiwoho: Orang Jawa Belajar Mengenal Gusti Allah)

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka